Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Terapi Menggambar Bebas Terhadap Pasien Halusinasi di Ruangan Mandau 1 Rumah Sakit Jiwa Tampan Provinsi Riau Yesi Susanti; Gusman Virgo; Triswan Simatupang
Science: Indonesian Journal of Science Vol. 1 No. 3 (2024)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/science.v1i3.91

Abstract

Halusinasi merupakan tergangguanya persepsi sensori seseorang, dimana tidak ada stimulus. Salah satu tipe halusinasi adalah halusinasi pendengaran (auditory-hearing voices or sounds) dan menjadi tipe halusinasi yang paling banyak diderita. Halusinasi yang tidak ditangani secara baik dapat menimbulkan risiko terhadap keamanan diri pasien sendiri, orang lain dan juga lingkungan sekitar pasien. Salah satu terapi yang dapat dilakukan pada pasien halusinasi adalah Art theraphy atau terapi seni. Art theraphy sendiri dapat diartikan sebagai suatu kegiatan terapeutik yang menggunakan proses kreatif dalam melukis. Melukis bebas bagi pasien halusinasi merupakan bentuk komunikasi dari alam bawah sadarnya, image yang merupakan simbolisasi dari ekspresi bawah sadar pasien bahwa terapi seni membawa perubahan bagi kesehatan mental penderita dan terapi seni ini disebut symbolic speech bahwa kata-kata dapat disalurkan melalui kegiatan melukis sehingga terapi melukis terdapat perbaikan dalam aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Tujuan karya ilmiah akhir adalah untuk menganalisis intervensi pemberian terapi menggambar bebas untuk membantu pasien mengontrol halusinasi di ruang Mandau 1 RSJ Tampan Provinsi Riau. Metode penulisan KIAN ini adalah studi kasus dengan quasy eksperiment intervensi terapi menggambar bebas yang dilakukan pada pasien halusinasi. Terapi ini dilakukan secara berulang selama 5 hari dengan pemberian 1 kali sehari. Setelah implementasi terapi menggambar bebas diberikan selama 5 hari didapatkan hasil yaitu terapi ini dapat membantu pasien dalam mengontrol halusinasinya. Kesimpulan terdapat perubahan yang signifikan pada pasien halusinasi setelah diberikan terapi menggambar bebas. Studi kasus ini hanya dilakukan pada pasien halusinasi, diharapkan pada peneliti selanjutnya dapat melakukan studi kasus yang mendalam dan menerapkan metode lain yang lebih efektif untuk mengontrol halusinasi.
Peningkatan Pemberian Asuhan Keperawatan Melalui Optimalisasi Interaksi Terapeutik Perawat dengan Pasien Sesuai Standar Waktu Minimal Pelayanan Keperawatan di Ruangan MPKP Mandau I Rumah Sakit Jiwa Tampan Provinsi Riau Tahun 2026: Pengabdian Erma Kasumayanti; Ridha Hidayat; Siti Hotna Siagian; Triswan Simatupang
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 5 Nomor 1 (Juli 2026 -
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v5i1.7467

Abstract

Optimalisasi pemberian asuhan keperawatan pada pasien rawat inap, khususnya di pelayanan kesehatan jiwa yang membutuhkan pelaksanaan interaksi terapeutik yang terencana sesuai kebutuhan dan tingkat ketergantungan pasien. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk meningkatkan pemberian asuhan keperawatan melalui optimalisasi interaksi terapeutik perawat dengan pasien sesuai standar waktu minimal pelayanan keperawatan di Ruangan MPKP Mandau I Rumah Sakit Jiwa Tampan Provinsi Riau Tahun 2026. Metode pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Tahap persiapan meliputi koordinasi dengan kepala ruangan dan ketua tim, identifikasi permasalahan, serta penyusunan instrumen kegiatan. Tahap pelaksanaan dilakukan melalui sosialisasi saat handover, edukasi mengenai pengaturan waktu pelayanan berdasarkan tingkat ketergantungan pasien menggunakan rumus Gillies, pendampingan penggunaan checklist, serta penyesuaian pembagian pasien sesuai jumlah perawat yang bertugas. Evaluasi dilakukan melalui observasi pelaksanaan interaksi terapeutik dan wawancara dengan perawat serta pasien. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa dari 18 pasien yang dilakukan identifikasi awal, terdapat 9 pasien yang belum memperoleh asuhan keperawatan secara optimal. Setelah dilakukan implementasi, sebanyak 6 pasien (66,7%) mengalami peningkatan dalam pemenuhan asuhan keperawatan melalui interaksi terapeutik yang lebih terstruktur, sedangkan 3 pasien (33,3%) masih memerlukan tindak lanjut. Kegiatan PKM ini menunjukkan bahwa optimalisasi interaksi terapeutik melalui edukasi, pendampingan, penggunaan checklist, dan pengaturan beban kerja perawat dapat mendukung peningkatan kualitas pemberian asuhan keperawatan. Disarankan agar kegiatan monitoring, supervisi, dan evaluasi dilakukan secara berkala untuk mempertahankan keberlanjutan penerapan interaksi terapeutik sesuai standar pelayanan keperawatan.