Ella Dwi Cahyani
Universitas Negeri Malang

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengaruh Pengembangan Sektor Basis Terhadap Upaya Pengentasan Kemiskinan di Kabupaten Bangkalan Astrid Tharissa Az Zachra; Alika Putri Rahma Damayanti; Ella Dwi Cahyani; Lintang Gading Pramesti; Singgih Susilo
PANOPTIKON: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 2 No 2 (2023): Mei 2023
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kemiskinan merupakan kondisi ketidakmampuan dari sisi ekonomi, materi dan fisik untuk mencukupi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang di ukur dengan pengeluaran. Kabupaten Bangkalan termasuk wilayah termiskin kedua di Jawa Timur setelah Kabupaten Sumenep. Penduduk miskin di Kabupaten Bangkalan mencapai 21,57% dengan jumlah penduduk miskin mencapai 215,97 juta jiwa. Secara umum, penduduk di Kabupaten Bangkalan masih bergantung pada sektor basis, yaitu sektor pertanian dan perikanan. Sektor basis sendiri adalah pertumbuhan sektor yang menentukan pembangunan menyeluruh pada suatu daerah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh pengembangan sektor basis terhadap upaya pengentasan kemiskinan di Kabupaten Bangkalan. Penelitian ini termasuk kedalam penelitian deskriptif kuantitatif. Sumber data yang digunakan adalah data sekunder dengan teknik pengumpulan studi literatur, observasi tidak langsung, dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah analisis tabulasi tunggal dan uji statistik korelasi spearman. Berdasarkan data PDRB Kabupaten Bangkalan tahun 2021, sektor unggulan Kabpuaten Bangkalan adalah sektor pertanian yang memberikan kontribusi besar terhadap PDRB yaitu sebesar 39,71 %. Berdasarkan hasil interpretasi Korelasi Spearman dengan korelasi koefisien Spearman-Rank menurut D.A de Vaus yang menunjukkan bahwa sektor basis dan PDRB memiliki hubungan yang kuat. Nilai koefisien korelasi tersebut bermakna positif yang menunjukkan hubungan searah yang berarti semakin besar jumlah sektor basis maka nilai PDRB di Kabupaten Bangkalan akan meningkat.
Thirdspace Perspectives on Student Marriage: Intersection of Culture, Space, and Identity in Bojonegoro, Indonesia Ella Dwi Cahyani; Singgih Susilo; Bnar Abdulwahab
Future Space: Studies in Geo-Education Vol. 2 No. 3 (2025): Future Space: Studies in Geo-Education
Publisher : CV Bumi Spasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69877/fssge.v2i3.86

Abstract

Universities in Indonesia do not limit the age of prospective students who want to continue their education, so many married students continue their studies. The decision to get married while still studying will affect self-adjustment in dividing time between household duties and coursework. The concepts and definitions related to this research are based on the theories of Alfred Schutz, Mead and Blumer. Complementing these, Edward Soja's concept highlights how the subjects negotiate their identity within the intersection of academic (Firstspace) and domestic (Secondspace) environments. The approach used in this research is a phenomenological qualitative approach, so that researchers are directly involved and cannot be represented. The subjects used are actively married female students who are currently studying at Bojonegoro Regency Universities. Data collection procedures in the form of observation, in-depth interviews and literature studies. Data collection uses the source triangulation method which is analyzed according to Miles and Huberman. At the reduction stage, based on strict inclusion criteria verification, the research subjects were determined from 11 informants to 7 informants. The results of this study indicate that marriage in female college students is based on the concept of "because motives" and "in order to motives" so that an understanding emerges. While the social interaction of married female students is based on the concept of social interaction which is strengthened by positive support and views of the broader social environment in Bojonegoro, which often leads to negative stigmas regarding early marriage.