Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

FENOMENA PENOLAKAN “AFEKSI” TERKAIT HUBUNGAN ROMANTISME (BERKENCAN) PADA PEREMPUAN REMAJA AKHIR Adinda Erliana Romadhon; Qoni’ah Nur Wijayanti, S.Ikom., M.Ikom
Jurnal Media Akademik (JMA) Vol. 1 No. 1 (2023): JURNAL MEDIA AKADEMIK
Publisher : PT. Media Akademik Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62281/JMA/v1i1.23

Abstract

Keluarga adalah unit masyarakat yang memengaruhi pembentukan karakter individu. Salah satu elemen penting dalam keluarga adalah peran orang tua dalam mengasuh dan membimbing anak-anak. Namun setiap keluarga mempunyai latar belakang yang unik dan bervariasi, termasuk pola asuh orang tua. Penelitian ini mengkaji dampak ketidakhadiran ayah dalam kehidupan remaja putri terhadap pola asuh dan karakteristik hubungan romantis mereka. Penelitian saat ini berfokus terutama pada studi tentang periode rentan 0-5 tahun, di mana model orang tua pertama kali mulai menjadi dasar bagi perkembangan anak. Metode penelitiannya adalah fenomenologi, yang memungkinkan peneliti mempelajari pengalaman subjektif remaja putri yang tumbuh tanpa ayah. Data diperoleh melalui observasi dan wawancara yang dilakukan oleh peneliti kepada empat remaja putri yang mempunyai kedekatan emosional dan hubungan yang kuat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketidakhadiran ayah berpengaruh signifikan terhadap kehidupan remaja putri. Takut dikhianati, ditolak, atau disakiti rupanya menjadi faktor penolakan cinta dalam hubungan romantis. Selain itu, teladan orang tua juga berperan penting dalam membentuk karakteristik hubungan romantis remaja putri. Partisipan dalam penelitian ini memiliki latar belakang keluarga yang beragam, mulai dari keluarga kelas menengah hingga keluarga kurang mampu, serta ada tidaknya ayah dalam kehidupan mereka. Perasaan kehilangan, kehampaan, dan pertanyaan mendalam tentang jati diri seringkali muncul sebagai reaksi atas ketidakhadiran seorang ayah dalam hidup mereka. Setiap peserta juga memiliki pendekatan berbeda terhadap hubungan romantis, beberapa di antaranya menunjukkan sikap defensif untuk melindungi diri mereka sendiri. Studi ini menegaskan bahwa ayah memainkan peran penting dalam perkembangan emosional anak perempuan Hasil penelitian ini memberikan wawasan yang mendalam tentang pentingnya peran ayah dalam membentuk pola pikir dan karakteristik hubungan romantis remaja perempuan.. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendukung anak-anak yang tumbuh tanpa ayah, baik secara psikologis maupun emosional, dan untuk memberikan program intervensi yang tepat untuk membantu mereka mengatasi ketakutan dan kecemasan yang mungkin timbul dalam hubungan romantis.
Komodifikasi Tubuh dalam Narasi "Pemersatu Bangsa" pada Kampanye Lingkungan: Analisis Wacana Kritis Konten Pandawara Adinda Erliana Romadhon; Rizky Maulana
Kajian Administrasi Publik dan ilmu Komunikasi Vol. 2 No. 4 (2025): Desember: Kajian Administrasi Publik dan ilmu Komunikasi
Publisher : Asosiasi Peneliti Dan Pengajar Ilmu Sosial Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62383/kajian.v2i4.824

Abstract

This study examines the commodification of women’s bodies within environmental campaign content on digital media, focusing on a video produced by Pandawara Group that addresses textile waste issues. Although the campaign aims to raise ecological awareness, the visual emphasis on a female body particularly the exposure of a bra redirected public attention from environmental messages to sexualized interpretations in the comment section. This research aims to analyze how such meaning shifts occur through representation and audience interpretation. Using Sara Mills’ Critical Discourse Analysis, this study focuses on subject–object positioning and reader positioning in both visual and verbal elements of the content. The data consist of one campaign video and selected public comments on TikTok, analyzed qualitatively. The findings reveal that women are positioned as visual objects rather than active subjects within the discourse, while audiences are constructed as observers of the female body instead of interpreters of environmental issues. The recurring use of the phrase “content that unites the nation” further legitimizes sexualized readings and reinforces dominant gendered discourse. Importantly, the study finds that such interpretations are reproduced not only by male audiences but also by female users, indicating the internalization of dominant visual culture in digital spaces. This study contributes to gender and media studies by demonstrating that environmental campaigns are not free from gender bias and that visual representation plays a crucial role in shaping unintended meanings within social campaigns.