Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

PENINGKATAN PEROLEHAN MINYAK DENGAN METODE INJEKSI SURFAKTAN PETROLEUM SULFONAT SECARA SKALA LABORATORIUM Tjuwati Makmur; Nuraini
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 39 No. 1 (2005): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Surfactant Flooding melakukan salah satu cara untuk menurunkan sisa minyak yang tertinggal didalam reservoir dengan jalan menginjeksikan suatu zat aktif permukaan minyak-air. dengan turunnya tegangan antar muka maka gaya kapiler pada daerah penyempitan pori-pori dapat dikurangi, sehingga sisa minyak yang terperangkap didalam pori-pori dapat dikurangi, sehingga sisa minyak yang terperangkap di pori-pori dapat didesak dan diproduksikan.
Pengaruh Kualitatif dan Kuantitatif Surfaktan Terhadap Peningkatan Perolehan Minyak Tjuwati Makmur
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 38 No. 1 (2004): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada umumnya jumlah penggunaan minyak dari penyimpanan pada waktu produksi adalah relatif kecil dibandingkan dengan kandungan minyak dari penyimpanan tersebut, sehingga minyak yang tersisa dalam mervoar masih cukup besar. Hal ini disebabkan oleh adanya potensi pori-pori dan perbedaan interaksi antarmuka minyak dan udara, sehingga dapat menghambat aliran minyak yang terproduksi. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi efektifitas penginjeksian dan kosurfaktan kerja antara lain adalah terjadinya adsorpsi batuan dengan adanya kandungan mineral (lempung) yang dominan. Tujuan dari penelitian laboratorium ini adalah untuk mengetahui kualitas dan kuantitas penginjeksian kosurfaktan terhadap peningkatan perolehan minyak. Dalam penelitian ini digunakan satu batuan inti (core) berupa batu pasir (sandstone) dengan panjang 4,56 cm, diameter 2,5 cm, porositas 19,99 %, permeabilitas 56,76 mD, pada kondisi percobaan temperatur 40 °C dan laju injeksi 10 cc/jam dan kosurfaktan yang digunakan dalam penelitian ini adalah petroleum sulfonat (Leonox A), yang dilarutkan ke dalam air formasi dengan kandungan garam 21000 ppm. Pengurasan minyak pertama-tama dilakukan dengan cara injeksi udara dan menghasilkan minyak sekitar 2.6 cc dengan perolehan sebesar 73.45 %. Dari proses injeksi air dapat dilihat ternyata minyak yang terproduksi belum seluruhnya, berarti masih ada minyak yang tertinggal di reservoir, yaitu masih terjebak dalam pori-pori batuan. Salah satu penyebabnya adalah karena adanya perbedaan tegangan antar muka minyak-air yang tinggi. Faktor-faktor yang dapat mendukung pendesakan kosurfaktan adalah absorpsi batuan reservoar terhadap larutan kosurfaktan. Dari hasil petrografi, batuan percontoh yang dianalisa merupakan batuan pasir, memiliki kandungan mineral yang dominan, yaitu silika = 91%. Segmen yang dominan adalah kaolinit. Hasil pengamatan tegangan antar muka minyak dan udara, solusi yang baik digunakan adalah kosurfaktan dengan konsentrasi 2.3 % yang menghasilkan harga antarmuka minyak-air (IFT) sebesar 0.0507 dyne/cm. Perolehan minyak yang dihasil- kan dari penginjeksian air adalah sebesar 73,45%. Setelah dilakukan penginjeksian kosurfaktan ke dalam batuan, dapat menaikan produksi minyak, yaitu: sebesar 25,954% setelah penginjeksian air. Dan perolehan minyak keseluruhan dari penelitian ini adalah sebesar 99.40 %.
Pengaruh pH, Temperatur dan Waktu Kontak terhadap Efisiensi Pencegahan Kerak Barium Sulfat dengan Menggunakan Inhibitor DETPMP Tjuwati Makmur
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 39 No. 2 (2005): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Singkapan sedimen umur Paleogen yang terdapat di Indonesia Barat sangat terbatas jumlahnya. Hal ini terutama disebabkan oleh aktivitas tektonik yang intensif yang berlangsung bersamaan dan sesudah umur Paleogen, yang mengakibatkan formasi umur ini tertimbun jauh di bawah permukaan. Sedangkan sedimen Paleogen yang didapat dari pemboran eksplorasi sulit diperoleh karena bersifat rahasia. Oleh karena itu tidak mengherankan kalau penelitian palinologi terhadap sedimen umur ini masih terbatas jumlahnya. Meskipun demikian, gambaran