Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

A RESONANCE OF THE METROPOLITAN COMMUNITY TOWARDS THE EXISTENCE OF THE TABLIGH JAMAAH IN THE CITY OF JAKARTA: (Case Study at Markaz Al-Muttaqien Ancol) Shorfana, Muhammad Rizky
Al Hikmah Vol 10 No 1 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/ah.v10i2.22692

Abstract

Eksistensi kelompok Jamaah Tabligh di tengah-tengah masyarakat perkotaan yang cenderung memiliki pemikiran yang bebas merupakan suatu fenomena yang unik. Dalam penelitian ini, menjadikan masyarakat Kota Jakarta dan pengikut Jamaah Tabligh sebagai objek yang menarik untuk dijadikan sebuah penelitian. Mengenai bagaimana respons masyarakat metropolitan khususnya Ibu Kota Jakarta terhadap kelompok Jamaah Tabligh. Di mana hal tersebut adalah salah satu dinamika yang akan dihadapi oleh kelompok Jamaah Tabligh. oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menggali informasi mengenai respons masyarakat Ibu Kota Jakarta terhadap aktivitas dakwah kelompok Jamaah Tabligh. selain itu, metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus dan studi pustaka sebagai penunjang informasi mengenai respons masyarakat maupun informasi aktivitas Jamaah Tabligh di Kota Jakarta. Adapun hasil pada penelitian ini adalah menemukan tipologi pada respons masyarakat Jakarta terhadap aktivitas dakwah Jamaah Tabligh di Markaz al-Muttaqien Ancol. Yakni masyarakat yang memandang Kelompok Jamaah Tabligh secara negatif, dan sebaliknya terdapat pula masyarakat yang merespon dakwah kelompok Tabligh dengan baik. Kata Kunci: Eksistensi, Jamaah Tabligh, dan Metropolitan
A RESONANCE OF THE METROPOLITAN COMMUNITY TOWARDS THE EXISTENCE OF THE TABLIGH JAMAAH IN THE CITY OF JAKARTA: (Case Study at Markaz Al-Muttaqien Ancol) Shorfana, Muhammad Rizky
Al Hikmah Vol 10 No 1 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/ah.v10i2.22692

Abstract

Eksistensi kelompok Jamaah Tabligh di tengah-tengah masyarakat perkotaan yang cenderung memiliki pemikiran yang bebas merupakan suatu fenomena yang unik. Dalam penelitian ini, menjadikan masyarakat Kota Jakarta dan pengikut Jamaah Tabligh sebagai objek yang menarik untuk dijadikan sebuah penelitian. Mengenai bagaimana respons masyarakat metropolitan khususnya Ibu Kota Jakarta terhadap kelompok Jamaah Tabligh. Di mana hal tersebut adalah salah satu dinamika yang akan dihadapi oleh kelompok Jamaah Tabligh. oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menggali informasi mengenai respons masyarakat Ibu Kota Jakarta terhadap aktivitas dakwah kelompok Jamaah Tabligh. selain itu, metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus dan studi pustaka sebagai penunjang informasi mengenai respons masyarakat maupun informasi aktivitas Jamaah Tabligh di Kota Jakarta. Adapun hasil pada penelitian ini adalah menemukan tipologi pada respons masyarakat Jakarta terhadap aktivitas dakwah Jamaah Tabligh di Markaz al-Muttaqien Ancol. Yakni masyarakat yang memandang Kelompok Jamaah Tabligh secara negatif, dan sebaliknya terdapat pula masyarakat yang merespon dakwah kelompok Tabligh dengan baik. Kata Kunci: Eksistensi, Jamaah Tabligh, dan Metropolitan
The Habaib in the Struggle for Indonesian Religious Authority Analysis of Bourdieu's Socio-Cultural Theory: Habaib Dalam Perebutan Otoritas Keagamaan Indonesia Analisis Teori Sosial Kultural Bourdieu Shorfana, Muhammad Rizky; Subekti, Fiqi Restu; Aswar, Aswar; Zalsabila, Ayyesa Afrilia
Melo: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 5 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/mjsaa.v5i2.182

