Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Model Penguatan Kelompok Tani Ternak Makmur Dalam Meningkatkan Usaha Tenak Sapi Perah Desa Tambak Kecamatan Mojosongo Kabupaten Boyolali Kamalia Ulfa; Sugihardjo Sugihardjo; Joko Winarno
Jurnal Ilmu Dan Teknologi Peternakan Indonesia (JITPI) Indonesian Journal of Animal Science and Technology) Vol 6 No 2 (2020): Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Indonesia (JITPI)
Publisher : Faculty of Animal Husbandry, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jitpi.v6i2.59

Abstract

Pengembangan usaha ternak sapi perah tentunya tidak terlepas dari peranan kelompok peternak dalam mengupayakan usaha ternaknya agar mendapat nilai tambah serta efisien dalam pengelolaannya. Upaya yang perlu dikembangkan dalam membina dan memantapkan kelompok peternak adalah memperkuat kelembagaan ekonomi petani peternak di pedesaan. Melalui kelompok peternak sapi diharapkan para peternak dapat saling berinteraksi, sehingga mempunyai dampak saling membutuhkan, saling meningkatkan, saling memperkuat, sehingga akan meningkatkan pengetahuan dan kemampuan dalam mengelola sistem usaha peternakan sapi perah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor internal dan eksternal serta potensi dan upaya Kelompok Tani Ternak Makmur dalam mengembangkan usaha ternak sapi perahnya sehingga dapat mengkonstruksikan model pengutan Kelompok. Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja di KTT Makmur Boyolali. Penelitian ini mengunakan jenis penelitian kualitatif. Penentuan informan dilakukan dengan teknik proposive sampling dan analisis data menggunakan model analisis data interaktif miles dan huberman. Validitas data diperoleh dengan teknik triangulasi sumber data dan triangulasi metode. Berdasarkan hasil penelitian terdapat fakor internal dan faktor eksternal yang mendukung maupun menghambat keberjalanan kelompok. Potensi yang dimiliki kelompok adalah kelompok sudah sejak lama berjalan aktif sehingga anggota sudah terbiasa dengan kegiatan pemeliharaan sapi perah, cukup tersedianya pakan hijauan serta sudah adanya petugas peternakan. Adapun upaya yang dilakukan kelompok adalah pembenahan sarana prasarana, peningkatan kapasitas melalui pembinaan peternak, pemeriksaan kesehatan ternak, dan evaluasi kegiatan usaha ternak. Konstruksi model penguatan kelompok disusun berdasarkan potensi, harapan dan kebutuhan kelompok. Konstruksi model yang didapat yaitu melalui restuktur kelembagaan kelompok dan pengembangan usaha melalui pembibitan sapi perah.
Dinamika Kelompok Dasa Wisma dalam Pengembangan Desa Wisata Genilangit, Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan Via Ainun Sholiha Afif; Sugihardjo Sugihardjo; Agung Wibowo
SOCIAL PEDAGOGY: Journal of Social Science Education Vol 1 No 2 (2020): Social Pedagogy: Journal of Social Science Education
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.335 KB) | DOI: 10.32332/social-pedagogy.v1i2.2483

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kedinamisan kelompok dasa wisma melalui unsur-unsur dinamika kelompok. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif yang disajikan dalam analisis deskriptif. Lokasi penelitian berada di Desa Genilangit, Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan. Terdapat 9 informan dalam penelitian, 3 diantaranya ditentukan secara purposive (sengaja) kemudian sisanya dipilih secara snow ball. Data yang digunakan bersumber dari data primer dan data sekunder yang dihasilkan dari teknik pengumpulan data dengan cara observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dinamika kelompok dalam Kelompok Dasa Wisma yang telah aktif yakni Melati 1, Melati 2, Melati 3, Dahlia 1, Dahlia 2, dan Dahlia 3 memiliki kedinamisan kelompok yang baik. Terlihat dari kesesuaian keadaan kelompok dengan indikator-indikator penilaian dalam setiap unsur-unsur pembentuk dinamika kelompok. Ada 9 unsur-unsur pembentuk dinamika kelompok yaitu tujuan kelompok, struktur kelompok, fungsi tugas kelompok, pengembangan dan pembinaan kelompok, kekompakan kelompok, suasana kelompok, keefektifan kelompok dan maksud terselubung. Kedinamisan yang terjadi secara tidak langsung mempengaruhi kelompok untuk terlibat mendukung penyelenggaraan kegiatan wisata dalam pengembangan Desa Wisata Genilangit. Keterlibatan ini terwujud dalam kegiatan-kegiatan kelompok yaitu kerajinan pembuatan batik, kebun bibit, jasa catering, dan pembuatan jajanan rumahan.
PERAN DAN FUNGSI BADAN PERMUSYAWARATAN DESA (BPD) DALAM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DESA DI DESA KEDATON KECAMATAN KAPAS KABUPATEN BOJONEGORO Tony Rudi Astono; Suminah Suminah; Sugihardjo Sugihardjo
Jurnal Abdimas UNU Blitar Vol 5 No 2 (2023): Volume 5 Nomor 2 : Desember 2023
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28926/jppnu.v5i2.202

