p-Index From 2021 - 2026
0.444
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Flourishing Journal
Malinda Syafrina
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Self-compassion sebagai Prediktor Psychological Well-being Mahasiswa di Tiga Perguruan Tinggi Negeri Kota Malang Malinda Syafrina; Ika Andrini Farida
Flourishing Journal Vol. 3 No. 9 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v3i92023p366-379

Abstract

Psychological well-being is a positive evaluation of oneself that is derived from oneself and others, the ability to direct themselves and their environment, a feeling of growth and development, the ability to interpret life, and the ability to associate well with others. One of the factors that can improve psychological well-being is self-compassion. The purpose of this study was to determine the predictive relationship between self-compassion and the psychological well-being of students at three public universities in Malang. This study used quantitative research methods and accidental sampling techniques. The research sample was 250 students from Universitas Negeri Malang, Universitas Brawijaya, and UIN Maulana Malik Ibrahim. The research instrument used was the self-compassion scale to measure self-compassion and the Indonesian version of the psychological well-being scale to measure psychological well-being. The data analysis technique used is simple linear regression analysis. The results of the study show that self-compassion predicts psychological well-being. The result of R Square= 0.548 means that the self-compassion component contributes 54.8% to psychological well-being. Based on the results found, self-compassion can be a predictor in improving the psychological well-being of students at three public universities in Malang. AbstrakPsychological well-being adalah evaluasi positif yang dilakukan untuk diri sendiri dan orang lain, kemampuan mengarahkan diri dan lingkungannya, perasaan tumbuh dan berkembang, kemampuan menginterpretasikan kehidupan, dan kemampuan bergaul dengan baik dengan orang lain. Salah satu faktor yang dapat meningkatkan psychological well-being adalah self-compassion. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan prediktif antara self-compassion dan psychological well-being mahasiswa di tiga perguruan tinggi negeri di Kota Malang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dan teknik pengambilan sampel accidental sampling. Sampel penelitian adalah 250 mahasiswa dari Universitas Negeri Malang, Universitas Brawijaya, dan UIN Maulana Malik Ibrahim. Instrumen penelitian yang digunakan adalah skala welas diri untuk mengukur self-compassion dan skala psychological well-being versi Indonesia untuk mengukur kesejahteraan psikologis. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan self-compassion memprediksi kesejahteraan psikologis. Hasil R Square=0,548 artinya komponen self-compassion berkontribusi sebesar 54,8% terhadap kesejahteraan psikologis. Berdasarkan hasil yang ditemukan, self-compassion dapat menjadi prediktor dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis mahasiswa di tiga perguruan tinggi negeri di Kota Malang.
Gambaran Self-disclosure pada Mahasiswa di Second Account Instagram Malinda Syafrina; Tutut Chusniyah
Flourishing Journal Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v5i22025p69-78

Abstract

Self-disclosure is an effort to introduce oneself to others with the intention of building closer relationships. In the digital era, social media platforms such as Instagram have become popular spaces for self-expression and sharing personal information, especially among university students. However, an interesting phenomenon has emerged where some students choose to use a second, more private account (often referred to as a second account) as a space for personal expression. The aim of this study is to understand the subjective experiences of students engaging in self-disclosure on their second Instagram accounts. The research focuses on uncovering the meaning, motivations, and emotions students experience when sharing and expressing themselves through these more private accounts. A qualitative approach was used, employing in-depth interviews with students who actively use second accounts. The findings reveal that second accounts are perceived as safer and more comfortable spaces for students to pour out their hearts, share their concerns, and express their emotions more honestly, even though they still maintain certain boundaries of privacy in their social media use. AbstrakSelf-disclosure atau keterbukaan diri merupakan sebuah upaya untuk mengenalkan diri sendiri kepada orang lain dengan maksud untuk lebih dekat dengan orang lain. Di era digital, media sosial seperti Instagram menjadi ruang populer untuk mengekspresikan diri dan berbagi informasi pribadi, terutama di kalangan mahasiswa. Namun, terdapat fenomena menarik di mana sebagian mahasiswa memilih menggunakan akun kedua (second account) yang lebih privat sebagai tempat untuk menyalurkan ekspresi diri. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk memahami pengalaman subjektif mahasiswa dalam melakukan self-disclosure di second account Instagram. Penelitian ini difokuskan untuk mengungkap makna, motivasi, serta perasaan yang dialami mahasiswa ketika mereka membagikan dan mengekspresikan diri melalui akun yang lebih tertutup. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan teknik wawancara mendalam kepada mahasiswa yang aktif menggunakan second account. Hasil penelitian menunjukkan bahwa second account menjadi ruang yang dirasa lebih aman dan nyaman bagi mahasiswa untuk mencurahkan isi hati, berbagi keresahan, serta mengekspresikan emosi secara lebih jujur, meskipun mereka tetap menjaga batas privasi dalam bermedia sosial.