Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

MENUMBUHKAN KARAKTER SISWA BERBASIS BUDAYA TABE’ DI ERA DIGITAL (Studi Kasus Pada Siswa Madrasah Aliyah di Kota Makassar) Muhammad Nur Ibrahim; Mochammad Aziizul Putera Syulkarnain; Khoiri; Agus Triyanto
Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 4 (2023): PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT - SNPPM2023
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract This study aims to determine the application of tabe' culture among students of Madrasah Aliyah in Makassar City, to determine the application of tabe' culture among students of Madrasah Aliyah in Makassar City in the digital era, and to determine the influence of tabe' cultural values and practices on the character formation of Madrasah Aliyah students in Makassar City. The method used in this study is a qualitative research method using interviews and observations to collect data. The results of the study show that Madrasah Aliyah students in Makassar City still apply and consider tabe' culture as an important culture to be preserved and remain relevant to the times. The application of tabe' culture is classified into two based on its implementation, namely tabe' culture in the form of speech and in the form of actions. The application of tabe' culture is supported by two factors, namely internal factors and external factors. The application of tabe culture in the digital era is also still relevant. Tabe's culture has a very large influence on the formation of student character because it contains the values of sipakatau (not discriminating against everyone), sipakalebbi (mutual respect), and sigunakannge' (reminding each other). Keywords: character; tabe’ culture; digital era Abstrak Penelitian ini bertujuan mengetahui penerapan budaya tabe’ di kalangan siswa Madrasah Aliyah di Kota Makassar, mengetahui penerapan budaya tabe’ di kalangan siswa Madrasah Aliyah di Kota Makassar pada era digital, dan mengetahui pengaruh nilai dan praktik budaya tabe’ terhadap pembentukan karakter siswa Madrasah Aliyah di Kota Makassar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan menggunakan wawancara dan observasi untuk mengumpulkan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa Madrasah Aliyah di Kota Makassar masih menerapkan dan menganggap budaya tabe’ sebagai budaya yang penting untuk dilestarikan dan tetap relevan terhadap perkembangan zaman. Penerapan budaya tabe' diklasifikasikan menjadi dua berdasarkan pelaksanaannya, yaitu budaya tabe' dalam bentuk ucapan dan dalam bentuk tindakan. Penerapan budaya tabe’ didukung oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Penerapan budaya tabe’ pada era digital juga masih tetap relevan. Budaya tabe’ memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap pembentukan karakter siswa karena budaya tabe’ mengandung nilai sipakatau (tidak membeda-bedakan semua orang), sipakalebbi (saling menghormati), dan sipakainge’ (saling mengingatkan). Kata Kunci: karakter; budaya tabe’; era digital
UANG PANAI’: TRADISI PERNIKAHAN UANG PANAI’ PADA TREN PERNIKAHAN DI KANTOR URUSAN AGAMA (KUA) DI KOTA MAKASSAR Syaskya Cintya Devi; Muhammad Nur Ibrahim; Nailah Nirwana Awe; Drs. Khoiri, MM
Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2024): PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT - SNPPM2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract This study discusses the phenomenon of uang panai’ in the Bugis and Makassar communities and its relation to marriages at the Religious Affairs Office (KUA). The aim of this research is to understand the role of uang panai’ in KUA marriages and how the community perceives marriages without traditional customs. Using Malinowski's bridewealth theory and a qualitative case study approach, this research examines the wedding traditions of the Bugis and Makassar communities, the role of KUA, and the views of the millennial generation. The findings show that marriages at KUA are performed solely for official registration, while traditional wedding receptions still require uang panai’. The community views marriages without uang panai’ as shameful (siri’), as it is closely linked to cultural pride. If the groom is unable to meet the uang panai’ amount set by the bride's family, the marriage may fail to take place, with the risk of silariang (elopement). This study concludes that despite modern trends, the tradition of uang panai’ still plays a significant role in Bugis and Makassar wedding practices, and KUA marriages do not eliminate the presence of this custom. Keywords: uang panai’; marriage trends; Religious Affairs Office; millennial generation; wedding traditions; existence; Bugis and Makassar Abstrak ini membahas fenomena uang panai’ dalam masyarakat Bugis dan Makassar serta kaitannya dengan pernikahan di Kantor Urusan Agama (KUA). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peran uang panai’ dalam pernikahan di KUA dan bagaimana persepsi masyarakat terhadap pernikahan tanpa adat. Dengan menggunakan teori maskawin dari Malinowski dan pendekatan kualitatif studi kasus, penelitian ini mengkaji tradisi pernikahan masyarakat Bugis dan Makassar, peran KUA, serta pandangan generasi milenial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pernikahan di KUA hanya dilakukan untuk pencatatan resmi, sementara resepsi adat masih memerlukan uang panai’. Masyarakat memandang pernikahan tanpa uang panai’ sebagai sesuatu yang memalukan (siri’), karena hal ini sangat terkait dengan harga diri budaya. Jika calon mempelai pria tidak mampu memenuhi besaran uang panai’ yang ditetapkan oleh keluarga mempelai wanita, pernikahan bisa gagal dilaksanakan dan berisiko terjadi silariang (kawin lari). Penelitian ini menyimpulkan bahwa meskipun ada tren modern, tradisi uang panai’ tetap memiliki peran penting dalam praktik pernikahan Bugis dan Makassar, dan pernikahan di KUA tidak menghilangkan keberadaan adat ini. Kata Kunci: uang panai’; tren pernikahan; Kantor Urusan Agama; generasi milenial: tradisi pernikahan; eksistensi; Bugis dan Makassar