Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

SINTESIS DME BERBAHAN DASAR SYNGAS DENGAN MENGGUNAKAN REAKTOR CSTR DAN PFR Holisoh
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 52 No. 1 (2018): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dimetileter memiliki bilangan oktana tinggi dan sifat mirip dengan LPG, dapat digunakan sebagai bahan bakar diesel untuk mobil dan LPG alternatif untuk rumah tangga. Reaksi sintesis DME merupakan reaksi kesetimbangan yang dipengaruhi oleh kemampuan aktivitas katalis. Penanganan panas hasil reaksi dapat berpengaruh pada terbentuknya reaksi sekunder, sehingga mengurangi pembentukan DME. Dalam penelitian telah dicoba proses sintesis dengan 2(dua) reaktor yang berbeda yaitu reaktor CSTR (Continuous Stirer Tank reactor) dan PFR (Flug Flow Reactor) untuk mempelajari kemampuan katalis sintesis DME. Maksud dan tujuan penelitian ini adalah mendapatkan teknologi sintesis DME dengan menggunakan reaktor CSTR dan PFR, serta mempelajari kinerja katalis terhadap produk DME pada reaktor tersebut. Katalis yang digunakan terdiri dari katalis sintesis metanol Cu/ZnO/Al2O3 dan katalis dehidrasi ƴ- Al2O3, HZSM-5. Uji kinerja katalis DME kopresitasi pada reaktor CSTR menghasilkan hidrokarbon ringan (54,52%), metanol (25,15 %), dan DME (10,10%). Panas reaksi berlebih pada reaktor CSTR menurunkan aktvitas katalis dehidrasi. Sedangkan pada reaktor Plug Flow Reactor (PFR) dengan sistem unggun katalis fixed bed katalis ko impegrasi memberikan komposisi produk DME yang baik yaitu DME (88 %), metanol (10 %), dan sedikit hidrokarbon ringan (2%). Reaktor PFR memberikan penanganan panas yang lebih baik, dan mampu memberikan produk reaksi lebih baik dari pada reaktor CSTR.
Pembangunan Kilang Baru Holisoh; Fiqih Ghifhari; Dessy Yudiartini; Mubaher Sidik
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 49 No. 1 (2015): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia membutuhkan 2(dua) kilang baru dengan kapasitas 300 ribu bph untuk mengatasi imporBBM. Pemerintah telah menerima beberapa pengajuan rencana pembangunan kilang baru dari beberapainvestor seperti Saudi Aramco dan Kuwait Petroleum melalui kerja sama dengan Pertamina.Namun belumada keputusan yang konkrit untuk kerjasama terkait, sehingga Pemerintah perlu mencari strategi untukterwujudnya pembangunan kilang tersebut, termasuk cara pengadaan minyak mentah untuk bahan baku,penentuan konfi gurasi kilang serta pola pendanaannya. Untuk menyatukan pendapat terkait pengembangankilang, LEMIGAS telah melakukan FGD (Focus Group Discussion) pada 26 Juni 2014 di Bogor denganpeserta lintas kementrian. Hasil presentasi & diskusi dari berbagai sudut pandang diperoleh gambaranbahwa pemerintah harus segera membangunan kilang baru, memilih pola pendanaan yang layak, dan mampulaksana. Pemilihan konfi gurasi kilang BBM & petrokimia mampu memberikan marjin lebih baik, karenamenghasilkan produk petrokimia yang lebih ekonomis dan memaksimalkan pemanfaatan hidrokarbon,serta mengoptimalkan penggunaan utilitas. Kilang pembiayaan swasta memberikan IRR sebesar 6% tanpainsentif dari pemerintah. Dengan insentif (tax allowance atau tax holiday dan pembebasan PPN barangkena pajak strategis) IRR akan meningkat menjadi 7%. Namun inipun belum cukup menarik untuk investorswasta, yang memerlukan IRR minimum sebesar 12%. Skema Kerja sama Pemerintah dan Swasta (KPS)yang disertai insentif dapat meningkatkan IRR menjadi sekitar 10-12%. Kenaikan IRR ini diakibatkanoleh 70% equity merupakan dana pemerintah. Meskipun demikian, kemungkinan pelaksanaan pendanaansecara KPS akan memerlukan proses dan waktu cukup panjang. Pembiayaan oleh Pemerintah seluruhnyadapat memberikan IRR 8,4%. Ini akan menarik apabila Pemerintah dapat menjual obligasi valas atauSuku valas/obligasi syariah yang dimasa lalu dengan kupon/imbal jasa lebih rendah dari 6% dan menurun.