Paillin, Wiranto Bongga
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kasiturusan Sebagai Etika Solidaritas Sosial-Teologis Masyarakat Toraja Paillin, Wiranto Bongga
VISIO DEI: JURNAL TEOLOGI KRISTEN Vol 4 No 2 (2022)
Publisher : SEKOLAH TINGGI TEOLOGI STAR'S LUB LUWUK BANGGAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35909/visiodei.v4i2.329

Abstract

This research aims to explore Kasiturusan culture as the Ethics of Socio-Theological Solidarity in the life of the Toraja people. Kasiturusan culture in Toraja society is essential in maintaining the unity and togetherness of the Toraja people. But in today's modern life, the culture of Kasiturusan has begun to erode and fade. This research uses the deconstruction method, data collection techniques through interviews and observations, and books and supporting articles. The results obtained are that the Kasiturusan culture is a culture that unites and strengthens the solidarity of the Toraja people through the elements contained therein. This culture is a medium that brings the Toraja people into a strong alliance. The love of Christ Jesus given to His people makes sense of solidarity well entwined in a strong and solid foundation.
STUDI KOMPARATIF KONSEP SUNAT DALAM PERJANJIAN LAMA DAN PERJANJIAN BARU Paillin, Wiranto Bongga
LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol 6, No 2 (2025): JUNI 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berea, Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37731/log.v6i2.225

Abstract

Artikel ini membandingkan konsep Sunat menurut teks Perjanjian Lama dan gagasan Sunat menurut teks Perjanjian Baru. Dalam hal ini akan dibandingkan konsep sunat pada kedua teks yang ada, kemudian memberikan pemahaman mengenai implikasi sunat dalam kehidupan umat Kristiani masa kini. Penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dan pendekatan deskriptif serta studi literatur. Kemudian, penulis menemukan bahwa sunat mempunyai arti 2 hal, yaitu “sunat luar” dan “sunat dalam”. Dalam hal ini yang dimaksud dengan “sunat luar” adalah sunat yang menekankan praktek sunat secara harafiah, yaitu memotong kulup laki-laki. Kemudian, “Sunat Batin” adalah sunat yang menekankan pada “penyunatan hati”, yakni memotong kulup jantung. Dalam hal ini yang dimaksud dengan “sunat hati” adalah meninggalkan kehidupan lama dengan perbuatan yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, dan menuju kehidupan baru dengan perbuatan yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Melalui hal tersebut, sunat mempunyai makna yang sangat mendalam bagi kehidupan umat Kristiani saat ini, agar mereka dapat menatap kehidupannya ke arah pertobatan yang sejati.