Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

FUNGSI ARTISTIK UNTUK MENUNJUKAN PERIODE WAKTU PADA FILM KAMBODJA SUTRADARA RAKO PRIJANTO Saputra, Ade; Choiru Pradhono; Ezriani
EZRA SCIENCE BULLETIN Vol. 2 No. 2 (2024): July-December 2024
Publisher : Kirana Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58526/ezrasciencebulletin.v2i2.132

Abstract

Film merupakan sebuah produksi karya seni yang inovatif dari sebuah media pada saat ini. Artistik sangat diperlukan dalam sebuah produksi film, dimana penciptaan karya seni yang memiliki nilai artistik sangat tergantung kepada penciptanya. Semua unsur dalam tata artistik seperti setting, properti, kostum dan make-up harus memiliki kesatuan yang utuh. Tata bentuk artistik yang secara visual terlihat, dapat menggambarkan suasana dan keadaan, maka dari itu penataan artistik merupakan bagian dari mise en scene. Penataan artistik dalam sebuah film tidak hanya berbicara tentang setting atau latar tempat saja, namun harus mampu memberikan gambaran tentang ruang dan waktu. Film Kambodja sutradara Rako Prijanto, mengambil latar waktu pada tahun 1955 di Jakarta, lebih tepatnya pada masa pemilu pertama di Indonesia setelah sepuluh tahun merdeka. Penggambaran suasana tahun 1955 mulai terlihat dari setting rumah dan properti yang dihadirkan hingga kostum dan handproperty yang digunakan oleh tokoh dalam film. Rumah bergaya Belanda dengan pintu besar dan jendela yang banyak lengkap dengan gorden yang identik dengan warna cokelat susu dan putih. Kostum yang digunakan oleh para tokoh dalam film Kambodja pada umumnya menggunakan warna-warna yang tidak mencolok, seperti warna biru langit, coklat tua, coklat muda, putih, pink baby, hijau dan kuning lembut. Tidak hanya pemilihan warna, detail motif pada kostum dan aksesoris yang digunakan oleh para tokoh dalam film dihadirkan sesuai dengan karakter dan status sosial masing-masing tokoh. Adapun beberapa properti yang digunakan dalam film Kambodja, adalah mesin tik, radio lama, lampu meja, bell telephone (telepon putar), gramaphone (alat pemutar musik).
PENERAPAN SETTING DAN PROPERTY UNTUK MEMPERLIHATKAN KARAKTER DENDI PADA FILM FIKSI FE-MENNINE Andesparta, Alfarham; Ezriani
EZRA SCIENCE BULLETIN Vol. 3 No. 1 (2025): January-June 2025
Publisher : Kirana Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58526/ezrasciencebulletin.v3i1.276

Abstract

Film fiksi Fe-mennine merupakan film yang bergendre drama, psikologis. Menceritakan tentang seorang pria feminim yang bernama Dendi, keseharian dendi sewaktu kecil senang sekali bermain yang mengarah mainan perempuan, dan Dendi kecil pun juga mempunyai hobi menari. Pada suatu saat Dendi terlambat datang untuk latihan yang membuat dia dihukum Latihan sendirian dan diperlihatkan kepada pelatihnya yang seorang wanita. Dendi melakukan Gerakan yang salah dan pelatihnya menuntun Dendi dari belakang dan mulai melecehkannya. Konsep yang diterapkan adalah setting dan property untuk memperlihatkan karakter Dendi pada film fiksi Fe-mennine. Demi terciptanya sebuah setting penulis dalam memilih dan mencari lokasi berpatokan pada setting lokasi yang terdapat pada cerita dengan penyesuain property sebagai pendukung pada scene.
ANALISIS BUSANA SEBAGAI PETUNJUK STATUS SOSIAL PADA TOKOH UTAMA DALAM FILM SERIAL GADIS KRETEK Situmorang, Fitra Yani; Ezriani
EZRA SCIENCE BULLETIN Vol. 3 No. 1 (2025): January-June 2025
Publisher : Kirana Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58526/ezrasciencebulletin.v3i1.309

