IG Ngurah Rai Artika
Unknown Affiliation

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Daya Guna Pethidin 0,1 Mg/Kgbb dan 0,2 Mg/Kgbb Intrathekal sebagai Adjuvant Bupivakain 0,5% 10 Mg dalam Mencegah Shivering pada Sectio Cesaria Nur Hesti Kusumasari; IG Ngurah Rai Artika; Djajanti Sari
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 1 No 1 (2013): Volume 1 Number 1 (2013)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v1i1.5517

Abstract

Pendahuluan. Shivering akibat anestesi spinal merupakan kejadian yang sering dijumpai dan dapat memberikan dampak yang kurang baik bagi pasien. Berbagai macam obat telah dihunakan untuk mencegah dan memberikan terapi shivering. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan daya guna pemberian pethidin 0,1 mg/kg dan 0,2 mg/kg intrathekal dalam mencegah shivering setelah anestesi spinal pada operasi seksio sesaria. Metode dan Penelitian. Rancangan penelitian ini adalah Randomized Controlled Trial (RCT) dengan pembutaan ganda. Subyek penelitian dilakukan pada 196 wanita hamil, usia 18-40 tahun, status fisik ASA I dan II, umur kehamilan 37-42 mg, berat badan 40-70 kg (indeks masa tubuh < 30 kg/m2), tinggi badan > 145 cm yang menjalani operasi seksio sesaria dengan anestesi spinal, yang dibagi dalam 2 kelompok. Dilakukan anestesi spinal menggunakan bupivakain hiperbarik (0,5% 10mg), pethidin 0,1 mg/kg pada kelompok A, dan pethidin 0,2 mg/kg pada kelompok B dalam volume yang sama yakni 2,5 ml. Hasil. Data demografi, suhu ruang operasi, ketinggian blok, dan lama operasi secara umum tidak didapatkan perbedaan yang bermakna antara kedua kelompok (p>0,05), kecuali pada tinggi badan dan tekanan sistolik (p<0,05). Kejadian shivering pada kelompok A dibanding kelompok B didapatkan perbedaan yang bermakna (35,71%) vs 22,44%; p<0,05). Kejadian efek samping mual muntah pada kelompok A lebih kecil dibandingkan kelompok B (8,33% vs 22,45%) (p<0,05). Kesimpulan. Tidak didapatkan efek samping depresi pernapasan dan pruritus dalam penelitian ini.
Perbandingan Angka Keberhasilan Pemasangan Laryngeal Mask Airway (Lma) Klasik pada Usaha Pertama Antara Teknik Standar dengan Modifikasi Teknik Menggunakan Rigid Stylet Bowo Adiyanto; IG Ngurah Rai Artika; Sudadi
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 1 No 1 (2013): Volume 1 Number 1 (2013)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v1i1.5522

Abstract

Pendahuluan. Angka keberhasilan pemasangan LMA klasik pada usaha pertama dengan teknik standar masih rendah dan bervariasi. Berbagai teknik dan modifikasi pemasangan LMA klasik telah dilakukan untuk meningkatkan keberhasilan dan mengurangi komplikasi. Salah satu modifikasi adalah dengan menggunakan rigid stylet. Kami berharap dengan teknik ini kelemahan pemasangan LMA klasik dengan teknik standar dapat teratasi, LMA menjadi lebih kaku, lengkung pipa lebih sesuai dengan anatomi jalan napas, dan tidak memerlukan ruang yang lebih di rongga mulut sehingga diharapkan dapat meningkatkan keberhasilan pemasangannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji hipotesis bahwa pemasangan LMA klasik pada usaha pertama dengan modifikasi teknik menggunakan rigid stylet lebih baik dibandingkan teknik standar. Metode Penelitian. Merupakan penelitian prospektif, uji klinis acak terkontrol yang dilakukan pada 88 pasien sehat (ASA I atau II) yang menjalani umum anestesi dilakukan randomisasi dan dialokasikan ke salah satu dari 2 dua kelompok yaitu teknik standar (kelompok S) dan kelompok modifikasi teknik menggunakan rigid stylet (Kelompok R). Waktu pemasangan LMA, dan komplikasi pemasangan berupa nyeri tenggorokan dan bercak darah pada LMA secara statistik dianalisa. Hasil. Keberhasilan pemasangan LMA klasik pada usaha pertama adalah terpasangnya LMA klasik yang dinilai efektif memberikan ventilasi pada usaha yang pertama. Angka keberhasilan pemasangan LMA Klasik pada usaha pertama dengan teknik modifikasi dengan rigid stylet (93,%) lebih tinggi dibandingkan dengan teknik standar (83,7%) secara statistik tidak bermakna (p>0,05). Waktu pemasangan secara signifikan lebih cepat pada teknik rigid stilet dibandingkan pada teknik standar. (15,52 ± 4,94 detik dibanding 7,12 ± 3,53 detik) (p<0.05). Kesimpulan. Angka keberhasilan pemasangan LMA Klasik pada usaha pertama dengan teknik modifikasi dengan rigid stylet (93,%) lebih besar dibandingkan dengan teknik standar (83,7%) secara statistik tidak bermakna (p>0,05).
Manajemen Anestesi pada Pasien Mitral Stenosis Berat yang Menjalani Operasi STSG Asep Indah Wuddi Arief; Bhirowo Yudo Pratomo; IG Ngurah Rai Artika
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 1 No 1 (2013): Volume 1 Number 1 (2013)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v1i1.5526

