Tujuan: Mengetahui gambaran prevalensi, jenis, serta peran bullying, sekaligus menilai aspek mental siswa yang menjadi korban bullying. Metode: Penelitian menggunakan desain mixed methods. Data kuantitatif dikumpulkan melalui kuesioner pada 401 siswa SMP kelas 1–3 yang dipilih dengan metode stratified random sampling. Analisis univariat dilakukan untuk memperoleh distribusi frekuensi bullying. Data kualitatif diperoleh melalui wawancara mendalam pada tiga siswa yang dipilih secara purposive berdasarkan skor bullying tertinggi. Analisis Ttematik dilakukan untuk menggambarkan aspek mental. Hasil: Sebanyak 29,3% siswa merupakan korban bullying, 17,0% pelaku, 26,4% bully-victim, dan 27,3% tidak terlibat bullying. Mayoritas siswa (37,9%) mengalami bullying 1–2 kali per bulan, sedangkan 8,1% mengalaminya beberapa kali seminggu. Bentuk bullying yang paling sering dialami adalah verbal (48,5%) dan sosial (37,4%), diikuti bullying fisik. Siswa laki-laki lebih banyak menjadi korban dan bully-victim dibanding perempuan. Hasil wawancara menunjukkan aspek mental berupa kecemasan, rasa takut, sedih, menarik diri, penurunan konsentrasi, serta penggunaan mekanisme coping seperti menghindar, mencari tempat aman, atau aktivitas yang menenangkan diri. Pada pelaku, ditemukan perilaku agresif yang dipengaruhi dinamika kelompok dan kurangnya pengawasan orang tua. Kesimpulan: Bullying masih banyak terjadi pada siswa SMP di Kecamatan Malalayang, terutama dalam bentuk verbal dan sosial, dan memberikan dampak negatif yang signifikan terhadap kesehatan mental korban. Intervensi komprehensif yang melibatkan sekolah, keluarga, dan lingkungan sosial diperlukan untuk mencegah dan menangani bullying secara efektif.