umum palinologi umur Paleogen sedikit banyak sudah terungkap. Sebagai buktinya beberapa peneliti telah menyusun zonasi polen untuk umur Paleogen seperti Morley (1991) dan Rahardjo dkk. (1994). Penelitian paling lengkap terhadap sedimen Paleogen tertua dilakukan oleh Muller (1968) terhadap Formasi Kayan (dulu bernama Plateau Sandstone) berumur Paleosen- Eosen Awal yang tersingkap di Sarawak. Keragaman polen dari formasi ini rendah dibandingkan dengan keragaman polen masa kini yang ada di Dataran Sunda dan umumnya tidak mempunyai kesamaan dengan spesies modern. Di antara sedimen Paleogen yang paling kaya dengan kandungan palinomorf adalah Formasi Nanggulan berumur Eosen Tengah-Akhir yang tersingkap di desa Nanggulan, D. I. Yogyakarta. Beberapa penelitian dilakukan pada formasi ini antara lain oleh Barton (1988), Morley dan Harley (1995), dan Lelono (2000). Keragaman dan kelimpahan polen pada Formasi Nanggulan sangat tinggi terutama pada sedimen umur Eosen Tengah menunjukkan kondisi iklim basah tropis yang memungkinkan terbentuknya hutan tropis yang lebat. Selain itu, penelitian yang telah dilakukan memperlihatkan kehadiran palinomorf yang berasal dari India. Hal ini membuktikan bahwa telah terjadi migrasi tumbuhan dari India ke wilayah Asia Tenggara karena menyatunya kedua daerah tersebut.
Uji Kelakuan Fase dan Tegangan Antarmuka Minyak-Surfaktan-Kosurfaktan-Air Injeksi Nuraini Nuraini; Sugihardjo Sugihardjo; Tjuwati Makmur
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 38 No. 1 (2004): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Alkil benzena sulfonat merupakan salah satu jenis surfaktan yang mampu menurunkan tegangan antarmuka (IFT) minyak-air ke tingkat yang lebih rendah. Dengan turunnya tegangan antarmuka minyak-air, maka tekanan kapiler yang bekerja pada daerah penyempitan pori-pori akan berkurang, sehingga sisa minyak yang terperangkap dalam pori-pori batuan mudah didesak dan diproduksikan. Surfaktan bila dilarutkan di dalam air atau minyak, akan membentuk micelle yang merupakan mikroemulsi dalam air atau minyak. Micelle berfungsi sebagai media yang bercampur (miscible) baik dengan minyak maupun air secara serentak. untuk mendapatkan nilai tegangan antarmuka minyak-air yang lebih rendah, maka ditambahkan kosurfaktan. Pada umumnya kosurfaktan yang digunakan adalah alkohol/ROH (C4, C dan C6).
Mekanisme dan Analisis Pembentukan Endapan Barium Sulfat di dalam Industri Peminyakan Tjuwati Makmur; Nuraini Nuraini
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 38 No. 2 (2004): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam industri perminyakan, endapan telah dikenal sebagai salah satu problem yang serius dan terbentuk di fasilitas produksi minyak dan gas bumi, di sekeliling lubang bor serta di dalam reservoar, yang mengakibatkan laju produksi berkurang karena aliran menjadi terbatas, terhambat oleh berkurangnya di- ameter pipa-pipa, tubing, lubang perforasi dan ruang pori formasi produktif. Bila laju produksi berkurang, tidak diatasi dengan segera, tentu akan menimbulkan dampak negatif di dalam industri perminyakan, yaitu kerugian yang terbesar sebagai akibat penurunan produksi. Endapan yang umum ditemui di lapangan minyak ada beberapa jenis, seperti kalsium karbonat (CACO,), kalsium sulfat termasuk gips (CaSO, 2H,O) dan anhidrit (CaSO,), serta barium sulfat (BaSO,). Batas kelarutan kalsium karbonat dan kalsium sulfat dalam air adalah 20 mg/l dan 2000 mg/l pada 25°C. Batas kelarutan barium sulfat dalam air adalah 2,3 mg/ I pada 25°C dan 3,9 mg/l pada 95°C. Endapan yang paling sulit dipindahkan adalah endapan barium sulfat karena mempunyai sifat kelarutan yang sangat rendah. Oleh sebab itu, penulisan makalah ini difokuskan terhadap mekanisme, persyaratan dan analisis pembentukan endapan, dengan contoh kasus endapan barium sulfat.
Influence Of Activated Carbon On Total Suspended Solids And Relative Plugging Index Of Injection Water From X-Oilfield Tjuwati Makmur
Scientific Contributions Oil and Gas Vol 36 No 3 (2013)
Publisher : Testing Center for Oil and Gas LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/SCOG.36.3.771

