Urban Heat Island (UHI) merupakan salah satu permasalahan lingkungan utama di wilayah metropolitan seperti Jakarta yang dipengaruhi oleh urbanisasi dan perubahan tutupan lahan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika spasio-temporal UHI di Jakarta sebelum (September 2019), saat (September 2020), dan setelah (September 2023) pandemi COVID-19. Penelitian menggunakan citra Landsat-8 OLI/TIRS Collection 2 Level-1 yang diolah dengan perangkat lunak Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk memperoleh parameter Normalized Difference Vegetation Index (NDVI), Land Surface Temperature (LST), dan distribusi UHI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wilayah Jakarta didominasi oleh area non-vegetasi pada seluruh periode pengamatan. Pada September 2020 terjadi peningkatan luas vegetasi dibandingkan tahun 2019, yang diikuti oleh penurunan suhu maksimum permukaan dan berkurangnya luas area UHI intensitas tinggi (UHI 2). Namun, pada September 2023 area non-vegetasi kembali meningkat disertai peningkatan area UHI 2 dibandingkan tahun 2020. Analisis korelasi NDVI dan LST menunjukkan hubungan negatif pada seluruh periode pengamatan, yang mengindikasikan bahwa wilayah dengan vegetasi lebih tinggi cenderung memiliki suhu permukaan lebih rendah. Selain itu, intensitas UHI pada wilayah suburban menunjukkan variasi spasial yang berbeda dibandingkan wilayah urban, dengan intensitas yang cenderung lebih rendah pada kawasan dengan tutupan vegetasi lebih tinggi. Meskipun analisis dilakukan pada periode pengamatan terbatas untuk meminimalkan pengaruh musiman, variabilitas kondisi meteorologis antar tahun masih dapat memengaruhi dinamika NDVI dan LST yang diperoleh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dinamika UHI di Jakarta dipengaruhi oleh perubahan tutupan vegetasi, distribusi suhu permukaan, dan karakteristik kawasan perkotaan. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam pengembangan strategi mitigasi UHI melalui optimalisasi ruang terbuka hijau dan pengelolaan lingkungan perkotaan yang berkelanjutan.