Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Makna Simbol Patung Yesus Di Candi Ganjuran Nariyanti, Lucianna Putri; Witjaksono, Bambang; Wiyono, Wiyono
Journal of Contemporary Indonesian Art Vol 9, No 2 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jocia.v9i2.11150

Abstract

Penelitian ini membahas makna simbolik pada patung Yesus di Candi Ganjuran. Julius dan Julian Schmutzer adalah pencetus pertama ide pembangunan Candi Ganjuran, bertujuan untuk masyarakat Indonesia dapat beribadah dengan cara yang nyaman, maka dibuatlah sebuah tempat peribadatan Katolik beserta monumen ucapan syukur berupa sebuah candi yang di dalamnya ada patung Yesus dengan busana kebesaran seorang Raja Jawa.  Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan semiotika dari Charles Sander Peirce. Penelitian ini memaknai Patung Yesus dalam tiga sudut pandang simbol yang berbeda yaitu kekristenan, semiotika Charles Sander Peirce dan kebudayaan Jawa. Dari hasil penelitian yang didapatkan, bagian perbagian patung Yesus yang telah dikaji memiliki makna simbolik yang berbeda-beda. Merujuk pada konsep akulturasi kebudayaan Jawa, konsep awal Schmutzer yang menginginkan tempat peribadatan Katolik supaya dapat melebur dengan masyarakat Jawa berhasil diterapkan dan direalisasikan dengan terwujudnya sebuah candi dengan satu ruang utama berisi patung Yesus. Patung Yesus di dalam candi menggunakan busana kebesaran seorang Raja Jawa dengan maksud Yesus adalah Raja bagi segala bangsa.
Teman Tuli sebagai Ide Penciptaan Karya Seni Grafis Fauzi, Ikbal; Witjaksono, Bambang; Tanama, Albertus Charles Andre
Fenomen: Jurnal Fenomena Seni Vol 1, No 2 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/fenomen.v1i2.9319

Abstract

Manusia diciptakan Tuhan dengan segala perbedaanya yang merupakan sebuah keragaman yang mengagumkan. Oleh karna itu setiap diri manusia memiliki karakteristik tersendiri yang tidak dimiliki oleh orang lain, termasuk teman tuli. Tuli tentu berbeda dengan masyarakat dengar, namun itu bukan berarti tidak normal. Teman tuli memang memiliki perbedaan dari cara berkomunikasi, namun tidak harus menjadi perbedaan yang harus dihina, dicaci, ataupun dimaki. Masih banyak orang yang memandang sebelah mata terhadap teman tuli ini. Pada proyek penciptaan karya ini didahului dengan metode penelitian dengan terjun langsung bersama teman-teman tuli yang ada di Yogyakarta, khususnya bersama dengan teman-teman Ba(wa)yang. Bawayang adalah singkatan dari bayang wayang. Ba(wa)yang digerakkan oleh tuli, dengar, dan difabel lainnya merupakan komunitas inklusi yang bergerak di bidang seni. Teman tuli memang tidak bisa mendengar, tapi bukan berarti mereka tidak dapat menyerap informasi, mereka memiliki indra yang lain seperti hidung, lidah, kulit, dan mata untuk melihat peristiwa-peristiwa yang terjadi. Dari hasil penelitian ini, penulis akan memvisualkannya kedalam karya-karya yang dimuat seni grafis dengan teknik seni cetak tinggi.Deaf Friends as an Idea for Creating Graphic Art Works God created humans with all their differences, which is a fantastic diversity. Therefore, every human has its characteristics that others, including deaf friends, do not have. Deaf people are undoubtedly different from hearing people, but that doesn't mean it's abnormal. Deaf friends have differences in how they communicate, but it doesn't have to be a difference that should be insulted, insulted, or scolded. There are still many people who underestimate Deaf Friends. This work creation project was preceded by research methods by engaging directly with deaf friends in Yogyakarta, especially with Ba(wa)yang friends. Bawayang is an abbreviation of shadow wayang. Ba(wa) driven by the deaf, hard of hearing, and other disabled people, is an inclusive community in the arts field. Deaf friends can't hear, but that doesn't mean they can't absorb information, they have other senses such as nose, tongue, skin, and eyes, to see the events happening. From the results of this research, the author will visualize them in works containing graphic art using advanced printing techniques.
Hybridity and Authenticity of Ichwan Noor’s Sculpture: A Case Study of Bedhaya Kinjeng Wesi Sculpture in Yogyakarta International Airport Witjaksono, Bambang
Journal of Urban Society's Arts Vol 12, No 1 (2025): April 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v12i1.15028