Abstract

Badan Permusyawaratan Desa (BPD) merupakan lembaga perwakilan masyarakat di tingkat desa yang memiliki peran penting dalam meningkatkan partisipasi masyarakat dalam program penyuluhan pembangunan. Di Desa Kedaton, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, BPD memiliki tanggung jawab dalam melibatkan masyarakat dalam program-program pembangunan yang dilaksanakan di desa tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dalam meningkatkan partisipasi masyarakat pada program penyuluhan pembangunan di Desa Kedaton, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa BPD memiliki peran yang signifikan dalam meningkatkan partisipasi masyarakat pada program penyuluhan pembangunan di Desa Kedaton. Peran BPD meliputi pengumpulan aspirasi dan kebutuhan masyarakat terkait pembangunan, penyebarluasan informasi mengenai program-program pembangunan, serta pengorganisasian kegiatan penyuluhan untuk meningkatkan pemahaman dan keterlibatan masyarakat. BPD melakukan rapat-rapat dengan masyarakat untuk mendengarkan aspirasi dan kebutuhan mereka terkait program pembangunan. Hasil dari rapat-rapat ini kemudian disampaikan kepada pemerintah desa dan pihak terkait untuk dipertimbangkan dalam perencanaan program pembangunan. Selain itu, BPD juga berperan dalam menyebarkan informasi mengenai program-program pembangunan kepada masyarakat melalui berbagai media, seperti pengumuman di tempat-tempat umum dan penyuluhan melalui pertemuan masyarakat. BPD juga mengorganisasikan kegiatan penyuluhan untuk meningkatkan pemahaman dan keterlibatan masyarakat dalam program pembangunan. Kegiatan-kegiatan ini meliputi penyuluhan tentang teknis pelaksanaan program pembangunan, pelatihan keterampilan, dan sosialisasi mengenai manfaat dari program-program tersebut. Melalui kegiatan ini, masyarakat dapat memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk mendukung program pembangunan dan meningkatkan partisipasi mereka. Dalam hal ini, BPD berperan sebagai penghubung antara pemerintah desa dan masyarakat, sehingga masyarakat dapat ikut serta dalam proses pengambilan keputusan terkait program pembangunan. Peran BPD yang aktif dan efektif dalam meningkatkan partisipasi masyarakat sangat penting untuk mencapai tujuan pembangunan yang berkelanjutan dan memperkuat kemandirian masyarakat.
Uji Kelakuan Fase dan Tegangan Antarmuka Minyak-Surfaktan-Kosurfaktan-Air Injeksi Nuraini Nuraini; Sugihardjo Sugihardjo; Tjuwati Makmur
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 38 No. 1 (2004): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Alkil benzena sulfonat merupakan salah satu jenis surfaktan yang mampu menurunkan tegangan antarmuka (IFT) minyak-air ke tingkat yang lebih rendah. Dengan turunnya tegangan antarmuka minyak-air, maka tekanan kapiler yang bekerja pada daerah penyempitan pori-pori akan berkurang, sehingga sisa minyak yang terperangkap dalam pori-pori batuan mudah didesak dan diproduksikan. Surfaktan bila dilarutkan di dalam air atau minyak, akan membentuk micelle yang merupakan mikroemulsi dalam air atau minyak. Micelle berfungsi sebagai media yang bercampur (miscible) baik dengan minyak maupun air secara serentak. untuk mendapatkan nilai tegangan antarmuka minyak-air yang lebih rendah, maka ditambahkan kosurfaktan. Pada umumnya kosurfaktan yang digunakan adalah alkohol/ROH (C4, C dan C6).
Studi Aktivitas Mikroba untuk proses MEOR Skala labolatorium Sri Kadarwati; Sri Astusi Rahayu; Sugihardjo Sugihardjo
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 38 No. 2 (2004): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cadangan minyak Indonesia yang dapat dieksploitasi sudah menurun, sehingga diperlukan suatu usaha untuk meningkatkan perolehan minyak. Hal ini telah dilakukan baik dengan injeksi air, uap air (steam), gas maupun injeksi kimia. Namun demikian dewasa ini sedang dikembangkan teknologi peningkatan perolehan minyak dengan memanfaatkan aktivitas mikroba. Studi peningkatan perolehan minyak dengan menggunakan mikroba yang disebut dengan microbial enhanced oil recovery (MEOR) telah mencapai kemajuan yang pesat. Selain itu MEOR merupakan teknologi ramah lingkungan. Teknologi ini mempunyai prospek untuk dikembangkan đan diterapkan di lapangan minyak guna meningkatkan produksi minyak. Maksud dan tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mempelajari aktivitas mikroba dalam menghasilkan bioproduk untuk meningkatkan perolehan minyak dalam skala laboratorium. Melalui uji laboratorium diharapkan dapat diperoleh suatu formulasi nutrisi yang tepat bagi pertumbuhan mikroba sehingga dalam aktivitasnya akan menghasilkan bioproduk yang dapat membantu meningkatkan perolehan minyak. Simulasi proses MEOR dilaksanakan pada skala laboratorium melalui uji microbial core flooding sebelum diterapkan di lapangan.
Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Minat Pemuda untuk Berwirausaha Pertanian Kecamatan Wonogiri, Kabupaten Wonogiri Moerindra Sekar Arum Pratiwi; Sugihardjo Sugihardjo; Sapja Anantanyu
JURNAL TRITON Vol 15 No 2 (2024): JURNAL TRITON
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47687/jt.v15i2.825

