Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Eskalasi Konflik Iran-Israel di Damaskus: Implikasi terhadap Stabilitas Keamanan Regional dan Global Suhayatmi; Alia Rahmatulummah; Sekar Anugrah Resky
JURNAL HUBUNGAN LUAR NEGERI Vol. 9 No. 1 (2024): Jurnal Hubungan Luar Negeri
Publisher : Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas implikasi dari eskalasi konflik Iran-Israel pasca serangan bom terhadap gedung Konsuler Kedutaan Besar Iran di Damaskus pada April 2024. Konflik ini menandai perubahan signifikan dalam pola perang proksi yang selama ini dijalankan Iran melalui kelompok-kelompok seperti Hizbullah, Hamas dan pendukung rezim Assad di Suriah. Penelitian ini menggunakan teori Stabilitas Keamanan Regional dan teori Interdependensi Kompleks untuk menganalisis dampak konflik ini terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah dan global. Hasil penelitian menunjukkan bahwa eskalasi konflik tidak hanya mengancam stabilitas regional, tetapi juga memiliki potensi untuk memicu konflik global yang lebih luas. Melalui pendekatan deskriptif kualitatif, penelitian ini berusaha memberikan pemahaman komprehensif mengenai implikasi politik, militer dan keamanan dari eskalasi konflik Iran-Israel.
OPPORTUNITIES TO ADVANCE INDONESIA'S ECONOMY THROUGH THE OECD AND BRICS Alia Rahmatulummah; Bagas Rizky Ramadhan; Inas Alya Naura
Budi Luhur Journal of Strategic & Global Studies Vol. 3 No. 1 (2025): January
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36080/jsgs.v3i1.49

Abstract

Abstract: Indonesia's membership in the Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) and BRICS (Brazil, Russia, India, China, South Africa) is a strategic step to strengthen itse conomic and political position on the global stage. In facing globalc hallenges such as the COVID-19 pandemic and commodity pricef luctuations, involvement in these two organizations is expected to provide significant benefits for economic growth and national development. Joining the OECD provides access to best practicesand international standards, which can enhance the quality of public policies and Indonesia's economic reputation. Meanwhile, membership in BRICS offers opportunities to expand export markets and increase cooperation with other developing countries. Despite challenges, such as economic disparities among BRICS members and the need to improve the competitiveness of national products, this move reflects a pragmatic approach in Indonesia's foreign policy. By leveraging opportunities from both organizations, Indonesia can accelerate its economic transformation and achieve the status of a developed nation in line with the vision of Indonesia Gold 2045.  Abstrak: Keanggotaan Indonesia dalam Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) dan BRICS (Brazil, Rusia, India, China, Afrika Selatan) merupakan langkah strategis untuk memperkuat posisi ekonomi dan politik di kancah global. Dalam menghadapi tantangan global seperti pandemi COVID-19 dan fluktuasi harga komoditas, keterlibatan dalam kedua organisasi ini diharapkan dapat memberikan manfaat signifikan bagi pertumbuhan ekonomi dan pembangunan nasional. Bergabung dengan OECD memberikan akses ke praktik terbaik dan standar internasional, yang dapat meningkatkan kualitas kebijakan publik dan reputasi ekonomi Indonesia. Sementara itu, keanggotaan dalam menawarkan peluang untuk memperluas pasar ekspor dan meningkatkan kerjasama dengan negara-negara berkembang lainnya. Meskipun terdapat tantangan, seperti ketimpangan ekonomi antar anggota BRICS dan kebutuhan untuk meningkatkan daya saing produk nasional, langkah ini mencerminkan pendekatan pragmatis dalam politik luar negeri Indonesia. Dengan memanfaatkan peluang dari kedua organisasi ini, Indonesia dapat mempercepat transformasi ekonomi dan mencapai status negara maju sesuai dengan visi Indonesia Emas 2045.
FROM KITCHEN TO DIPLOMACY: KOREAN CUISINE AS SOFT POWER Gadis Hilmi Nabiilah Rose; Alia Rahmatulummah; Siti Mardanita
Budi Luhur Journal of Strategic & Global Studies Vol. 3 No. 2 (2025): July
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36080/jsgs.v3i2.58

