Salah satu industri pangan berskala rumah tangga yang memproduksi makanan ringan berbahan ikan di Ponorogo belum memiliki belum memiliki pengelolaan limbah yang baik, sehingga semua limbah hasil produksi langsung dibuang ke saluran irigasi dan lahan kosong. Limbah yang dihasilkan oleh industri tersebut memiliki kandungan senyawa organik yang tinggi sehingga mengakibatkan timbulnya beberapa permasalahan, antara lain bau busuk, kematian ikan dan biota lainnya pada badan perairan penerima limbah, serta eutrofikasi karena kelebihan nitrogen dan fosfor. Dalam upaya untuk mencegah pencemaran lingkungan, mengurangi peredaran limbah, dan mewujudkan proses produksi yang lebih baik dapat dilakukan pengelolaan limbah cair dan padat dengan konsep 3R, yaitu Reduce, Reuse, Recycle. Data yang dikumpulkan berupa data primer dengan cara survey lapangan, wawancara, sampling dan analisis laboratorium dan penelitian lapangan, serta data sekunder didapat melalui studi literatur. Perencanaan mencakup pengelolaan berbasis 3R untuk limbah cair dan padat, serta engineering design unit untuk kegiatan pengelolaan limbah beserta BOQ dan RAB. Berdasarkan hasil analisis reduce dilakukan pada limbah cair, limbah padat compostable dan non-recycable. Reuse dilakukan pada limbah cair dan limbah padat recyclable. Recycle dilakukan pada limbah padat compostable dan recyclable. Berdasarkan perhitungan Engineering Design (ED) pengolahan limbah cair dilakukan dengan unit grease trap berukuran panjang 0,5 m; lebar 0,25 m; kedalaman 0,45m, bak ekualisasi yaitu panjang 0,65 m; lebar 0,8 m; kedalaman 0,8 m, anaerobic baffled reactor yaitu panjang 0,65 m; lebar 0,7 m; kedalaman 1,3 m, dan constructed wetland yaitu panjang 5 m; lebar 0,8 m; kedalaman 1 m. Pewadahan limbah padat menggunakan bak plastik HDPE tertutup dengan ukuran, untuk limbah compostable 120 L, limbah recycable dan non-recycable 240 L. Pengomposan dilakukan pada limbah padat compostable secara aerob di dalam bak plastik HDPE ukuran 280 L sebanyak 8 buah.