Abstract

Fenomena penuaan petani di Indonesia termasuk ke dalam permasalahan tenaga kerja pada sektor pertanian. Berdasarkan analisis Survei Pertanian Antar Sensus BPS tahun 2018 jumlah petani muda di Indonesia hanya sebesar 12 persen dari keseluruhan jumlah petani. Peran generasi muda/pemuda dalam pertanian sangat penting untuk meningkatkan dan membangkitkan pertanian Indonesia. Generasi muda sebagai wirausaha pertanian diharapkan mampu meningkatkan pendapatan petani dengan inovasi baru di sektor pertanian. Minat pemuda di Kabupaten Wonogiri memiliki intensitas yang rendah disebabkan oleh kondisi alam, imigrasi penduduk, dan alih profesi non pertanian. Tujuan penelitian adalah mengkaji minat pemuda untuk berwirausaha pertanian di Kecamatan Wonogiri, Kabupaten Wonogiri. Metode dasar yang digunakan dalam penelitian kuantitatif dengan teknik survei menggunakan alat bantu berupa kuesioner dan wawancara. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli-September 2023 secara langsung di Kecamatan Wonogiri Kabupaten Wonogiri. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan Uji Regresi Logistik dengan program IBM SPSS Statistics 27. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minat generasi muda terhadap wirausaha pertanian ditentukan oleh beberapa faktor diantaranya umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, riwayat keluarga petani, kepemilikan lahan pertanian, status pernikahan, luas lahan, dan pendapatan keluarga. Faktor-faktor yang berpengaruh secara signifikan terhadap minat pemuda adalah riwayat keluarga petani dan status pernikahan. Faktor-faktor yang tidak berpengaruh secara signifikan adalah umur, tingkat pendidikan, jenis kelamin, kepemilikan lahan pertanian, luas lahan dan pendapatan keluarga.
Evaluation of Chemical for Sand Consolidation in Laboratory Scale Sugihardjo Sugihardjo
Scientific Contributions Oil and Gas Vol 43 No 1 (2020)
Publisher : Testing Center for Oil and Gas LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/SCOG.43.1.391

