Bira, Alwen
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengetahuan Ditinjau dalam Perspektif Posmodernisme Bira, Alwen
Philoxenia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 2, No 1 (2023): Teologi dan Pendidikan Kristiani - November 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvary - Maluku Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59376/philo.v2i1.24

Abstract

Postmodernism cannot be separated from modernism. Modernism's paradigm that science is absolute and objective means that humans cannot judge it. This is where a new thought called postmodernism was born which became a continuation of modernism which gave a new view of science. This study uses a type of qualitative research with hermeneutic methods, descriptions and comparisons to answer the problem. The conclusion of this study shows that postmodernism is a movement that criticizes science for the tradition of modernism whose influence on rationalism, materialism and capitalism is supported by science and destroys human dignity. Postmodernism emerged due to the failure of modernism which raised human dignity and failed to bring human life to a better direction, free from violence.AbstrakPostmodernisme tidak dapat dipisahkan dari pemikiran modernisme. Pemikiran  modernisme menekankan ilmu pengetahuan yang bersifat mutlak dan objektif yang berarti manusia tidak dapat menilainya. Dari sinilah awal mula lahir pemikiran baru yang disebut postmodernisme yang menjadi keberlanjutan dari modernisme yang memberi pandangan baru tentang ilmu pengetahuan. Penelitian  ini menggunakan  jenis penelitian kualitatif dengan metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, deskripsi dan komparasi untuk menjawab masalah. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa posmodernisme merupakan gerakan kritik ilmu pengetahuan atas tradisi modernisme yang pengaruhnya pada rasionalisme, materialisme dan kapitalisme yang didukung oleh ilmu pengetahuan dan menghancurkan martabat manusia. Muncul Postmodernisme disebabkan karena gagalnya modernisme yang mengangkat harkat dan martabat manusia
Perspektif Diakonia Secangkir Air bermakna Religius menurut Matius 10:42 Bira, Alwen
TELEIOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 2, No 2 (2022): Teologi dan Pendidikan Kristiani (Desember 2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Transformasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.482 KB) | DOI: 10.53674/teleios.v2i2.52

Abstract

Abstract: Diakonia in the sense of service or service is very easy to understand in Christian circles. The church needs to understand that dedicating to fellow human beings, no matter how small, has a very deep meaning and requires courage to do so. In the New Testament, diakonia gets an important portion, giving even a cup of cool water to a small child who is a follower of Christ he will not lose his reward. When someone gives help is not seen in terms of quantity or amount but from the quality of the gift. Greek society is very concerned about other people because it is their duty either in the family, society or strangers. Like helping people is a highly commendable attitude of generosity. Jesus wanted the church to be a cup of cold water for this world, because Christianity cannot be measured by how much water it can hold, but by how much water is distributed to others. The research method in this paper is a descriptive analysis method with a literature study or literature study approach. In this study, the researcher describes the theological views about the diakonia of a cup of water which is then analyzed based on Christian views and actualizes them in Christian life today.Abstrak: Diakonia dalam pengertian melayani atau pelayanan, sangat muda dipahami dalam kalangan kekristenan. Gereja perlu memahami bahwa berdiakonia kepada sesama manusia sekecil apapun bentuknya, memiliki arti yang sangat dalam dan di butukan suatu keberanian untuk melakukannya. Dalam Perjanjian Baru diakonia mendapat porsi yang penting, memberi secangkir air sejuk  sekalipun kepada salah seorang anak kecil yang merupakan pengikut Kristus ia tidak akan kehilangan upahnya. Saat seseorang memberi pertolongan tidak dipandang dari sisi kuantitas atau jumlah tetapi dari kualitas pemberian itu. Masyarakat Yunani sangat memperhatikan orang lain karena itu sudah menjadi kewajiban mereka baik dalam keluarga, masyarakat ataupun orang asing. Suka menolong orang adalah sikap kedermawaan yang sangat terpuji. Yesus menghendaki gereja menjadi secangkir air sejuk bagi dunia ini, karena kekristenan tak dapat diukur dari berapa banyak air yang dapat ditampung, tetapi dilihat dari berapa banyak air yang dibagikan kepada orang lain. Metode penelitian dalam tulisan ini adalah metode deskriptif analisis dengan pendekatan studi literatur atau studi kepustakaan.  Dalam penelitian ini peneliti mendeskripsikan pandangan teologis tentang diakonia secangkir air putih yang selanjutnya dianalisis berdasarkan pandangan Kristen serta mengaktualisasikannya dalam kehidupan Kristen saat ini.