Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Jurnal IMAJI

Penonton dan Televisi : Proses Memaknai dalam Kode Budaya dan Kapitalisme Muhlisiun, Arda
IMAJI Vol. 4 No. 2 (2012): IMAJI
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berbicara tentang televisi, berarti membicarakan tentang program acara dan khalayak penonton. Disana terjadi proses pembermaknaan, yakni televisi sebagai pemberi makna dan penonton sebagai penerima makna. Proses itu terjadi dalam kode-kode yang dikirim (encode) dan diterima (decode), baik berupa hal yang berkaitan dengan teknis, ideologi, maupun asumsi terhadap calon penonton. Setiap kode yang dikirimkan pada penonton tidak serta merta dimaknai sesuai dengan maksud si pengirim kode -setiap proses encoding tidak pernah sarna dengan proses decoding. Justru yang terjadi adalah setiap penonton dengan bebas mengendalikan makna atas setiap kode yang diterimanya. Hal ini terjadi karena setiap penonton memiliki modal dalam menonton, yakni : tiga posisi hipotesis.
Budaya Menonton Film: Teknologi Digital dan Katalisasi COVID-19 Menuju (Siklus) Layar Personal Muhlisiun, Arda
IMAJI Vol. 13 No. 3 (2022): Menuju Layar Personal sebagai Budaya Baru Menonton
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52290/i.v13i3.80

Abstract

Penelitian ini saya lakukan untuk melihat perkembangan film dan penonton film ketika wabah Covid-19 melanda dunia, di mana film juga ikut merasakan dampaknya. Berbagai cara dan upaya untuk menyelamatkan industri film ternyata telah merubah budaya menonton film. Jika ditarik jauh ke belakang (1890-an), dalam sejarah relasi film dan penonton, awal orang menonton film dilakukan secara personal (individual). Thomas Alfa Edison adalah pelopornya melalui alatnya bernama Kinetoskop. Kehadiran Lumiere Bersaudara telah mengubah konsep menonton film. Menonton film beralih pada konsep kolektif, massal, bahkan diberlakukan tiket berbayar. Dari sinilah kemudian kita mengenal bioskop sebagai ruang pemutaran film dalam skala massal. Munculnya wabah Covid-19 telah menggantikan peran bioskop dalam hal proyeksi film ke hadapan masyarakat luas. Meskipun banyak orang tetap berharap agar agar bioskop akan menemukan jalannya kembali, namun fenomena digital turut mempercepat era perfilman menuju dunianya yang baru: film streaming. Keadaan ini akhirnya menciptakan sebuah fenomena berupa siklus kepenontonan, bahwa cara orang menonton film di masa depan akan semakin personal (kembali) -seperti halnya yang terjadi pada era di mana Thomas Alfa Edison pertama kali memperkenalkan film pada masyarakat.
Jejak Film Dalam Langkah Televisi Muhlisiun, Arda
IMAJI No. 3 (2007): IMAJI
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ketika sejatinya sebuah tayangan film harus disaksikan oleh masyarakat penonton melalui berbagai upaya menuju ke sebuah gedung bioskop, melihat judul film, menentukan film, mengantri, membeli tiket dan sebagainya ; atau media cetak (majalah, surat kabar dll) yang dapat dinikmati lebih sebagai informasi yang sifatnya aktual (terikat oleh waktu) yang di hari-hari selanjutnya informasi tersebut seakan menjadi tak berarti; atau untuk mendengarkan radio dibutuhkan sebuah konsentrasi dalam menciptakan imaji (karena hanya mengandalkan potensi suara saja tentunyal), maka televisi lahir sebagai media yang sanggup menyediakan segala kebutuhan penonton terhadap berbagai teks dan sub teks dari media massa lainnya.