Abstract

These paper contains a highlight of laboratory experiment to evaluate the work of chemical for sand consolidation to strengthen the bonding between grains of rock while do not cause permeability reduction significantly. This experiment used reservoir rock and fluids to understand the interaction between the chemical solution and the reservoir rock and fluid. Firstly, the reservoir rock and fluid were analyzed their properties. The rock has been analyzed using CT Scan to drill the best representative core plug for the experiments, using SEM to identify the pore throat and pore geometry of the rock, using XRD to determine the minerals composition which mostly quartz. While the fluids have been analyzed for the anions and cations content, viscosity and other important properties. The brine particle content and also particle size distribution of the rock have been also over lied in the graph in order to know the possibility of bridging particle in the pore throat, but the graph looks good that no problem may arise from the bridging particle. Chemical for Sand Consolidation has been used in this experiment. Sand consolidation chemical normally contain plastic resin that has a property of bonding between solid materials. It sticks on the surface of solid materials and bonding together.The core flooding experiments have been run for 4 times, 2 times using synthetic cores and the other two using native cores. The experiments used synthetic cores reduce the permeability significantly. However, after cutting both ends of the core the permeability has indicated improvement. The other 2 experiments using native cores have reduced the permeability approximately 4 times down. The last two experiments have no cutting the ends of core for further experiments, so they cannot be compared to the first two experiment. So, the experiment procedures must be improved for the next evaluation, such as during curing time the rate of injected oil may be increased to reduce the adsorption of chemical to the surface area of the pore and also to hinder the flocculation of chemical in the pore space.
SUBSTITUTION OF PETROLEUM BASE WITH MES BASE SURFACTANT FOR EOR: LABORATORY SCREENING Sugihardjo Sugihardjo; Hestuti Eni
Scientific Contributions Oil and Gas Vol 37 No 1 (2014)
Publisher : Testing Center for Oil and Gas LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/SCOG.37.1.622

Abstract

Most of Indonesian oil fi eld had been categorized as mature fi led in which production had been declinedfor some time. Therefore EOR (Enhanced Oil Recovery) technology is a must to be implemented to thesekinds of fi eld. There are several EOR technologies had been employed successfully in laboratory and alsofi eld scales, including gas, thermal, and chemical injection. Most Indonesian oil fi elds have productivelayers depths below 2200ft that will not suitable for gas injection. So that chemical injections become animportant alternative that can be implemented to more wide range of depths. These technologies coveralkaline, surfactant, and polymer injection. This paper will highlight the selection and formulation ofsurfactant formulated from MES (Methyl Ester Sulfonates) produced from Palm Oils. These palm oils areavailable very abundant in Indonesia due to plenty farm palm oil in Indonesia. Normally Surfactants areformulated from petroleum sulfonates which are generated from petroleum base. By Using Surfactant that willbe manufactured from palm oil, it will be expected that the price will be cheaper compare to the surfactantfrom petroleum. A series of researches have been done to select the sources of palm oils, producing MESby sulfonation processes, and fi nally surfactant screening for EOR. Several types of MES produced fromvaries of palm oil taken from market such as: CPO (crude palm oil), several packed palm oils of differenttrademarks have been generated. These MES, then, have been given codes to differentiate among these MESsuch as: 1. CCO-MES (A), 2. CCO ME-MES (B), 3. Oleic Acid- MES (C), 4. Natrium Bisulfi t- MES1 (D),5. ME+H2SO4-MES2 (E), 6. CPO-MES (F). These MES production, then, have been formulated to becomesurfactant formula by adding some chemicals and solvent. After that alkaline ((Na2CO3) with optimizedconcentrations were added to generate the best EOR properties. All those Surfactant-MES have been testedusing Lemigas standard laboratory EOR screening; those are compatibility tests, IFT measurements, thermalstability, adsorption, fi ltration, phase behavior, imbibitions and core fl ooding. The result of the screening ofthe MES-chemicals mixtures shows that mixture of CPO-MES (F) with chemical and solvent with the mixturecomposition denoted as FChS811 has the best performance. 1% of this mixture has the best properties forEOR after adding 0.1% of Alkaline (Na2CO3). Laboratory test results indicates that fulfi ll screening criteriasuh as good compatibility and no precipitation, low IFT, thermal stability, low adsorption, low fi ltrationratio, Winsor type-I phase behavior, high RF on imbibition and core fl ooding tests. This Surfactant-MESmixture has a potential to be implemented for a fi eld trial with Huff and Puff method.
DISCREPANCY OF MCMP DERIVED FROM EXPERIMENTS AND PREDICTION MODELS OF SOME INDONESIAN OIL FIELDS Sugihardjo Sugihardjo
Scientific Contributions Oil and Gas Vol 37 No 2 (2014)
Publisher : Testing Center for Oil and Gas LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/SCOG.37.2.627

