Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

UPAYA PERLUASAN KOMODITAS LOKAL KOPI SAPUANGIN MERAPI MELALUI KEMITRAAN KANTOR POS INDONESIA Choirul Wachid; Ihya Pradnya Sayoga; Amelia Erlintang; Rahma Ning Tias; Putra Agil Pambudi
PROFICIO Vol. 5 No. 1 (2024): PROFICIO: Jurnal Abdimas FKIP UTP
Publisher : FKIP UNIVERSITAS TUNAS PEMBANGUNAN SURAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36728/jpf.v5i1.3304

Abstract

Penulisan jurnal ini dilatarbelakangi oleh kendala yang dialami UMKM Kopi Sapuangin dalam upaya perluasan produknya khususnya ke luar wilayah Desa Tegalmulyo. Hal tersebut cukup sulit untuk diwujudkan mengingat masalah aksesibilitas yang sulit, begitu pula dengan jasa layanan ekspedisi yang tidak dapat menjangkau Desa Tegalmulyo. Untuk itu diperlukannya solusi yaitu kerjasama berupa kemitraan yang dilakukan antara pihak ketiga dan UMKM Kopi Sapuangin yang tujuannya membantu memfasilitasi jasa layanan ekspedisi yang dapat menjangkau wilayah terpencil seperti halnya Desa Tegalmulyo. Tujuan penulisan ini yaitu untuk mengetahui dampak dari upaya perluasan komoditas kopi Sapuangin melalui kemitraan dengan Kantor Pos Teori yang digunakan dalam menganalisa yaitu konsep Community Based Tourism (CBT) dan konsep Kemitraan yang kemudian digunakan untuk melihat bagaimana proses kerjasama. Pendekatan yang digunakan dalam penulisan ini adalah metodologi sosiologi empiris, Analisis penelitian melalui metode analisis deskriptif kualitatif serta pengumpulan data yang diperoleh secara langsung dari lapangan. Hasil dari penulisan jurnal ini menunjukkan bahwa kerjasama yang terjalin berupa kemitraan dapat bermanfaat bagi perluasan pasar komoditas lokal Kopi Sapuangin yang semula hanya terbatas di wilayah Kabupaten Klaten dan sekitarnya, kini sudah mulai merambah ke luar kota serta efisiensi waktu maupun biaya melalui pemanfaatan jasa layanan ekspedisi yang telah tersedia.
Feminism as a trigger for change in the dynamics of danjyo kankei and the unmarried trend in Japan Awalia Dhia Nisrina; Rahma Sintya Devi; Dina Pasya Surayya; Rahma Ning Tias; Grace Evelyn Turnip; Septyanto Galan Prakoso
An-Nisa' Journal of Gender Studies  Vol. 17 No. 2 (2024): An-Nisa Journal of Gender Studies
Publisher : Institute for Research and Community Service, Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, East Java, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/annisa.v17i2.306

Abstract

The patriarchal culture in Japanese society can be observed from its smallest and most basic unit, the family, where all decisions are made by men as heads of the household and must be obeyed, making women’s actions dependent on men. Although the trend of remaining unmarried has mainly highlighted women, many Japanese men also follow this pattern. This study aims to analyze the introduction of feminism, its influence, and the impact of the unmarried trend on Japanese society. The research employs a qualitative approach, collecting primary data from official Japanese government websites and secondary data from academic literature. Thematic analysis is applied to identify patterns and relationships, while triangulation and peer review ensure validity and reliability, providing a comprehensive understanding of feminism’s influence on social dynamics and marriage trends in Japan. The study shows that the second wave of feminism in Japan successfully challenged patriarchal norms and promoted gender equality. Women, particularly middle-class mothers, gained the freedom to choose their life paths and develop themselves beyond traditional roles (ryosai kenbo). This shift also influenced young people’s perceptions of marriage and transformed the Danjyo Kankei relationship into a more equal one, empowering women. The study contributes to understanding gender dynamics in Japan by demonstrating how the second wave of feminism changed the Danjyo Kankei relationship and traditional female roles. The findings expand academic insights into gender equality, women’s empowerment, and the impact of social movements on cultural norms and young people’s attitudes toward marriage.