Abstract

Film serial Gadis Kretek ini menyajikan konteks historis perkembangan industri kretek di Indonesia, sekaligus menyoroti dinamika sosial dan budaya pada masa kolonial hingga periode pascakemerdekaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Temuan menunjukkan bahwa kostum dalam Gadis Kretek tidak sekadar unsur estetis, melainkan memiliki makna naratif dan ideologis yang mendalam. Karakter Dasiyah, sebagai perempuan dari keluarga pemilik usaha kretek, menggunakan busana sebagai wujud perlawanan terhadap norma patriarkal, melalui gaya berpakaian yang progresif dan penuh makna simbolik. Sebaliknya, Soeraja mengalami perubahan gaya berpakaian seiring peningkatan status sosialnya, mencerminkan mobilitas vertikal serta keinginannya untuk memperoleh pengakuan dalam masyarakat. Pergantian kostum kedua tokoh tersebut menjadi simbol visual atas perubahan kelas, nilai, dan identitas dalam tatanan sosial yang terus bergerak.
PEMANFAATAN KAIN PERCA SEBAGAI MEDIA PEMBUATAN KARYA BORDIR APLIKASI DI KELAS XI KKBT SMKN 8 PADANG Bahrun, Viska; Ezriani
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 02 (2026): Volume 11 Nomor 02, Juni 2026 Public
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i02.53940

Abstract

This study aims to describe the process of utilizing patchwork fabric as a medium for creating applique embroidery on children's clothing at SMKN 8 Padang, specifically in class XI KKBT. The problem addressed in this study is the high accumulation of leftover patchwork waste from practical productions within the school environment, as well as the students' tendency to rely on new fabrics for embroidery practice. This study utilizes a qualitative method with a case study approach. Data collection techniques in this study include observation and interviews. The results of this study indicate that the process of utilizing patchwork fabric involves three structured stages: the preparation stage, which includes sorting the patchwork materials; the design stage, which involves sketching flora and fauna-themed motifs; and the execution stage, which produces applique embroidery on children's clothing that meets the principles of unity, intensity, and complexity. The creation process employs embroidery techniques using manual sewing machines and a variety of decorative stitch techniques, such as jumping stitch (tusuk loncat), sasak, granit, and suji cair.
MOTIF BATIK DI RUMAH BATIK SAMPAN PESONA MINANG DI DESA SUNGAI KASAI PARIAMAN SELATAN Ramadhani Zuhuri; Ezriani
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 02 (2026): Volume 11 No. 2, Juni 2026 Release
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i02.54014

Abstract

This study aims to describe the batik motifs found at Sampan Pesona Minang Batik House in Sungai Kasai Village, South Pariaman, and to explain the sources of inspiration behind their creation in relation to local culture. This research employed a descriptive qualitative method using observation, interviews, documentation, and literature review for data collection. The findings reveal that the batik house has five main motifs: Tabuik Salingka Bungo Paku, Sampan, Tabuik Sala, Tabuik Balago, and Kabau Padati, all of which are stylized representations of the cultural heritage and daily life of the Pariaman and Minangkabau communities. The motifs are inspired by the Tabuik tradition, coastal life, regional culinary heritage, and agrarian culture, and are transformed into decorative designs while preserving their original identity. In addition to their aesthetic value, these motifs embody symbolic meanings that represent cultural identity, togetherness, mutual cooperation, perseverance, and the relationship between humans and nature. Therefore, the batik motifs of Sampan Pesona Minang Batik House serve as a form of local cultural preservation while strengthening the identity of regional batik as part of culture-based creative industry development.
IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN MEMBATIK DALAM MATA PELAJARAN SENI BUDAYA PADA KELAS XII DI SMA NEGERI 1 VII KOTO SUNGAI SARIAK Yosi Folastri; Ezriani
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 02 (2026): Volume 11 No. 2, Juni 2026 Publish
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i02.55285

Abstract

This descriptive qualitative study aims to describe and analyze the implementation of hand-drawn batik (batik tulis) learning and the artwork outcomes of grade XII students at SMA Negeri 1 VII Koto Sungai Sariak, who previously only received theoretical lessons. The research subjects included the school principal, the arts teacher, and grade XII students, with data gathered through observation, interviews, and documentation. The results indicate that this practice-based learning was conducted over 8 meetings (90 minutes per session) through preparation, designing, transferring designs to mori fabrics, wax-canting, Remasol coloring, and wax-removal. The collective final products were tablecloths featuring the Minangkabau local wisdom motif of the "Makan Bajamba" tradition combined with supporting ornaments. Despite being beginners, this direct practice successfully enhanced students' creativity, discipline, teamwork, and structural understanding of local cultural philosophy through functional and highly artistic works.