Abstract

Most of oil fi elds in Indonesian have been categorized as mature fi elds, since the primary stages of theoil production nearly fi nished. Therefore EOR technology is the only option to rejuvenate those old oil fi eldsto increase the oil recovery. CO2 miscible fl ooding, one of the proven EOR technology, can be implementedin some Indonesia oil fi elds if they fulfi ll the screening criteria for CO2 injection. Laboratory works initiallyshould be carried out to determine some parameters for calibrating the reservoir simulation program. Themost important parameter is MCMP (multiple contact miscibility pressure), this pressure level can be usedto determine the displacement effi ciency of the CO2 injection. Above the MCMP will be more effi cientcompare to below MCMP injection pressure. MCMP is normally can be obtained in the lab by a Slim tubeapparatus. In case there are no oil and gas sample available, some correlations based on the empiricalfi eld data are also available in the literature as well as EOS (equation of state) for predicting MCMP. Somereservoir fl uids MCMP have been evaluated using those three methods. Then, discrepancies were calculatedto compare the results of Slim tube tests, correlations and EOS calculation. Four correlations such as NPC(National Petroleum Council), Cronquist et al, Yellig-Metcalfe, Holm-Yosendal and one EOS modeling ofPeng-Robinson (1978) have been proposed to predict the MCMP fourteen reservoirs. Moreover, those MCMPwere also run using Slim tube. Holm-Yosendal correlation has nine reservoirs and secondly Yellig-Metcalfemethod possesses six reservoirs with discrepancy below 10% compare to MCMP obtained from Slim Tubetests. While the other methods are not appropriate as well as Peng-Robinson EOS modeling without anylaboratory data for calibration.
EVALUATION OF SURFACTANT WITH THIN FILM SPREADING MECHANISM FOR EOR IMPLEMENTATION Sugihardjo Sugihardjo
Scientific Contributions Oil and Gas Vol 37 No 3 (2014)
Publisher : Testing Center for Oil and Gas LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/SCOG.37.3.635

Abstract

Wettability plays an important role of two phase Àuids Àow in porous media. The displacement efficiency of oil by injected Àuid is also dictated by wettability characteristic of reservoir rocks. This papers contents a highlight of the reservoir wettability modification by injecting TFSA (Thin Film Spreading Agent) surfactant for EOR applications through a laboratory study . TFSA used in this study is called Coconut Ethanolamide with a HLB (Hydrophilic-Lipophilic Balance) level around 13 to 15 which is very suitable for TFSA purposes. Several laboratory evaluations have been done to screen this surfactant with the aim of getting the best properties that fulfill the criteria for EOR chemical injection. Then TFSA solution tests have been carried out including compatibility, thermal stability, phase behavior, and filtration test. The results suggest that all measured parameters are suitable for chemical injection. Others parameters measuring rock Àuid interactions for instance: adsorption, wettability, imbibition, relative permeability, and core Àood experiments has been done to find the quantitative numbers for screening this surfactant. All experiment results categorize as moderate levels for passing the screening criteria for chemical injection except for the adsorption which is excellent. Even though the results of laboratory tests show this TFSA is valid for chemical injection, improvement by adding some chemicals is still suggested to find a better TFSA formula.