Abstract

Telah dilakukan anestesi pada pasien dengan diagnosis Combutio gr III 29% disertai dengan stenosis mitral berat yang menjalani operasi debridement dan skin traction skin graft (STSG). Pasien dinilai status fisik ASA II. Anestesi dilakukan dengan general anestesi tehnik semi close, ET no 7, napas kontrol dengan pelumpuh otot. Premedikasi dengan midazolam 3 mg dan fentanil 100 mcg, induksi dengan Etomidate 16 mg, dan fasilitas intubasi dengan rokuronium 30 mg. Pemeliharan anestesi dengan O2, Isofluran dan Fentanil kontinyu. Tindakan pembedahan berlangsung selama kira-kira 4 jam. Selama pembedahan hemodinamik relatif stabil dengan tekanan darah sistol 100-120 mmHg, tekanan darah diastol 45-70 mmHg, laju jantung (HR) antara 60-75 x/menit dan saturasi oksigen antara 98-100%, perdarahan selama operasi kira-kira 200 cc, dan urine output ± 200 cc. Pasca operasi pasien dirawat di Unit Luka Bakar.
Penatalaksanaan Anestesi pada Operasi Orif E.C Fraktur Ankle pada Pasien dengan Fraktur Servikal Zaenal Arifin; IG Ngurah Rai Artika
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 1 No 2 (2014): Volume 1 Number 4 (2014)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v1i2.5538

Abstract

Latar Belakang. Fraktur cervical kira-kira terjadi ada 5-10% pasien yang datang ke Instalasi Gawat Darurat dalam keadaan tidak sadar. Kebanyakan fraktur cervical tersebut terjadi pada 2 level. Sepertiga dari fraktur terjadi pada level C2 dan 2/3 lainnya terjadi pada level C6 atau C7.Kasus. Dilaporkan penatalaksanaan anestesi pada operasi ORIF terhadap seorang laki-laki umur 22 tahun dengan fraktur terbuka bimaleoler dari ankle kiri, dengan oedem cerebri dan fraktur cervical IV. Anestesi dilakuan dengan teknik blok saraf perifer yaitu kombinasi blok nervus femoralis dan blok nervus sciatik distal. Pada blok nerfus femoralis digunakan obat anetesi local berupa lidocaine 1% 20 cc dan pada blok nervus sciatik distal diberikan obat anestesi local berupa bupivacaine 0,5% isobaric 25 cc.Operasi berlangsung selama 3 jam 20 menit. Durante operasi hemodinamik stabil. Tekanan darah sistolik berkisar 100-125 mmHg, diastolic 65-80 mmHg, frekuensi jantung 70-95 x/menit. Perdarahan sekitar 100 cc dan urine output 200 cc. Post operasi pasien kembali ke bangsal
Manajemen Anestesi untuk Operasi Tutup Defek Hernia Umbilicalis pada Neonatus dengan Tetralogi of Fallot (TOF) Ressi Bhakti W; Bhirowo Yudo Pratomo; IG Ngurah Rai Artika
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 1 No 3 (2014): Volume 1 Number 3 (2014)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v1i3.5566

Abstract

Tetralogi of Fallot (TOF) adalah salah satu jenis penyakit jantung bawaan sianotik yang ditandai dengan defek septum ventrikel, overriding aorta, obstruksi outflow ventrikel kanan dan hipertrofi ventrikel kanan. penatalaksanaan anestesi pada pasien TOF memerlukan pemahaman akan masalah shunting intracardiac dan obat-obat yang mempengaruhi tingkat shunting kanan ke kiri. Dilaporkan penatalaksanaan anestesi pada pasien neonatus usia 17 hari, berat badan 3200 gram, dengan kelainan jantung bawaan Tetralogy of Fallot yang dilakukan operasi tutup defek hernia umbilikalis. Status fisik ASA III, teknik anestesi dengan anestesi umum semiopen, intubasi dengan ET no 3 tanpa cuff, nafas kendali. Pasien diberikan premedikasi dengan sulfas atropin 0,1 mg intravena, analgesi preemptif dengan Fentanyl 10 ?g intra vena, induksi intravena dengan Ketamin 5 mg, fasilitas intubasi dengan inhalasi Sevofluran dan pemeliharaan anestesi dengan O2, Sevofluran, Ketamin intermitten. Selama operasi hemodinamik relatif stabil dengan HR 120 -160 x/menit, dengan saturasi oksigen berkisar 68-80%.Paska operasi pasien kembali dirawat di NICU dengan ventilator untuk support ventilasi.