Hidayat, Ferdy
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Eksistensi Paondo sebagai Model Pengajaran bagi Penghayat Ada’ Mappurondo di Desa Ranteberang, Kabupaten Mamasa Hidayat, Ferdy
PUSAKA Vol 11 No 2 (2023): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v11i2.1224

Abstract

Ada’ Mappurondo adalah kepercayaan tertua masyarakat Kabupaten Mamasa, salah satunya di Desa Ranteberang, Kecamatan Buntu Malangka’. Penghayat Ada’ Mappurondo melaksanakan prinsip hidup melalui petuah dari para leluhur secara lisan, yang dalam bahasa Mamasa disebut Paondo. Petuah tersebut bersumber dari falsafah Pemali appa’ Randanna atau Empat Aturan Dasar. Paondo menguraikan berbagai macam laku kehidupan yang disampaikan oleh orang tua atau sesepuh/pemimpin kampung (tomatua). Artikel ini mengkaji eksistensi paondo sebagai model pengajaran bagi penghayat Ada’ Mappurondo. Analisis dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif, yang didesain secara deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, studi kepustakaan terutama jurnal ilmiah. Artikel ini mengungkapkan bahwa nama Ada’ Mappurondo artinya “ajaran lisan, tidak tertulis”. Sebagai model pengajaran, paondo berfungsi sebagai pembentuk identitas, proses transmisi pengetahuan, dan ekspresi keyakinan yang dianut penghayat. Keberadaan paondo terancam oleh karena faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal seperti desakan budaya asing, keterbukaan informasi melalui gadget dan penghayat yang migrasi keluar dari kampung halaman untuk merantau. Faktor internal adalah melemahnya laku-hidup dalam tatanan Ada’ Mappurondo, karena ajaran tomatua dalam paondo dianggap berseberangan sistem logika masyarakat modern dan pengetahuan yang terlalu hirarki karena terbatas pada keturunan tomatua. Hasil kajian menunjukkan bahwa eksistensi paondo bergantung pada terbangunnya kebiasaan para generasi muda di Desa Ranteberang dalam mendengarkan dan merefleksikan petuah yang ada dalam paondo sebagai pijakan penghayat Ada’ Mappurondo.
Ada' Mappurondo, Indigenous Religion Resurgence and State Accommodation in Indonesia Hidayat, Ferdy
Indigenous Southeast Asian and Ethnic Studies Vol. 1 No. 1 (2025): March
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/iseaes.v1i1.17

Abstract

This article examines the resurgence of indigenous religions in Indonesia, driven by state recognition policies, particularly the Constitutional Court Decision Number 97/PUU-XIV/2016. Focusing on the Ada' Mappurondo community in Mamasa Regency, West Sulawesi Province, the study highlights how adherents, once marginalised by the state and local society, now experience significant changes due to state recognition. However, challenges persist, as their sacred traditions and spiritual practices are frequently undermined by neighbouring communities. Using a qualitative approach and literature review, this article analyses the state's accommodation efforts and their impact on citizen relations following the Constitutional Court's decision. The Ada' Mappurondo community exemplifies both informal and formal citizenship models. Informally, they recognise their limited capacity to influence government decision-making and thus do not actively pursue citizenship rights, despite benefiting from the Court's ruling. Formally, they continue to advocate for the preservation of their ancestral teachings. When local residents disrupt their spiritual practices, the Ada' Mappurondo community responds by asserting their rights. The study concludes that government-facilitated dialogue is essential to foster sustainable relationships between the Ada' Mappurondo community and local residents. Such efforts should not only address practical concerns but also ensure that the aspirations of the Ada' Mappurondo community are heard and respected, thereby strengthening intercommunity relations in the post-recognition era.