Abstract

The Bedhaya Kinjeng Wesi (literally mean Iron Dragonfly Bedhaya) sculpture represents a significant intersection of traditional Javanese culture and contemporary art at Yogyakarta International Airport (YIA). This study examines how hybridity and authenticity manifest in this commissioned artwork created by sculptor Ichwan Noor between September 2019 and January 2020. Using qualitative methods including participant observation, visual documentation, and interviews, this research analyzes the complex negotiation process that occurred between institutional stakeholders, cultural authorities, and artistic vision. The findings reveal that the sculpture’s creation involved a unique creative sequence: first, a traditional dance form (Bedhaya Kinjeng Wesi Dance) was developed as reference material, then reinterpreted through contemporary sculptural techniques. The resulting artwork demonstrates hybridity through its combination of traditional dance postures, symbolic elements from local oral tradition, and modern materials and aesthetics. This case study contributes to our understanding of how authenticity is negotiated in public art that serves both cultural representation and tourism functions, particularly in postcolonial contexts where local identity intersects with global modernity. Rather than seeing hybridity and authenticity as opposing forces, this research suggests they operate as complementary processes in contemporary cultural production. Hibriditas dan Keaslian Patung Ichwan Noor: Studi Kasus Patung Bedhaya Kinjeng Wesi di Bandara Internasional Yogyakarta. Patung Bedhaya Kinjeng Wesi merupakan persimpangan penting antara budaya Jawa tradisional dan seni kontemporer di Bandara Internasional Yogyakarta (YIA). Studi ini menggunakan metode kualitatif meneliti bagaimana hibriditas dan keaslian terwujud dalam karya seni yang dipesan oleh pematung Ichwan Noor antara September 2019 hingga Januari 2020 termasuk observasi partisipan, dokumentasi visual, dan wawancara. Penelitian ini menganalisis proses negosiasi kompleks yang terjadi antara pemangku kepentingan institusional, otoritas budaya, dan visi artistik. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa penciptaan patung tersebut melibatkan urutan kreatif yang unik: pertama, bentuk tari tradisional dikembangkan sebagai bahan referensi, kemudian ditafsirkan ulang melalui teknik pahatan kontemporer. Karya seni yang dihasilkan menunjukkan hibriditas melalui kombinasi postur tari tradisional, elemen simbolis dari tradisi lisan lokal, dan bahan serta estetika modern. Studi kasus ini memberikan kontribusi pada pemahaman tentang bagaimana keaslian dinegosiasikan dalam seni publik yang berfungsi sebagai representasi budaya dan fungsi pariwisata, khususnya dalam konteks pascakolonial, yaitu identitas lokal bersinggungan dengan modernitas global. Alih-alih melihat hibriditas dan keaslian sebagai kekuatan yang berlawanan, penelitian ini menunjukkan bahwa keduanya beroperasi sebagai proses yang saling melengkapi dalam produksi budaya kontemporer.
Dinamika Kota Dalam Persepsi Seniman: Relief ‘Jogja On The Move’ Di Bandara Internasional Yogyakarta Karya Entang Wiharso Witjaksono, Bambang
Journal of Contemporary Indonesian Art Vol 11, No 1 (2025)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jocia.v11i1.15095

Abstract

This research describes the dynamics of the city of Yogyakarta/Jogja through a work of art in the form of a relief entitled 'Jogja On the Move' by Entang Wiharso in the departure boarding lounge of Yogyakarta International Airport (YIA). In this study, the researcher makes a frame based on the study of artworks towards the development of dynamics that occur in the city of Jogja. Aspects of historical depictions and sites in the city of Jogja are included in the dynamics of its development. The method used is descriptive analytical qualitative in describing artworks towards the dynamics of the city of Jogja found when observing relief artworks in the YIA departure lounge. This research describes the visualization of works of art, especially in terms of the meaning of symbols and texts. From the researcher's observation of the artworks, it was found that the relief artwork entitled 'Jogja On the Move' is an experience, observation, hope and criticism from the artist Entang Wiharso towards the tough tug-of-war between tradition and modernity in the city of Jogja. This can be used as an example to raise public awareness of the need for readiness in navigating the changes or dynamics of a city.Penelitian ini mendeskripsikan dinamika kota Yogyakarta/Jogja melalui karya seni rupa berupa relief berjudul ‘Jogja On the Move’ karya Entang Wiharso di ruang tunggu keberangkatan Bandara Internasional Yogyakarta (Yogyakarta International Airport/YIA). Dalam penelitian ini, peneliti membuat bingkai berdasarkan kajian karya seni terhadap perkembangan dinamika yang terjadi di Jogja. Aspek penggambaran sejarah serta situs di Jogja tercakup dalam dinamika perkembangannya. Metode yang digunakan adalah deskriptif analitis bersifat kualitatif dalam menggambarkan karya seni rupa terhadap dinamika Jogja yang ditemukan saat melakukan pengamatan pada karya seni relief di ruang tunggu keberangkatan YIA. Penelitian ini menjabarkan visualisasi karya seni rupa terutama secara pemaknaan simbol dan teks. Dari pengamatan peneliti terhadap karya yang dihasilkan, ditemukan bahwa karya relief berjudul ‘Jogja On the Move’ merupakan pengalaman, pengamatan, harapan serta kritik dari seniman Entang Wiharso terhadap tarik ulur yang alot antara tradisi dan modernitas di Jogja. Hal ini dapat dijadikan contoh untuk menggugah kesadaran masyarakat bahwa perlu kesiapan dalam mengarungi perubahan atau dinamika sebuah kota.
BEDHAYA KINJENG WESI DANCE CREATION IN THE PERSPECTIVE OF HYBRIDITY AND AUTHENTICITY Witjaksono, Bambang
ARTISTIC : International Journal of Creation and Innovation Vol. 6 No. 1 (2025)
Publisher : ISI Press Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/artistic.v6i1.7092

Abstract

Bedhaya Kinjeng Wesi dance was created as a reference in the process of making the Bedhaya Kinjeng Wesi sculpture, which is installed in the boarding lounge of Yogyakarta International Airport. Kinjeng Wesi is a Javanese term meaning airplane. This study aims to find out the extent of hybridity and authenticity of Bedhaya Kinjeng Wesi dance. The method used is descriptive qualitative analytical by describing the work of art on the aspects of hybridity and authenticity. The elements of hybridity and authenticity in Bedhaya Kinjeng Wesi dance proved to be a mimicry that displays ambivalence because on the one hand it wants to build a common identity with elements of locality, but on the other hand it tries to maintain its differences.