Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Penelitian Minat Ekstrakurikuler Mahasiswa Dalam Bermusik Pada Pembelajaran Jarak Jauh di Era 4.0 Raden Roro Tsara Ayuninggati; Sondang Visiana Sihotang; Muhamad Ikhsan Mustopa; Wahyuningsih
Jurnal MENTARI: Manajemen, Pendidikan dan Teknologi Informasi Vol 1 No 2 (2023): Maret
Publisher : Pandawan Sejahtera Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (524.954 KB) | DOI: 10.33050/mentari.v1i2.245

Abstract

Era Globalisasi mempengaruhi perubahan besar terhadap perkembangan teknologi yang berdampak pada keberlangsungan ekonomi, sosial, infastruktur, politik dan terkhusus pada pendidikan. Salah satunya pada perubahan model pembelajaran, kini pembelajaran jarak jauh telah banyak di aplikasikan dalam pendidikan tingkat sarjana. Model pendidikan praktek jarak jauh ini memiliki masalah-masalah tertentu yang perlu dicermati, salah satu masalah yang harus dipecahkan yakni pada minat ekstrakulikuler mahasiswa yang semakin menurun  sehingga menjadi latar belakang penelitian ini untuk mengetahui minat ekstrakulikuler mahasiswa pada jarak jauh. Kontribusi penelitian ini adalah untuk mengetahui minat musik mahasiswa  pada ekstrakulikuler yang dilakukan secara  jarak jauh di era 4.0 dan pandangannya terhadap pendidikan jarak jauh. Metode yang digunakan pada penelitian ini dengan survei model diadopsi dengan partisipasi total 52 Mahasiswa. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan sebuah kuesioner terdiri dari 12 item yang dikembangkan oleh para peneliti. Ditemukan bahwa mayoritas mahasiswa memiliki antusias yang sangat baik pada ekstrakulikuler musik, berdasarkan hasil akhir penelitian pandangan minat musik mahasiswa meningkat pada pembelajaran jarak jauh sebanyak 55,7% dari yang sebelumnya berpendapat negatif kini menjadi positif setelah menjalankan pembelajaran jarak jauh. Dan total keseluruhan mahasiswa yang memiliki pandangan positif adalah 90.3%.
Addressing the Scalability Trilemma for Mass Market Gamichain Applications Ayun Maduwinarti; Muhamad Ikhsan Mustopa; Zainarthur, Henry
CORISINTA Vol 3 No 1 (2026): February
Publisher : Pandawan Sejahtera Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33050/phz0qw82

Abstract

The convergence of blockchain technology and gamification has led to the emergence of Gamichain ecosystems that are increasingly adopted in digital business environments to enhance user engagement, transparency, and value exchange. Despite this potential, the blockchain scalability trilemma, which involves trade offs between decentralization, security, and scalability, remains a critical barrier to the mass market adoption of Gamichain applications. This study aims to analyze how the scalability trilemma influences the feasibility of large scale Gamichain systems and to identify architectural strategies that enable high frequency transactions and large user participation while preserving system trust. A qualitative conceptual approach supported by comparative case analysis is employed, examining representative implementations such as Axie Infinity, StepN, and Polygon based gaming platforms. The analysis evaluates existing scalability solutions including Layer 2 rollups, sharding mechanisms, and hybrid off chain and on chain architectures across key dimensions of security, decentralization, transaction throughput, and user experience. The results indicate that Layer 2 and hybrid architectures provide the most viable balance for mass market Gamichain deployment, as they significantly improve performance efficiency and transaction cost without substantially undermining decentralization and security guarantees. This study contributes an applied evaluation framework that connects blockchain scalability discourse with practical digital business requirements. In conclusion, scalable Gamichain adoption depends not only on technical scalability solutions but also on strategic architectural alignment with user experience optimization, regulatory readiness, and sustainable digital innovation, thereby supporting broader participation in the global digital economy.