Agus Marulitua Marpaung
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Model Pendidikan Agama Kristen Moderasi Intra-Agama Berbasis Konsili Yerusalem dalam Kisah Para Rasul 15 Yuwono, Stefanus Christianto; Agus Marulitua Marpaung
MANTHANO: Jurnal Pendidikan Kristen Vol. 4 No. 2 (2025): September
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55967/manthano.v4i2.92

Abstract

Abstract: This article outlines a model of Christian Religious Education (CRE) that emphasizes the actual principle of intra-religious moderation, based on a case study of the Council of Jerusalem in Acts 15. The phenomenon of plurality necessitates an approach to religious moderation, both inter-religious and intra-religious. The Council of Jerusalem serves as a historical and theological guide for managing internal diversity within Christianity, resolving debates between Jewish and Gentile Christians regarding the implementation of circumcision and the Mosaic Law for salvation. Through historico-critical, exegetical, systematic-theological, and pedagogical analysis,this article identifies the principles of intra-religious moderation from the Council of Jerusalem: dialogue, respect for differences, focus on the essence of faith, agape love, communal consensus, and flexibility. These principles have pedagogical implications for CRE's content, methods, value inculcation, the role of teachers, and evaluation. This model offers opportunities to foster Christian tolerance, enrich the CRE curriculum, position the church as a peacemaker, and serve as a universal moderation model. Although facing challenges such as institutional resistance and educator competency, implementing this model is crucial for producing an inclusive and moderate Christian community. Abstrak: artikel ini menguraikan model Pendidikan Agama Kristen (PAK) yang menekankan prinsip aktual moderasi intra-agama, berlandaskan studi kasus Konsili Yerusalem dalam Kisah Para Rasul 15. Fenomena pluralitas menuntut pendekatan moderasi beragama, baik antar-agama maupun intra-agama. Konsili Yerusalem berfungsi sebagai panduan historis dan teologis untuk mengelola keragaman internal dalam Kristen, menyelesaikan perdebatan antara Kristen Yahudi dan non-Yahudi mengenai implementasi sunat dan hukum Taurat demi keselamatan.Melalui analisis historis-kritis, eksegetis, teologis-sistematis, dan pedagogis, artikel ini mengidentifikasi prinsip-prinsip moderasi intra-agama dari Konsili Yerusalem: dialog, penghormatan perbedaan, fokus esensi iman, kasih agape, konsensus bersama, serta fleksibilitas. Prinsip-prinsip ini berimplikasi pedagogis pada materi, metode, penanaman nilai, peran guru, dan evaluasi PAK. Model ini menawarkan peluang untuk membentuk toleransi Kristiani, memperkaya kurikulum PAK, menempatkan gereja sebagai pembawa damai, dan menjadi model moderasi universal. Walau menghadapi tantangan seperti resistensi institusi dan kompetensi pendidik, implementasi model ini krusial untuk menghasilkan umat Kristen yang inklusif dan moderat.
Musik sebagai Media Pembelajaran: Telaah Kidung Musa dalam Ulangan 32 Erlikasna br Tarigan, Priskila; Agus Marulitua Marpaung
ELEOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 5 No. 2 (2026): Januari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvari Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53814/eleos.v5i2.350

Abstract

Abstract: The widespread popularity of contemporary music among today’s Christian children and teenagers reflects a serious content crisis in religious music. Many songs are sung merely for their catchy rhythms, without a deep understanding of their meaning, and are often adapted from secular culture with modified lyrics to appear spiritual. This crisis poses a significant threat to the formation of faith and the psychosocial-spiritual development of the young Christian generation. This article addresses the issue by presenting the Song of Moses in Deuteronomy 32 as an early model of music that serves as an effective, intergenerational medium for faith education. The study employs a descriptive qualitative method with a library research approach, examining biblical literature, Christian educational theology, child developmental psychology, and music theory in faith learning. The findings reveal that the Song of Moses is a concrete example of music used as an educational tool to warn, shape, and strengthen the faith of the people of Israel. The song was designed by God to be remembered and internalised across generations as a means of embedding divine truth. The study further shows that sacred music can be an effective strategy in Christian Religious Education (CRE), particularly in teaching faith values to children and youth. Music composed with theological and pedagogical considerations has the potential to deepen doctrinal understanding, build a personal relationship with God, and inspire authentic Christian living. Therefore, this article recommends that churches and Christian educational institutions develop contextual, biblical, and age-appropriate faith-learning songs. Abstract: Fenomena maraknya musik populer yang digemari oleh anak-anak dan remaja Kristen masa kini menunjukkan adanya krisis konten yang serius dalam musik keagamaan. Banyak lagu yang dinyanyikan hanya karena iramanya yang menarik, tanpa pemahaman makna yang mendalam, bahkan tak jarang diadopsi dari budaya sekuler dengan lirik yang dimodifikasi agar tampak rohani. Krisis ini menjadi ancaman bagi pembentukan iman dan perkembangan psikospiritual generasi muda Kristen. Artikel ini merespons isu tersebut dengan mengangkat Kidung Musa dalam Ulangan 32 sebagai model awal dari musik yang berfungsi sebagai media pendidikan iman yang efektif dan lintas generasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka (library research), yang menelaah literatur Alkitabiah, teologi pendidikan Kristen, psikologi perkembangan anak, dan teori musik dalam pembelajaran iman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kidung Musa merupakan contoh konkret penggunaan musik sebagai alat edukatif untuk memperingatkan, membentuk, dan memperkuat iman bangsa Israel. Lagu tersebut dirancang Tuhan agar diingat dan dihayati lintas generasi sebagai bentuk internalisasi kebenaran ilahi. Temuan ini juga menunjukkan bahwa musik rohani dapat menjadi strategi yang efektif dalam Pendidikan Agama Kristen (PAK), khususnya dalam pengajaran nilai-nilai iman kepada anak dan remaja. Musik yang disusun dengan pendekatan teologis dan pedagogis berpotensi memperkuat pemahaman doktrin, membangun hubungan personal dengan Allah, dan mendorong praktik hidup Kristen yang otentik. Oleh karena itu, artikel ini merekomendasikan perlunya gereja dan lembaga pendidikan Kristen mengembangkan lagu-lagu pembelajaran iman yang kontekstual, alkitabiah, dan relevan