Arfin Nurma Halida
Universitas Negeri Surabaya

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Resiliensi Klien Rehabilitasi NAPZA ditinjau dari Dukungan Sosial di Kota Surabaya Ihsan Ridho Maarief; Arfin Nurma Halida
Jurnal Ragam Pengabdian Vol. 3 No. 1 (Spesial Issue) (2026): "Dharma Samudera"
Publisher : Lembaga Teewan Journal Solutions

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/sjwnt970

Abstract

Kasus penyalahgunaan narkoba di Indonesia terus meningkat, menimbulkan tantangan psikologis yang serius bagi individu yang menjalani rehabilitasi. Salah satu kemampuan psikologis utama yang diperlukan untuk bertahan dalam proses rehabilitasi adalah ketahanan. Dukungan sosial telah diusulkan sebagai faktor eksternal yang secara signifikan mempengaruhi ketahanan; namun, bukti empiris yang secara khusus mengkaji hubungan ini di kalangan klien rehabilitasi aktif di Indonesia masih terbatas. Studi ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara dukungan sosial dan ketahanan di kalangan klien rehabilitasi narkoba di Surabaya. Studi ini menggunakan desain korelasi kuantitatif dengan 165 responden yang direkrut dari enam lembaga rehabilitasi narkoba di Surabaya, dipilih melalui sampling acak proporsional. Data dikumpulkan menggunakan dua skala psikologis: Skala Dukungan Sosial (SPS) yang dikembangkan oleh Cutrona dan Russell untuk mengukur dukungan sosial, dan Skala Ketahanan Connor-Davidson (CD-RISC) untuk mengukur ketahanan, keduanya dalam versi Indonesia yang telah divalidasi. Data dianalisis menggunakan korelasi momen produk Pearson dengan bantuan perangkat lunak JASP 18.0. Hasil penelitian menunjukkan korelasi positif dan signifikan antara dukungan sosial dan ketahanan, dengan koefisien korelasi sebesar 0.323, yang menunjukkan hubungan yang rendah hingga sedang. Dukungan sosial berkontribusi sebesar 10,4% terhadap varians ketahanan, sementara sisanya 89,6% disebabkan oleh faktor lain. Sebagian besar responden dikategorikan pada tingkat sedang untuk kedua variabel tersebut. Temuan ini menegaskan bahwa dukungan sosial memainkan peran yang berarti namun parsial dalam membangun ketahanan di kalangan klien rehabilitasi narkoba, dan bahwa pendekatan intervensi multifaktorial diperlukan untuk memperkuat ketahanan secara komprehensif selama proses rehabilitasi.
Hubungan Rasa Memiliki dengan Self-Esteem pada Siswa SMA Boarding School X Himmatul; Arfin Nurma Halida
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 13 No. 02 (2026): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v13n02.p478-488

Abstract

Lingkungan boarding school memiliki karakteristik kehidupan yang intens dengan tuntutan akademik, sosial, dan pengasuhan sepanjang waktu, sehingga menuntut kemampuan adaptasi psikologis yang baik dari siswa, khususnya dalam pembentukan self-esteem yang berkaitan dengan rasa memiliki (sense of belonging). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara rasa memiliki dan self-esteem pada siswa SMA Boarding School X. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Subjek penelitian berjumlah 113 siswa aktif kelas X–XII yang dipilih menggunakan teknik sampling jenuh. Pengumpulan data dilakukan menggunakan Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES) dan Sense of Belonging Instrument (SOBI) dengan skala Likert empat tingkat. Hasil uji normalitas menunjukkan data tidak berdistribusi normal, sehingga analisis menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara rasa memiliki dan self-esteem (ρ = 0,263; p = 0,005) dengan kekuatan hubungan rendah. Temuan ini menunjukkan bahwa rasa memiliki berperan dalam pembentukan self-esteem siswa di lingkungan boarding school, meskipun bukan merupakan faktor dominan, sehingga self-esteem dipengaruhi oleh berbagai faktor psikososial dalam konteks pendidikan berasrama. Abstract The boarding school environment is characterized by an intensive lifestyle with continuous academic, social, and caregiving demands, requiring strong psychological adaptation from students, particularly in the development of self-esteem related to sense of belonging. This study aims to examine the relationship between sense of belonging and self-esteem among students of Boarding School X. This study employed a quantitative approach with a correlational design. The participants were 113 active students from grades X–XII selected using total sampling technique. Data were collected using the Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES) and the Sense of Belonging Instrument (SOBI) with a four-point Likert scale. The normality test indicated that the data were not normally distributed; therefore, Spearman correlation analysis was used. The results revealed a positive and significant relationship between sense of belonging and self-esteem (ρ = 0.263; p = 0.005) with a low correlation strength. These findings indicate that sense of belonging plays a role in the development of students’ self-esteem in the boarding school environment, although it is not a dominant factor, suggesting that self-esteem is influenced by various psychosocial factors within the residential education context.
Memaknai Ekspresi Gender: Studi Fenomenologis Pada Performer Dance Cover K-Pop Bergaya Androgini Satria Dewangga Putra Mahendra; Arfin Nurma Halida
Science and Education Journal (SICEDU) Vol 5 No 2 (2026): Science and Education Journal 2026
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/sicedu.v5i2.756

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana pelaku dance cover K-pop laki-laki bergaya androgini memaknai ekspresi gender mereka di tengah norma sosiokultural Indonesia yang konservatif. Penelitian kualitatif ini menggunakan pendekatan fenomenologi untuk menggali kedalaman pengalaman hidup (lived experience) tiga informan kunci. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekspresi gender androgini bukanlah esensi internal yang menetap, melainkan proyek performatif dinamis yang dikonstruksikan secara diskursif melalui stilisasi tindakan tubuh yang diulang (stylized repetition of acts). Di atas panggung, pelaku berhasil melakukan subversi parodik atas oposisi gender biner, mengonversi trauma perundungan dan kecemasan sosial menjadi kesenangan eksistensial (pleasure). Namun, kebebasan performatif ini dibatasi oleh fiksi regulatif masyarakat religius, sehingga pelaku menerapkan taktik pembelahan identitas secara ketat—bersikap konformis di lingkungan domestik/akademis dan mengekspresikan androgini di komunitas dance cover. Melalui dialektika ini, androgini akhirnya dimaknai sebagai instrumen koping psikologis yang melatih fleksibilitas perilaku, membangun konsep diri yang adaptif, serta meningkatkan resiliensi mental pelaku menghadapi stigma sosial.