Ellia, Seth Kenan
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Intercultural Communication Competence and Loneliness Among Out-Of-Town Students from Central Kalimantan Ellia, Seth Kenan; Rahayu, Maria Nugraheni Mardi
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 12, No 3 (2024): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v12i3.15841

Abstract

Out-of-town students from Central Kalimantan in the Special Region of Yogyakarta  and Central Java face challenges in adapting, becoming independent, and dealing with socio-economic difficulties, as well as experiencing a phenomenon of loneliness. This study explores the relationship between intercultural communication competence and their level of loneliness. The study uses a quantitative method with a correlational design and collects data through an online survey using a questionnaire that measures intercultural communication competence with the Intercultural Effectiveness Scale (IES) (α = 0.867) and level of loneliness with the UCLA Loneliness Scale (Version 3) (α = 0.925). The survey involved 235 overseas students from Central Kalimantan aged 18 to 24 years studying at various universities in DIY and Central Java, using the snowball sampling technique. Data analysis was performed using SPSS version 23 with tests for normality, linearity assumptions, and hypothesis testing with Pearson correlation. The analysis results show a significant negative relationship between intercultural communication competence and level of loneliness (r=−0.795; p=0.000), indicating that the higher the intercultural communication competence, the lower the level of loneliness felt by students. This study emphasizes the importance of developing intercultural communication competence in reducing the level of loneliness in ouf-of-town students.Mahasiswa rantau asal Kalimantan Tengah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah menghadapi tantangan dalam penyesuaian diri, mandiri, dan kesulitan sosial-ekonomi, serta terjadi fenomena kesepian sehingga penelitian ini mengeksplorasi hubungan antara kompetensi komunikasi lintas budaya dengan tingkat kesepian mereka. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain korelasional dan mengumpulkan data melalui survei daring menggunakan kuesioner yang mengukur kompetensi komunikasi lintas budaya dengan skala Intercultural Effectiveness Scale (IES) (α = 0,867) dan tingkat kesepian dengan skala UCLA Loneliness (Version 3) (α = 0,925), melibatkan 235 mahasiswa rantau asal Kalimantan Tengah yang berusia 18 sampai 24 tahun dan menempuh pendidikan di berbagai universitas di DIY dan Jawa Tengah, dengan teknik snowball sampling, analisis data dilakukan menggunakan SPSS versi 23 dengan uji asumsi normalitas, dan linearitas, serta uji hipotesis korelasi Pearson. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara kompetensi komunikasi lintas budaya dengan tingkat kesepian (r=−0,795; p=0,000), menunjukkan bahwa semakin tinggi kompetensi komunikasi lintas budaya, semakin rendah tingkat kesepian yang dirasakan oleh mahasiswa. Penelitian ini menegaskan pentingnya pengembangan kompetensi komunikasi lintas budaya dalam mengurangi tingkat kesepian pada mahasiswa rantau.
Solidarity in Fandom: An Analysis of Weeaboo Community Prosocial Behavior Ellia, Seth Kenan; Susanto, Timotius Iwan
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 14, No 3 (2026): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v14i3.26252

Abstract

The weeaboo community, referring to enthusiasts of Japanese popular culture in Indonesia, represents a large subcultural group that is frequently stigmatized as “no life” (nolep) or antisocial. The paradox between such stigma and the community’s strong internal solidarity provides the foundation for this study. This research aimed to examine the dynamics of prosocial behavior within the wibu community as an empirical counter-narrative to sociocultural stigmatization. A descriptive quantitative approach was employed using a mini-survey of 42 Generation Z participants aged 18–25 years, selected through purposive sampling. Data were collected using the Indonesian adaptation of the Prosocialness Scale for Adults (PSA) by Sefianmi et al. (2023), which assesses the dimensions of sharing, helping, care taking, and empathy. The findings revealed that the weeaboo community demonstrated a moderate level of prosocial behavior (M = 42.76). The highest mean scores were observed in Helping (M = 11.69) and Sharing (M = 11.33). These results challenge the stereotype of antisocial behavior by indicating that experiences of marginalization may strengthen in-group cohesion and solidarity as forms of emotional support. Drawing on Bronfenbrenner’s Ecological Systems Theory and the Rejection-Identification Model, these prosocial behaviors can be understood as socio-psychological adaptations emerging through interactions within the microsystem, reinforced by the mesosystem, and transformed into collective resilience in response to macrosystem pressures. Overall, the findings suggest that subcultural affiliation does not diminish social concern but may instead foster social capital, highlighting the need to deconstruct stigma toward fan communities.Komunitas wibu, yaitu penggemar budaya populer Jepang di Indonesia, merupakan kelompok yang cukup besar, tetapi masih sering menghadapi stigma sosial berupa pelabelan “nolep” (no life) atau antisosial. Paradoks antara stigma tersebut dan kuatnya solidaritas internal menjadi dasar penelitian ini. Penelitian bertujuan menganalisis dinamika perilaku prososial pada komunitas wibu sebagai kontra narasi berbasis data empiris terhadap stigmatisasi sosiokultural. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif melalui mini survey terhadap 42 partisipan Generasi Z berusia 18–25 tahun dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan adaptasi Prosocialness Scale for Adults (PSA) versi Bahasa Indonesia oleh Sefianmi et al. (2023) yang mengukur dimensi sharing, helping, care taking, dan empathy. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunitas wibu memiliki tingkat perilaku prososial pada kategori moderat (M = 42,76). Dimensi dengan skor tertinggi adalah Helping (M = 11,69) dan Sharing (M = 11,33). Temuan ini membantah stereotip antisosial dengan menunjukkan bahwa pengalaman marginalisasi justru dapat memperkuat kohesi dan solidaritas in-group sebagai bentuk dukungan emosional. Berdasarkan Teori Ekologi Bronfenbrenner dan Rejection Identification Model, perilaku prososial tersebut merupakan bentuk adaptasi sosiopsikologis yang berkembang dari interaksi pada tingkat mikrosistem, diperkuat melalui mesosistem, dan menjadi resiliensi kolektif dalam menghadapi tekanan makrosistem. Temuan ini menunjukkan bahwa afiliasi subkultural tidak mengurangi kepedulian sosial, melainkan dapat menjadi sumber terbentuknya modal sosial yang mendorong perlunya dekonstruksi stigma terhadap komunitas penggemar.