Abstract

Abstract: The rise of digital technology has reshaped the global communication landscape, shifting public diplomacy from traditional physical spaces to more interactive virtual platforms. Within this context, gastrodiplomacy—the use of food as a medium for cultural exchange has become a strategic tool for nation branding and soft power. South Korea  stands out as a success case, integrating its culinary traditions with the Korean Wave (Hallyu) to promote national identity and foster positive international perceptions. Through digital platforms like YouTube, Instagram, and Netflix, various Korean cuisines is not only introduced to global audiences but also emotionally engages, particularly in countries like Indonesia. Despite its growing relevance, the specific role of Korean gastrodiplomacy in shaping cultural identity in Indonesia remains underexplored. This study addresses that gap by examining how South Korea leverages culinary diplomacy within digital ecosystems to construct a favorable cultural image. The research employs a qualitative approach, analyzing digital content, media campaigns, and audience reception in Indonesia to understand the dynamics between food, culture, and perception. Findings suggest that the synergy between Korean cuisine and digital media creates dynamic cross-cultural spaces where emotional connections are built through shared experiences. Food, in this context not just as a consumable item but as a narrative tool that conveys values, traditions, and identity. Consequently, Korean gastrodiplomacy emerges as a powerful instrument of soft power, enhancing South Korea’s cultural presence and influence in Indonesia. This study concludes that culinary diplomacy, when effectively mediated through digital platforms, plays a significant role in contemporary cultural diplomacy. Abstrak: Kemajuan teknologi digital telah membentuk ulang lanskap komunikasi global, menggeser diplomasi publik dari ruang fisik tradisional ke platform virtual yang lebih interaktif. Dalam konteks ini, gastrodiplomasi—penggunaan makanan sebagai media pertukaran budaya—telah menjadi alat strategis untuk membangun citra bangsa dan kekuatan lunak (soft power). Korea Selatan menonjol sebagai contoh keberhasilan, dengan mengintegrasikan tradisi kulinernya ke dalam Gelombang Korea (Hallyu) guna mempromosikan identitas nasional dan membentuk persepsi internasional yang positif. Melalui platform digital seperti YouTube, Instagram, dan Netflix, berbagai jenis kuliner Korea tidak hanya diperkenalkan kepada audiens global, tetapi juga membangun keterikatan emosional, terutama di negara-negara seperti Indonesia. Meskipun semakin relevan, peran spesifik gastrodiplomasi Korea dalam membentuk identitas budaya di Indonesia masih belum banyak diteliti. Studi ini berupaya mengisi kekosongan tersebut dengan meneliti bagaimana Korea Selatan memanfaatkan diplomasi kuliner dalam ekosistem digital untuk membangun citra budaya yang menguntungkan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan menganalisis konten digital, kampanye media, dan respons audiens di Indonesia guna memahami dinamika antara makanan, budaya, dan persepsi. Temuan menunjukkan bahwa sinergi antara kuliner Korea dan media digital menciptakan ruang lintas budaya yang dinamis, di mana keterikatan emosional terbentuk melalui pengalaman bersama. Dalam konteks ini, makanan tidak hanya menjadi barang konsumsi, tetapi juga alat naratif yang menyampaikan nilai, tradisi, dan identitas. Dengan demikian, gastrodiplomasi Korea muncul sebagai instrumen soft power yang kuat, yang memperkuat kehadiran dan pengaruh budaya Korea Selatan di Indonesia. Studi ini menyimpulkan bahwa diplomasi kuliner, ketika dimediasi secara efektif melalui platform digital, memainkan peran penting dalam diplomasi budaya kontemporer.