Wowor, Alter Imanuel
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

MULTI-OIKOS DALAM ULTIMATE OIKOS: RELASI INNER LIFE ALLAH SEBAGAI BASIS KONSTRUKSI HOME Wowor, Alter Imanuel; Rampengan, Priscila Feibe; Sianturi, RJ Natongam; Toisuta, Fiona Anggraini
Manna Rafflesia Vol. 10 No. 2 (2024): April
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38091/man_raf.v10i2.430

Abstract

Ketidakmampuan nalar manusia untuk memahami secara utuh tentang dirinya sendiri dan berbagai hal yang berada di dalam alam semesta ini merupakan suatu kenyataan atas natur manusia sebagai makhluk yang terbatas atau tidak sempurna. Dalam rangka menjembatani kesenjangan atau keterbatasan nalarnya, manusia cenderung menggunakan metafora untuk menjelaskan berbagai hal yang dirasa asing atau sulit untuk dipahami secara komprehensif. Pada dasarnya, metafora ini sendiri merupakan salah satu instrumen untuk berteologi. Menggunakan pendekatan metafora untuk memandang keberadaan multi-oikos dapat membuat seorang teolog menemukan atau merumuskan berbagai gagasan teologis yang segar dan relevan dalam berbagai konteks. Penelitian ini sendiri dikerjakan dengan menggunakan pendekatan kualitatif, secara khusus lewat bantuan studi pustaka. Lewat pendekatan teologi konstruktif, artikel ini menegaskan bahwa gagasan Allah sebagai The Ultimate Oikos merupakan dasar untuk memaknai oikos dalam berbagai varian skala dan bentuknya. Selain itu, dengan menggunakan lensa Trinitas sebagai basis teologis, artikel ini membahas tentang relasi (being) dan aksi (doing) dari ketiga pribadi Allah yang harus dimaknai secara simultan dalam rangka menjadi fundamen atas nilai-nilai esensial dari oikos. Dengan demikian, artikel ini menawarkan suatu paradigma kreatif dan imajinatif untuk mengonstruksi suatu teologi multi-oikos sebagai basis dalam berteologi. Artikel ini diakhiri dengan suatu refleksi yang memperlihatkan bahwa seorang teolog perlu memiliki kesadaran dan kepekaan untuk mempertimbangkan keberadaan multi-oikos dalam aktivitas berteologinya.
Eksistensi Gereja Protestan Maluku sebagai Gereja Orang Basudara: Sebuah tawaran model misi gereja dalam konteks masyarakat plural Toisuta, Fiona Anggraini; Sianturi, R. J. Natongam; Wowor, Alter Imanuel
KURIOS Vol. 10 No. 1: April 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i1.989

Abstract

The pluralistic life of Indonesian society and memories of religious conflict, especially in Maluku, has greatly influenced the journey of the Maluku Protestant Church (Gereja Protestan Maluku) so that it calls itself Gereja Orang Basudara. The philosophy of Orang Basudara emerged within GPM to fight for the mission of peace amid the contestation of religious life after the 1999 conflict in Maluku, which left trauma and wounds. Through Alan Rathe's approach regarding participation in ecclesiastical liturgy towards the existence of Gereja Orang Basudara, we examine this article using Joas Adiprasetya's idea of diaclesia to propose a mission of generous hospitality for the GPM's missioecclesiae in a diverse and pluralistic public space with memories of conflicts that have occurred. AbstrakKehidupan Masyarakat Indonesia yang plural dan kenangan konflik beragamanya, terkhusus di Maluku sangat memengaruhi perjalanan Gereja Protestan Maluku (GPM) sehingga menamakan dirinya Gereja orang basudara. Falsafah hidup orang basudara ini menumbuh dalam diri GPM untuk memperjuangkan misi perdamaian di Tengah-tengah kontestasi kehidupan beragama pascakonflik tahun 1999 di Maluku yang menyisakan trauma dan luka. Melalui pendekatan Alan Rathe tentang partisi-pasi dalam liturgi gerejawi terhadap eksistensi Gereja orang basudara, maka artikel ini kami kaji dan uji menggunakan gagasan diaklesia Joas Adiprasetya untuk mengupayakan usulan misi hospitalitas kemurahatian demi mission ecclesiae GPM di ruang public yang majemuk dan plural dengan kenangan konflik yang pernah terjadi.
Memaknai politik dalam dua matra A. A. Yewangoe: Suatu basis teologis bagi keterlibatan gereja dalam dunia politik di Indonesia Wowor, Alter Imanuel
KURIOS Vol. 9 No. 3: Desember 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i3.804

Abstract

Discussions about political theology in Indonesia became increasingly popular after the reformation events. The pros and cons regarding the church's involvement in various political affairs seem to be a hot issue that continues to emerge in various political events in Indonesia. The lack of uniform attitudes and interpretations of the many churches in Indonesia regarding what politics is, how churches do politics, and the relationship between politics and the church makes this problem even more complicated. This research aims to produce a study that can be used as a reference or on a theological basis regarding the issue of church involvement in politics in the Indonesian context based on a review of Andreas Anangguru Yewangoe's thoughts. The research method used in this research is descriptive analysis with a literature study approach. The thesis is that the church's involvement in politics is a response to a divine call and is not facultative. The Gospel is an "entry point" or basis for the church's political involvement. Thus, politics should not be considered taboo, dirty, or foreign to the Christian community.AbstrakPembicaraan mengenai teologi politik di Indonesia semakin ramai pascaperistiwa reformasi. Sikap pro-kontra terkait keterlibatan gereja dalam berbagai urusan politik seakan menjadi isu hangat yang terus muncul dalam berbagai peristiwa politik yang terjadi di Indonesia. Tidak adanya kesamaan sikap dan tafsiran dari banyaknya gereja-gereja di Indonesia terhadap apa itu politik, bagaimana gereja berpolitik, serta apa hubungan antara politik dengan gereja menjadikan permasalahan ini menjadi semakin rumit. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghasilkan suatu kajian yang bisa dijadikan referensi atau basis teologis berkaitan dengan isu keterlibatan gereja dalam dunia politik pada konteks Indonesia berdasarkan ulasan atas pemikiran Andreas Anangguru Yewangoe. Metode penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif dengan pendekatan studi pustaka. Artikel ini mengajukan tesis bahwa keterlibatan gereja dalam dunia politik merupakan suatu tanggapan atas panggilan ilahi, dan bukanlah sesuatu yang fakultatif sifatnya. Injil merupakan salah sebuah “entry point” atau basis dari keterlibatan gereja dalam dunia politik. Dengan demikian, politik tidak boleh dipahami sebagai sesuatu yang tabu, kotor, atau asing bagi komunitas umat Kristen.