Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana pelaku dance cover K-pop laki-laki bergaya androgini memaknai ekspresi gender mereka di tengah norma sosiokultural Indonesia yang konservatif. Penelitian kualitatif ini menggunakan pendekatan fenomenologi untuk menggali kedalaman pengalaman hidup (lived experience) tiga informan kunci. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekspresi gender androgini bukanlah esensi internal yang menetap, melainkan proyek performatif dinamis yang dikonstruksikan secara diskursif melalui stilisasi tindakan tubuh yang diulang (stylized repetition of acts). Di atas panggung, pelaku berhasil melakukan subversi parodik atas oposisi gender biner, mengonversi trauma perundungan dan kecemasan sosial menjadi kesenangan eksistensial (pleasure). Namun, kebebasan performatif ini dibatasi oleh fiksi regulatif masyarakat religius, sehingga pelaku menerapkan taktik pembelahan identitas secara ketat—bersikap konformis di lingkungan domestik/akademis dan mengekspresikan androgini di komunitas dance cover. Melalui dialektika ini, androgini akhirnya dimaknai sebagai instrumen koping psikologis yang melatih fleksibilitas perilaku, membangun konsep diri yang adaptif, serta meningkatkan resiliensi mental pelaku menghadapi stigma sosial.
Copyrights © 2026