Uddin, Baha
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kedudukan dan Relasi Politik Tan Jin Sing pada Peristiwa Geger Sepehi dalam Babad Panular, Babad Mangkubumi, dan Babad Pakualaman Uddin, Baha
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 23 No. 2 (2022)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.411

Abstract

Penelitian mengenai peristiwa Geger Sepehi memang sudah banyak dilakukan oleh sejarawan baik dalam rangkaian peristiwa sosial politik awal abad ke-19 di Kasultanan Yogyakarta maupun dalam kaitannya sebagai salah satu permulaan dari peristiwa Perang Jawa. Ada dua aspek yang menjadi fokus kajian artikel ini. Pertama adalah mengenai kedudukan dan peran Tan Jin Sing, sedangkan kedua adalah melihatnya dari perspektif literasi dan pandangan orang Jawa melihat orang Tionghoa melalui tiga babad yang masing-masing mewakili entitas sosial politik yang terlibat dalam pergumulan di sekitar peristiwa Geger Sepehi. Terjadinya peristiwa ini tidak dapat dilepaskan dari pergumulan politik yang terjadi pada masa pemerintahan Daendels yang kemudian berlanjut ketika Raffles menggantikan rezim kolonial di Indonesia. Kemampuan dan kecakapan Tan Jin Sing-lah yang membawanya masuk dalam pergaulan dengan tokoh-tokoh penting dari pemerintahan kolonial Inggris maupun di Kasultanan Yogyakarta. Hal inilah yang menjadikannya menjadi salah satu tokoh kunci dalam dinamika politik yang terjadi di sekitar peristiwa Geger Sepehi. Kedudukan dan perannya sebagai mediator dan fasilitator antara pemerintah kolonial Inggris dengan Kasultanan Yogyakarta, pada satu sisi ikut mencari solusi atas berbagai permasalahan, namun pada sisi yang lain justru mempercepat terjadinya klimaks dalam pergumulan politik pada peristiwa Geger Sepehi.
Dekolonialisasi Sistem Kesehatan Nasional Indonesia, 1945-1960 Uddin, Baha
Jurnal Sejarah Citra Lekha Vol 10, No 2 (2025): Sejarah Sosial-Budaya, Identitas, dan Resistensi
Publisher : Department of History, Faculty of Humanities, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jscl.v10i2.79592

Abstract

This article is motivated by the limited research examining the transformation of the Indonesian medical profession, especially in the early days of Indonesian independence. This is very important because the position of Indonesian doctors during that period was very important both nationally and in the development of the national health system. Therefore, the issue raised in this study is the dynamics of decolonisation of Indonesia's quality and national health system in the early days of independence. This study aims to contribute to the historical study of the decolonisation of the national health system in Indonesian historiography. The method employed is the historical method, which involves several stages of research, including heuristics, verification, interpretation, and historiography. At the beginning of independence, there was a need in the health sector to form a new identity as an independent nation. Therefore, decolonisation was carried out, covering institutions, educational institutions, the medical profession association, and the health system. This process was hampered during the independence revolution and only began in the 1950s. Indonesian doctors played a central role in this decolonisation process. They were able to transform the discriminatory, racist, and coercive colonial health system into a holistic national health system focused on improving the quality of health for the Indonesian people.