Kemampuan numerasi siswa sekolah menengah di Indonesia menunjukkan kesenjangan yang jelas antara penguasaan soal rutin dan kemampuan menalar, menafsirkan data, serta memahami konteks. Kondisi ini menuntut pemetaan yang lebih komprehensif untuk memahami variasi capaian numerasi berdasarkan domain, level kognitif, dan karakteristik asesmen. Penelitian ini bertujuan memetakan kompetensi numerasi siswa SMA dan SMK di Provinsi Riau serta mengidentifikasi faktor pembelajaran, strategi guru, dan karakteristik soal yang memengaruhi hasil tersebut. Metode yang digunakan adalah mixed methods dengan desain sekuensial eksplanatori, melibatkan tes kuantitatif pada 288 siswa dan wawancara mendalam dengan guru serta siswa dari dua sekolah berprestasi tinggi. Instrumen tes mencakup 30 soal numerasi yang merepresentasikan tiga domain (geometri & pengukuran, aljabar, data & ketidakpastian), tiga level kognitif (Knowing, Applying, Reasoning), dan enam jenis soal. Hasil penelitian menunjukkan pola capaian hierarkis yang menurun dari Knowing ke Reasoning dengan perbedaan signifikan antar domain dan jenis soal. Capaian terendah ditemukan pada domain data dan ketidakpastian serta soal uraian yang menuntut penalaran tingkat tinggi dan interpretasi teks panjang. Temuan kualitatif menegaskan bahwa kesulitan utama siswa berkaitan dengan beban kognitif saat membaca konteks, keterbatasan hubungan konseptual–prosedural, dan kurangnya pembelajaran berbasis situasi nyata. Penelitian ini menyimpulkan bahwa peningkatan numerasi memerlukan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan literasi membaca, penalaran matematis, dan strategi pedagogis reflektif secara berkelanjutan.