Abstract

Produced water will be used as injection water for water flooding need, but, based on the results of water quality tests show poor injection water quality caused by a lot of solids particles with high total suspended solids (TSS) concentration and high relative plugging index (RPI) obtained in the injection water. When, the condition of injection water without treatment is injected into formation will cause serious plugging. In this study, two methods used to minimize the high TSS and RPI problems are treatment with chemical and filtration (activated carbon). The use of optimal concentration of scale inhibitor in the injection water can reduce TSS and RPI in the injection water, but it does not work effectively, so that its water quality is still poor water quality and can cause plugging in the formation. Another method is filtration with activated carbon filter media which has characteristics of adsorption and large specific area to filter insoluble materials in the injection water. After filtration, the filtrate of the injection water results in clear water condition. Based on the results of laboratory tests indicate that the filtrate of the injection water contains the least solids particles with small particle size, low total suspended solids concentration and low relative plugging index value. When, it is injected into formation, the possibility of plugging occurrence can be minimized, although, there is increase of pH value, but, in general, the filtrate of the injection water can be categorized good water quality
The Advantage Of Oil Content In Injection Water Determination Before Implementation Of Waterflood In Oilfield Tjuwati Makmur
Scientific Contributions Oil and Gas Vol 33 No 1 (2010)
Publisher : Testing Center for Oil and Gas LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/SCOG.33.1.807

Abstract

Before implementation of water flooding in oilfield, it will be good to determine oil content in the injection water. The results of laboratory tests provide valuable and useful information, firstly, whether reverse demulsifier is required or not to reduce oil content in water. Secondly, the test results can select the effective reverse demulsifier. S1 and S2 injection water contain very low oil content, so it is not necessary to add reverse demulsifier in the both injection water. High oil content is obtained in S3 injection. The 50 mg/L DKM reverse demulsifier does not work effectively to reduce oil content in the S3 injection water. Whereas, the 50 mg/L Prolab reverse demulsifier is effective and able to reduce oil content sharply in the S3 injection water with 95.46 % efficiency.
Determination Of Asphaltene And C, H, N, O, S Contents In Crude Oil From X-Oilfield In South Sumatra Tjuwati Makmur
Scientific Contributions Oil and Gas Vol 32 No 2 (2009)
Publisher : Testing Center for Oil and Gas LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/SCOG.32.2.840

Abstract

All analyzed crude oil samples contain firstly, the carbon contents in a range of 75.2830 % wt – 83.5739 % wt. Secondly, asphalthene with in a range of 0.6930 % wt – 1.8260 % wt and it can deposit in the formation and block the pore throats, which may reduce the permeability significantly. Thirdly, the hydrogen contents in a range of 9.1948 % wt –11.2339 % wt and it is impurities crude oil indicator. Fourthly, the crude oil samples have zero % wt nitrogen contents and don’t result in corrosive properties. However, the existence of the oxygen contents (in a range of 5.1634 % wt – 14.0560 % wt) and the sulfur contents (in a range of 0.1334 % wt – 0.2533 % wt) in the crude oil samples may cause corrosion problem.
The Influence Of Wet And Dry Seasons Conditions On Chemical Compositions, Properties And Total Suspended Solids Of Different Water Source And Type In Riau-Oil Fields Tjuwati Makmur; Nuraini Nuraini
Scientific Contributions Oil and Gas Vol 32 No 2 (2009)
Publisher : Testing Center for Oil and Gas LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/SCOG.32.2.842

Abstract

Change of wet and dry seasons conditions have major impact, the results of chemical compositions concentration determination for RRV, RST, ORK, KWT, KWL and PRD water samples (sampling in dry seasons) are higher than in wet seasons. All of the analyzed water samples don’t results in the occurrence of calcium sulfate. Only PRD water has potential to form calcium carbonate scale, because pH value in a range of 7.85 – 8.10 (pH >7). The RRV, RST, ORK, KWT, KWL and PRD (sampling in wet and dry seasons) have poor injection water quality, because the concentrations of total suspended solids (TSS) in the analyzed water samples are higher than 8 ppm.
The Use Of Laboratory Tests To Study Oil Content In Injection Water Which Tend To Form Emulsion Block And Can Cause Plugging In Reservoir Rock Tjuwati Makmur
Scientific Contributions Oil and Gas Vol 31 No 1 (2008)
Publisher : Testing Center for Oil and Gas LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/SCOG.31.1.858

Abstract

Oil content plays important role in determining injection water quality before the injection water is injected into reservoir for water flooding need. Determination of oil contents laboratory tests were carried out on five injection water samples from different gathering stations. The results of tests show that two of five injection water samples contain oil contents which fulfill MIGAS guidelines (25 ppm) requirements specification. Whereas, oil contents in the three injection water samples are in a range of 38.00 ppm and 77.00 ppm. The values of oil contents exceed MIGAS guidelines and tend to form emulsion block and cause the occurrence of plugging in reservoir rock.