Lumban Gaol, Covin
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

NILAI DALIHAN NA TOLU DALAM MEMBANGUN HIDUP BERSAMA: TINJAUAN RELASIONALITAS ARMADA RIYANTO Lumban Gaol, Covin
Studi Budaya Nusantara Vol. 8 No. 1 (2024)
Publisher : Studi Budaya Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.sbn.2024.008.01.02

Abstract

The author focuses on the kinship system in Batak Toba culture, known as Dalihan Na Tolu. This kinship system is interpreted as identity and even serves as a guiding principle in the traditional cultural activities of Batak Toba. Dalihan Na Tolu consists of three hearthstones used for cooking. These three hearthstones are depicted as the kinship system in Batak Toba culture. The three hearthstones are Hula-hula, Dongan Tubu, and Boru. In Batak Toba culture, each person will assume one of the roles among these three elements. For the Batak people, Dalihan Na Tolu plays an important role and serves as the heart of every ceremony and relationship with others. Meanwhile, according to Armada Riyanto, self-giving transcends the relationship between "I" and "others." The research method employed by the author is a literature review involving critical analysis of various Batak culture books and previous research studies that discuss Dalihan Na Tolu. The methodology used is Armada Riyanto's relationality. This study finds that Dalihan Na Tolu is a guiding principle for Batak people in their relationships with others. This kinship system is a local cultural heritage with profound philosophical values.
Simbolisme Ulos dalam Tradisi Kematian Batak Toba: Perspektif Teori Interpretatif Simbolik Clifford Geertz Lumban Gaol, Covin; Lena Meo, Wilson B.
Sabda: Jurnal Kajian Kebudayaan Vol 20, No 1 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/sabda.20.1.97-108

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menggali makna simbolis ulos dalam ritual kematian masyarakat Batak Toba, menggunakan pendekatan interpretatif-simbolik Clifford Geertz. Sebagai kain tenun tradisional, ulos bukan hanya artefak budaya, tetapi simbol yang dijiwai dengan makna sosial dan spiritual yang mendalam. Melalui metode berbasis literatur kualitatif, penelitian ini mengungkapkan bahwa dalam konteks kematian, ulos berfungsi sebagai simbol kesedihan yang mendalam, kehormatan akhir, dan harapan abadi bagi keluarga yang berduka. Ritual pemberian ulos mengungkapkan nilai-nilai komunal seperti menghormati almarhum, solidaritas antar kerabat, dan keberlangsungan hidup. Dengan demikian, ulos bertindak sebagai media simbolis yang mengikat yang hidup, yang mati, dan yang sakral, mencerminkan bagaimana masyarakat Batak Toba menafsirkan kematian bukan sebagai akhir, tetapi sebagai transisi dalam siklus kehidupan. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna simbolik ulos dalam ritus kematian masyarakat Batak Toba, dengan menggunakan pendekatan interpretatif simbolik Clifford Geertz. Ulos, sebagai kain adat khas Batak Toba, bukan sekadar benda budaya, melainkan simbol yang sarat makna sosial dan spiritual. Melalui pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka, penelitian ini menemukan bahwa dalam konteks kematian, ulos berperan sebagai simbol duka mendalam, penghormatan terakhir, serta pengharapan bagi keluarga yang ditinggalkan. Pemberian ulos dalam ritus kematian menunjukkan nilai-nilai kebudayaan yang hidup dalam komunitas Batak Toba, seperti penghormatan kepada leluhur, solidaritas keluarga, dan kelanjutan hidup. Dengan demikian, ulos menjadi sarana simbolik yang mengikat manusia dengan sesamanya, dengan leluhur, dan dengan kekuatan spiritual yang lebih tinggi.