Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Perbandingan Kadar Fenolik Total Dalam Minyak Atsiri dan Ekstrak Etanol Bunga Lawang (Illicium verum) Kusumiati, Marna; Angeline, Ellsya
Media Farmasi Indonesia Vol. 17 No. 2 (2022): Media Farmasi Indonesia
Publisher : SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI YAYASAN PHARMASI SEMARANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53359/mfi.v17i2.205

Abstract

Bunga lawang (Illicium verum) merupakan tanaman obat yang memiliki aktivitas farmakologi seperti antioksidan, antimikroba, antijamur, antikanker, antiinflamasi, antiserangga, dan antidiare. Namun, belum pernah dilakukan perbandingan kadar fenolik total dari minyak atsiri dan ekstrak etanol dari bunga lawang. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kadar fenolik total dalam minyak atsiri dan ekstrak etanol bunga lawang. Minyak atsiri didapatkan dari destilasi air selama 1,5 jam sedangkan ekstrak etanol didapatkan dengan maserasi selama 48 jam dengan etanol 96% kemudian disaring dan diuapkan dengan rotary evaporator sehingga mendapatkan ekstrak kental. Penetapan kadar fenolik total dilakukan dengan spektrofotometri uv-vis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar fenolik total yang lebih tinggi terdapat dalam minyak yaitu sebesar 40,53 mg/g, sedangkan dalam ekstrak sebesar 30,42 mg/g.
Evaluasi Drug Related Problems (DRPS) Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe II dengan Komplikasi Penyakit Ginjal Kronik di RS X Yogyakarta Kusumiati, Marna; Atmaja, Sarah Puspita; Murdiana, Happy Elda
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 4, No 2 (2024): Volume 4 Nomor 2 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v4i2.13381

Abstract

ABSTRACT The prevalence of Diabetes Mellitus (DM) sufferers increases every year, especially type 2 DM, because this often causes complications and even death. Type 2 diabetes mellitus has a major impact on the development of chronic kidney disease (CKD), based on uncontrolled type 2 diabetes over a long period of time. Achieving maximum therapeutic effects with minimal side effects is one of the responsibilities of pharmaceutical care, one of which is identifying the occurrence of Drug Related Problems (DRPs). The aim of this study was to evaluate DRPs in Type 2 DM patients with CKD complications at RS x Yogyakarta as evaluation material in handling the incidence of DRPs in type 2 DM patients with CKD complications. The method in this research is descriptive quantitative with data collection using a total sampling technique on retrospective data from medical record documents at the inpatient installation of Hospital The conclusion in this study is that the characteristics of type 2 DM sufferers with CKD are mostly women (51.35%), with age > 60 (67.56%), and the highest CKD stage is G5. The most common cause of DRP cases is inappropriate drug selection (64%), giving rise to the problem of unsafe drug events in patients (56%). Keywords: Diabetes Mellitus Type 2, Chronic Kidneys Disease (CKD), Drug Related Problems (Drps), Hospitalization.  ABSTRAK Prevalensi penderita Diabetes Melitus (DM) setiap tahun mengalami peningkatan khususnya DM tipe 2, sehingga tidak sedikit yang menyebabkan komplikasi hingga kematian. DM tipe 2 berdampak besar pada pengembangan Penyakit Ginjal Kronis (PGK), akibat tidak terkontrolnya penyakit DM tipe 2 dalam jangka waktu lama. Pencapaian efek terapi maksimal dengan efek samping minimal adalah salah satu tanggungjawab farmasi salah satunya mengidentifikasi terjadinya Drug Related Problems (DRPs). Tujuan penelitian ini adalah melakukan Evaluasi DRPs pada Pasien DM Tipe 2 dengan komplikasi PGK di RS x Yogyakarta sebagai bahan evaluasi dalam penanganan kejadian DRPs pada pasien DM tipe 2 dengan komplikasi PGK. Metode dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan pengambilan data menggunakan teknik total sampling pada data retrospektif dokumen rekam medis diinstalasi rawat inap RS X Yogyakarta Januari 2019 – Mei 2023. Hasil penelitian didapat penyebab Kasus DRP terjadi karena pemilihan obat yang tidak tepat (64%) dan pemilihan dosis obat kurang tepat (36%), dan potensi masalah yang terjadi adalah kejadian obat yang tidak aman pada pasien sebesar (56%) dan Kejadian pengobatan yang tidak efektif (44%). Kesimpulannya adalah, Penyebab Kasus DRPs paling banyak terjadi adalah pemilihan obat yang tidak tepat (64%), sehingga menimbulkan potensi masalah yakni kejadian obat yang tidak aman pada pasien sebesar (56%). Kata Kunci: Diabetes Melitus Tipe 2, Penyakit Ginjal Kronik (PGK), Drug Releted Problems (Drps), Rawat Inap.
Evaluasi Pengetahuan Orang Tua Terkait Waspada Cacingan pada Anak di Puskesmas Mangkupalas Kusumiati, Marna
Jurnal Pengabdian Kesehatan Masyarakat Mulawarman Vol. 3 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cacingan merupakan salah satu kasus infeksi yang masih sering terjadi baik di Indonesia, Asia Tenggara maupun Dunia. Anak-anak yang merupakan generasi emas menjadi yang paling beresiko dan bahkan hampir 24% populasi anak di dunia terinfeksi Soil Transmitted Helminths (STH). Melalui hal ini sepatutnya menjadi evaluasi bagi orang tua maupun tenaga kesehatan baik di puskesmas maupun instansi lain dalam mencegah serta waspada terjadinya cacingan pada anak. Kegiatan Promosi Kesehatan ini bertujuan untuk melakukan evaluasi pengetahuan orang tua terkait waspada cacingan pada anak. Metode yang digunakan dalam Promosi Kesehatan ini adalah deskriptif kuantitatif dengan pengambilan data menggunakan kuesioner pada peserta yang datang dalam penyuluhan “Waspada Cacingan pada Anak” di Puskesmas Mangkupalas. Hasil evaluasi dari ketiga kategori indikator dalam kuesioner menyatakan 97,2% orang tua sangat paham akan kebiasaan kebersihan, dan 88,75% yang juga sangat paham terkait lingkungan dan sanitasi, serta kategori terakhir menyatakan nilai persentase sebesar 66% yang paham akan minum obat cacing. Kesimpulannya adalah dari 22 responden yang mengisi kuesioner sangat sadar akan pentingnya kebiasaan kebersihan serta peka terhadap lingkungan dan sanitasi untuk mencegah terjadinya cacingan pada anak, namun responden masih belum terlalu mengerti bahwa pemberian obat cacing secara rutin akan lebih memaksimalkan pencegahan infeksi cacingan yang dapat terjadi pada anak.