Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Digital Marketing dalam Perspektif Ekonomi Islam Suci Hartini; Fasa, Muhammad Iqbal; Suharto
Jurnal Ekonomika dan Bisnis Islam Vol 5 No 1 (2022): April
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (691.78 KB) | DOI: 10.26740/jekobi.v5n1.p197-206

Abstract

Digital Marketing In Islamic Economic Perspective. Marketing is an activity in which sellers offer products that consumers can buy. While Islamic marketing is a process and strategy (wisdom) of fulfilling needs through halal products and services (tayyibat) with mutual agreement and welfare (Falah from both parties, namely buyers and sellers for the purpose of achieving material and spiritual prosperity in this world and in the hereafter). In digital marketing with an Islamic perspective, all activities related to the technology must be based on sharia law. Just as digital activities are not allowed to contain usury (interest), activities in cyberspace do not contain maisir (gambling), activities involving the manufacture and/or sale of illicit products are prohibited, and the prohibition on activities containing elements of gharar (uncertainty).
Komunikasi Antarbudaya Santri di Pondok Pesantren Nurul Ma’rifah Bondowoso Suci Hartini; Juariyah
Bahasa Indonesia Vol 6 No 2 (2025): J-Kis: Jurnal Komunikasi Islam, Desember 2025
Publisher : Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam IAI Pangeran Diponegoro Nganjuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53429/j-kis.v6i2.1607

Abstract

Pondok pesantren memiliki peranan yang signifikan dalam menanamkan nilai-nilai iman, ketakwaan, serta toleransi. Komunikasi antar budaya dalam Penelitian ini yang terjadi di Pondok Pesantren Nurul Ma'rifah, khususnya terkait dengan cara santri dari berbagai latar belakang budaya berinteraksi satu sama lain serta mengidentifikasi elemen yang memengaruhi kualitas komunikasi. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan bahasa dan proses adaptasi budaya sangat penting dalam berkomunikasi antar santri. Bahasa Madura, yang merupakan bahasa mayoritas di pesantren, digunakan untuk memperkuat hubungan antar santri. Akan tetapi, bahasa Indonesia berfungsi sebagai alat pemersatu bagi santri yang tidak fasih dalam bahasa daerah. Kendala komunikasi muncul akibat perbedaan bahasa, namun santri yang berasal dari luar daerah berusaha mempelajari bahasa Madura untuk mengurangi kecanggungan dan memperlancar interaksi antarbudaya. Kesimpulan dari penelitian ini menekankan bahwa komunikasi antarbudaya di pesantren melibatkan adaptasi budaya, saling menghormati, dan pengulangan komunikasi. Penggunaan bahasa Madura menjadi salah satu cara untuk mempererat hubungan antar santri yang memiliki perbedaan budaya. Rekomendasi yang diajukan adalah agar santri saling memahami dan mempelajari bahasa dari berbagai kebudayaan untuk mempermudah komunikasi antarbudaya. Dengan demikian, akan tercipta kesamaan makna dalam komunikasi sehingga tujuan dari komunikasi dapat tercapai secara efektif.