Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Leveraging Tuan Guru's Standing Role: A Dramaturgical Approach to Stunting Prevention in East Lombok, Indonesia Harian, Paenal Juni; Qalbiy, Shafwatu; Wahidah, Ananda; Yuliana, Devi; Nabani, Taqiyudin
Ilomata International Journal of Social Science Vol. 5 No. 4 (2024): October 2024
Publisher : Yayasan Ilomata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61194/ijss.v5i4.1338

Abstract

Stunting is a national health problem in toddlers that is currently a significant concern for the government. Stunting cases are still a problem that needs to be resolved and is increasing. This research aims to determine the actual conditions of stunting in East Lombok and the central role of the tuan guru figure in efforts to accelerate the handling of stunting in East Lombok. The method used is qualitative with a phenomenological approach with 40 informants from 4 categories. The research results show that East Lombok Regency is the area with the most toddlers suffering from stunting in NTB based on February 2024 data, with Sikur District being a red zone with a prevalence of 30.33%. Prevention and handling of stunting are still carried out conventionally by relying on socialization and integrated health posts from health centers. The presence of the tuan guru figure amid community life who is a role model and role model for the community in everyday life is an alternative solution that can accelerate the reduction in stunting rates and maximize prevention efforts. Dramaturgical actions in front and behind the stage by the tuan guru can be an alternative solution to expedite the handling of stunting in East Lombok through preaching packaged concerning the general conditions of the target community. Parenting pattern intervention is the main target of Tuan Guru's preaching in terms of preventing and handling stunting to create healthy and prosperous families.
Awig-Awig Pernikahan Desa Sengkerang Sebagai Bentuk Perlawanan Simbolik Kaum Subaltern Terhadap Polarisasi Gender Harian, Paenal Juni; Baenarti, Nadira; Novita, Dinda Juliana; Malik, Imam
Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan Vol. 10 No. 4b (2025): Edisi Khusus
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jipp.v10i4b.3586

Abstract

Perempuan di negara dunia ketiga seperti Indonesia yang populer dengan sebutan kaum subaltern seringkali mendapat perlakuan subordinasi disebabkan polarisasi gender yang menenggelamkan hak dan status sosial mereka. Mengakarnya budaya patriarki menjadikan polarisasi gender masih subur di Indonesia, tidak terkecuali di Pulau Lombok yang masyarakatnya cenderung masih memiliki prinsip dan pola pikir konservatif karena memegang teguh warisan nilai nenek moyang. Mengacu pada kondisi demikian, Desa Sengkerang di Kabupaten Lombok Tengah membuat sebuah awig-awig pernikahan sebagai simbol perlawanan atas polarisasi gender dan menguatkan kedudukan kaum perempuan di masyarakat. Awig-awig tersebut berisi ketentuan bahwa mahar perempuan (pisuke) ditentukan besarannya berdasarkan tingkat pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji awig-awig pernikahan di Desa Sengkerang sebagai bentuk perlawanan simbolik yang dilakukan oleh kaum subaltern terhadap polarisasi dan stereotip gender yang mengakar dalam masyarakat. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, data diperoleh dari wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumen lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa awig-awig pernikahan tidak hanya berfungsi sebagai aturan normatif yang mengatur hubungan sosial, tetapi juga sebagai ruang negosiasi dan penegasan identitas kaum subaltern dalam menolak pembatasan-pembatasan peran gender yang konvensional. Awig-awig tersebut mengandung nilai-nilai yang menempatkan kesetaraan dan keadilan gender sebagai bagian integral dari tata sosial desa. Dengan demikian, awig-awig pernikahan di Desa Sengkerang memberikan kontribusi penting dalam melawan dominasi patriarki melalui representasi simbolik yang memperkuat suara dan posisi kaum subaltern dalam struktur sosial. Temuan ini membuka wawasan baru tentang hubungan antara tradisi lokal dan dinamika perlawanan sosial terhadap ketidaksetaraan gender.