Abstract

Abstract: This study aims to explain how the religious authority of the habaib in Indonesia is reproduced through social and symbolic mechanisms. The focus of the study is directed at the question of how Pierre Bourdieu's concepts of habitus, capital, arena, and doxa can be used to understand the reproduction of the religious authority of the habaib in Indonesian Muslim society. This study analyzes the symbolic strategies and social practices implemented by the habaib group in maintaining and expanding their claims to religious authority. The approach used is qualitative with library research methods, with Pierre Bourdieu's works as primary sources and scientific literature related to the habaib and religious authority as secondary sources. The results show that religious practices such as haul, pilgrimage, shalawat assembly, taklim assembly, and the use of genealogical symbols form a religious habitus that functions to convert symbolic, cultural, and social capital into legitimacy of authority. In the competitive arena of religious authority, this process is reinforced through the production of doxa, so that the authority of the habaib is accepted as a religious truth that appears natural and sustainable in the collective consciousness of the community. Abstrak: Penelitian ini bertujuan menjelaskan bagaimana otoritas keagamaan habaib di Indonesia direproduksi melalui mekanisme sosial dan simbolik. Fokus kajian diarahkan pada pertanyaan bagaimana konsep habitus, modal, arena, dan doxa Pierre Bourdieu dapat digunakan untuk memahami reproduksi otoritas keagamaan habaib di tengah masyarakat Muslim Indonesia. Penelitian ini menganalisis strategi simbolik dan praksis sosial yang dijalankan kelompok habaib dalam mempertahankan serta memperluas klaim otoritas keagamaannya. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metode studi pustaka (library research), dengan karya-karya Pierre Bourdieu sebagai sumber primer serta literatur ilmiah terkait habaib dan otoritas keagamaan sebagai sumber sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik keagamaan seperti haul, ziarah, majelis shalawat, majelis taklim, dan penggunaan simbol genealogis membentuk habitus keagamaan yang berfungsi mengonversi modal simbolik, budaya, dan sosial menjadi legitimasi otoritas. Dalam arena otoritas keagamaan yang kompetitif, proses tersebut diperkuat melalui produksi doxa, sehingga otoritas habaib diterima sebagai kebenaran religius yang tampak alamiah dan berkelanjutan dalam kesadaran kolektif umat.
HEGEMONI GRAMSCI DAN PRAKTIK KEAGAMAAN HABAIB DI INDONESIA Shorfana, Muhammad Rizky; Aswar, Aswar
Lisyabab : Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 6 No 2 (2025): Lisyabab, Jurnal Studi Islam dan Sosial
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Sekolah Tinggi Agama Islam Mulia Astuti (STAIMAS) Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58326/jurnallisyabab.v6i2.358

Abstract

This study underscores the pressing need to comprehend the religious practices of habaib in Indonesia within the conceptual framework of Antonio Gramsci's hegemony theory. This phenomenon can be attributed to the profound socio-religious influence of Habaib within Indonesian Muslim society. habaib is frequently regarded not only as a descendant of the Prophet Muhammad, but also as a moral and spiritual authority. This perspective prompts inquiries into the mechanisms through which cultural hegemony can be established by means of religious practices that are transmitted across generations. The present study aims to critically examine how Habaib religious practices, such as maulid, haul, and pilgrimage, act as tools of hegemony within the framework of civil and political society as understood by Gramsci. The methodological approach employed in this study is a qualitative one, incorporating a library research method, with a focus on the analysis of primary and secondary sources pertinent to the theoretical framework of hegemony and the historical context of Habaib. The results of this study demonstrate two significant conclusions. Firstly, Habaib religious practices function as a means of consensus building through symbolic domination in civil society. Secondly, Habaib's position as traditional intellectuals enables them to maintain cultural domination without the use of coercive power. This study demonstrates that religious practices function not only as spiritual activities, but also as a strategic instrument in the process of shaping and maintaining hegemony within Indonesian Muslim society. Key Word: Antonio Gramsci, Hegemony, Habaib