Kepatuhan pengobatan merupakan faktor kritis dalam penanggulangan Tuberkulosis (TBC), terutama mengingat protokol terapi jangka panjang yang berisiko tinggi memicu non-adherence dan berpotensi menyebabkan kegagalan terapi serta resistensi obat. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan karakteristik pasien dan menganalisis tingkat kepatuhan pengobatan TBC di Rumah Sakit X. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel sebanyak 95 responden dipilih dari populasi 1.311 pasien TBC rawat jalan periode Januari-Desember 2023 menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang mengukur tiga indikator kepatuhan: minum obat secara teratur dan benar, menyelesaikan pengobatan sesuai anjuran petugas, dan frekuensi kepatuhan pergi berobat. Karakteristik responden didominasi oleh laki-laki (53,7%) dan kelompok usia produktif 46-55 tahun (30,5%). Secara keseluruhan, pasien menunjukkan tingkat kepatuhan yang tinggi. Rata-rata persentase kepatuhan untuk masing-masing indikator adalah 80,1% (kategori patuh), 73,6% (patuh), dan 70,42% (patuh). Meskipun demikian, ditemukan beberapa titik lemah spesifik dengan persentase kepatuhan relatif lebih rendah, yaitu konsistensi minum obat pada jam yang sama (68,4%), pemahaman tentang efek samping obat (67,6%), dan dukungan keluarga menemani kontrol (60,2%). Mayoritas pasien TBC rawat jalan di Rumah Sakit X telah patuh terhadap pengobatan. Namun, temuan mengidentifikasi area rentan yang memerlukan intervensi terfokus, terutama pada aspek disiplin waktu minum obat, edukasi komprehensif mengenai efek samping, serta penguatan dukungan sosial dan logistik untuk memfasilitasi kunjungan kontrol. Optimalisasi peran tenaga kesehatan, khususnya farmasis dalam edukasi dan pendampingan pasien, direkomendasikan untuk meningkatkan keberhasilan terapi