Diabetes Melitus sering kali disebut sebagai pembunuh senyap, karena penderitanya sering kali tidak menyadari bahwa komplikasi seperti penyakit jantung, gagal ginjal kronis, kerusakan pada retina yang berpotensi menyebabkan kebutaan, serta kerusakan saraf yang dapat berujung pada impotensi dan gangren dengan kemungkinan amputasi sudah terjadi. Berbagai komplikasi yang terjadi ini mengakibatkan gangguan dalam melakukan aktifitas sehari- hari, menurunnya produktifitas sehingga berdampak negative pada kualitas hidup penderita diabetes melitus. Salah satu tindakan pengendalikan penyakit ini adalah dengan teknik akupresure. Teknik akupresur adalah metode non-farmasi yang efektif menurunkan kadar gula darah penderita diabetes melitus sehingga memperlambat perkembangan penyakit dan meminimalkan komplikasi dan diharapkan meningkatkan kualitas hidup penderitanya. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pasien diabetes melitus dalam mengendalikan kadar glukosa darah melalui pelatihan teknik akupresur. Pelatihan dilakukan melalui penyampaian materi dengan metode ceramah dan demonstrasi teknik akupresur kepada 141 orang pasien diabetes melitus, serta melibatkan partisipasi aktif peserta dalam diskusi. Penilaian kemampuan teknik akupresure peserta dengan menggunakan lembar observasi pelaksanaan teknik akupresure dengan Standar Operasional Prosedur teknik akupresure sebagai acuannya. Hasil analisis yang dilakukan dengan Uji Wilcoxon menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara kemampuan dalam teknik akupresur sebelum dan setelah pelatihan dengan nilai signifikansi 0,001 (p<0.05). Dengan demikian, dapat diambil kesimpulan bahwa setelah dilakukannya pelatihan tentang teknik akupresur, kemampuan pasien diabetes melitus dalam mengatur kadar gula darah mengalami peningkatan. Rekomendasi untuk pasien diabetes melitus adalah mempraktikkan teknik akupresure secara teratur dalam upaya mengontrol kadar glukosa darah mereka.