Muharrom, Muhammad Fakhrul
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Peradaban Islam pada Masa Khulafaur Rasyidin Muharrom, Muhammad Fakhrul
AL - IBRAH Vol 9 No 1 (2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Al - Ibrohimy Bangkalan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61815/alibrah.v9i1.376

Abstract

Khulafaur Rasyidin bermakna pengganti-pengganti Rasul yang cendekiawan. Penggagas nama Khulafaur Rasyidin adalah orang-orang muslim yang paling dekat dengan Rasul setelah meninggalnya beliau. Empat tokoh sepeninggal Rasul itu merupakan orang yang selalu mendampingi Rasul ketika beliau menjadi pemimpin dan dalam menjalankan tugas. dalam kepemimpinan Abu Bakar, ia melaksanakan kekuasaannya bersifat sentral; kekuasaan legislative, eksekutif, dan yudikatif terpusat di tangan Khalifah. Ia juga melaksanakan hukum, dan selalu mengajak sahabat-sahabat besarnya untuk bermusyawarah. Kepemimpinan Umar bin Khattab menerapkan prinsip demokratis dalam kekuasaan yaitu dengan menjamin hak yang sama bagi setiap warga Negara. Kepemimpinan Ustman membangun bendungan untuk menjaga arus banjir yang besar dan mengatur pembagian air ke kota-kota. Ia juga membangun jalan-jalan, jembatan-jembatan, masjid-masjid, dan memperluas masjid di Madinah. Prestasi yang terpenting masa Khalifah Ustman adalah menulis kembali al-Quran yang telah ditulis pada zaman Abu Bakar.
Peradaban Islam pada Masa Khulafaur Rasyidin Muharrom, Muhammad Fakhrul
AL - IBRAH Vol 9 No 1 (2024)
Publisher : STIT Al - Ibrohimy Bangkalan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61815/alibrah.v9i1.376

Abstract

Khulafaur Rasyidin bermakna pengganti-pengganti Rasul yang cendekiawan. Penggagas nama Khulafaur Rasyidin adalah orang-orang muslim yang paling dekat dengan Rasul setelah meninggalnya beliau. Empat tokoh sepeninggal Rasul itu merupakan orang yang selalu mendampingi Rasul ketika beliau menjadi pemimpin dan dalam menjalankan tugas. dalam kepemimpinan Abu Bakar, ia melaksanakan kekuasaannya bersifat sentral; kekuasaan legislative, eksekutif, dan yudikatif terpusat di tangan Khalifah. Ia juga melaksanakan hukum, dan selalu mengajak sahabat-sahabat besarnya untuk bermusyawarah. Kepemimpinan Umar bin Khattab menerapkan prinsip demokratis dalam kekuasaan yaitu dengan menjamin hak yang sama bagi setiap warga Negara. Kepemimpinan Ustman membangun bendungan untuk menjaga arus banjir yang besar dan mengatur pembagian air ke kota-kota. Ia juga membangun jalan-jalan, jembatan-jembatan, masjid-masjid, dan memperluas masjid di Madinah. Prestasi yang terpenting masa Khalifah Ustman adalah menulis kembali al-Quran yang telah ditulis pada zaman Abu Bakar.
AKUNTANSI FORENSIK SEBAGAI ALAT PENCEGAH DAN PENDETEKSI FRAUD DALAM ORGANISASI Muharrom, Muhammad Fakhrul; Hidayat, Muhammad Afif; Rahayu, Hastanti Agustin
JAAKFE UNTAN (Jurnal Audit dan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Tanjungpura) Vol. 15 No. 1 (2026): Jurnal Audit dan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Tanjungpura
Publisher : Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jaakfe.v15i1.100323

Abstract

Upaya pencegahan kecurangan merupakan aspek krusial dalam pengelolaan risiko serta penerapan tata kelola yang baik pada organisasi. Tulisan ini bertujuan menelaah peranan akuntansi forensik sebagai instrumen penting dalam upaya deteksi sekaligus pencegahan fraud, dengan menghubungkannya pada temuan penelitian sebelumnya yang menekankan kontribusi audit internal dan penguatan budaya etis organisasi. Melalui pendekatan studi literatur dan analisis konseptual, kajian ini mengungkap bahwa akuntansi forensik tidak hanya mampu mengidentifikasi indikasi penyimpangan secara dini, tetapi juga memberikan nilai tambah sebagai mekanisme preventif yang memperkuat fungsi audit internal serta mendorong terbentuknya budaya organisasi yang berintegritas. Kesimpulan ini konsisten dengan penelitian terdahulu yang menunjukkan bahwa sinergi antara akuntansi forensik, audit internal, dan budaya organisasi membentuk sistem pertahanan komprehensif dalam mengurangi risiko fraud. Meskipun demikian, keterbatasan kajian ini terletak pada sifatnya yang masih bersifat konseptual, sehingga diperlukan pengujian empiris lebih lanjut untuk membuktikan efektivitas penerapan akuntansi forensik dalam berbagai jenis organisasi. Dari sisi praktis, penelitian ini memberikan masukan strategis bagi manajemen, auditor, maupun regulator untuk mengintegrasikan akuntansi forensik ke dalam sistem pengendalian internal dan nilai-nilai organisasi, sehingga tata kelola perusahaan dapat semakin kokoh dalam menghadapi tantangan modern.