Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pertumbuhan Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Varietas Bima Brebes dengan Tujuh Macam Komposisi Blotong Tebu dan Pupuk Kandang Sapi Gustiar, Fitra; Sodikin, Erizal; Nanda Hasibuan, Aulia; Alkhair, M. Hafiz; Agustin, Aliya; Angreini, Erina; Pratiwi, Maiyola; Reli, Rapita
Seminar Nasional Lahan Suboptimal Vol 11, No 1 (2023): Prosiding Seminar Nasional Lahan Suboptimal ke-11 “Optimalisasi Pengelolaan Lah
Publisher : Pusat Unggulan Riset Pengembangan Lahan Suboptimal (PUR-PLSO) Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gustiar, F., Sodikin, E., Hasibuan, A.N., Alkhair, M.H., Agustin, A., Angreini, E., Pratiwi, M., & Reli, R. (2023). Growth shallots (Allium ascalonicum L.) Variety bima brebes with seven composisitions of sugarcane blotong and cow manure. In: Herlinda S et al. (Eds.), Prosiding Seminar Nasional Lahan Suboptimal ke-11 Tahun 2023, Palembang 21 Oktober 2023. (pp. 214-222). Palembang: Penerbit & Percetakan Universitas Sriwijaya (UNSRI).Bima brebes shallot variety is shallot variety that is widely cultivated by farmers because it is easy to grow, in recent years farmers have experienced a 50% decrease in yield due to decreased soil frtility due to chemical fertilisers, to overcome this the use of chayote blotong and cow manure can be used for shallots, this study aimed to determine the growth of shallots (Allium ascalonicum L.) bima brebes varieties with seven different compositions of sugar cane blotong and cow manure. The method used was the research method of Randomized Group Design (RGD) consisting of 7 treatments, with the composition (soil: sugar cane blotong: manure) namely P0 (2:0:0), P1 (2:2:0), F (2:2.5:0.5), P3 (2:1:1), P4 (2:0.5:1.5), p5 (2:0:2), and P6 (1:1:1) analysed by variance analysis (ANOVA). The results of applying mixed manure had an effect on shallot plant height, number of leaves, fresh weight and dry weight of stalks, fresh weight of beetles, dry weight of beetles, number of bulbs, diameter of bulbs and measurement of root length, but had no significant effect on the number of seeds and greenness of leaves. Mixture of soil: sugarcane blotong: cow manure with P2 (2:1.5:0.5) was the best treatment and P5 (2:0:2) was the slowest treatment. The conclusion of this study shows that the combination of sugarcane blotong and cow manure on shallots can increase growth and production. It is recommended that further research be carried out in the field in order to obtain a more appropriate dose of shallots.
Studi Potensi Gulma sebagai Biofarmaka pada Agroekosistem Perkebunan Karet Aritonang, Alfredo Grace Anggito; Agustin, Aliya; Pratiwi, Maiyola; Harun, M. Umar
Publikasi Penelitian Terapan dan Kebijakan Vol 8 No 2 (2025): Publikasi Penelitian Terapan dan Kebijakan
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46774/pptk.v8i2.678

Abstract

Gulma diklasifikasikan sebagai tumbuhan liar yang berkembang biak di ladang pertanian, perkebunan, dan lahan budidaya. Kehadiran gulma biasanya tidak diharapkan, karena dapat menimbulkan persaingan dengan tanaman utama dan memiliki kemampuan untuk berkembang biak dengan cepat di berbagai pengaturan lingkungan. Meskipun demikian, gulma memiliki manfaat, salah satunya peran gulma sebagai tanaman obat yang secara historis telah digunakan oleh masyarakat untuk meringankan penyakit dan meningkatkan kesehatan secara keseluruhan. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikas gulma yang berpotensi sebagai biofarmaka pada perkebunan karet di PTPN I Regional III Kebun Siluwok, dengan koordinat 6°58’01.91”S 110°00’19.86”T . Penelitin ini dilakukan dari bulan juni sampai juli. Metode penelitian menggunakan observasi langsung lapangan dan studi literatur. Identifkasi menggunakan aplikasi PlantNet dan PictureThis. Hasil penelitian menunjukkan ada 25 spesies gulma, di antaranya 15 spesies memiliki potensi sebagai biofarmaka, yaitu Christella dentata, Asystasia gangetica, Oxalis barrelieri, Ageratum conyzoides, Lantana camara, Clidemia hirta, Chromolaena odorata, Crassocephalum crepidioides, Paederia foetida, Peperomia pellucida, Mimosa pudica, Synedrella nodiflora, Urena lobata, Phyllanthus tenellus, dan Mikania micrantha dengan manfaat beragam mulai dari antibakteri, antiinflamasi, hingga pengobatan tradisional penyakit tertentu. Temuan ini mengindikasikan bahwa gulma tidak hanya berperan sebagai pesaing tanaman karet, tetapi juga sebagai sumber biofarmaka yang bernilai ekonomis bagi kesehatan.