This Author published in this journals
All Journal Jurnal SOLMA JIPP
Dewi Trihandayani
Unknown Affiliation

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Pelatihan Penanganan Anak Berkebutuhan Khusus Bagi Guru Sekolah Dasar Muhammadiyah di DKI Jakarta Anissa Rizky Andriany; Dewi Trihandayani; Anisia Kumala Masyhadi; Anida Zain; Ranti Rahmawati
Jurnal SOLMA Vol. 12 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka (UHAMKA Press)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/solma.v12i1.10401

Abstract

Background: Penanganan Anak Berkebutuhan Khusus atau ABK di Indonesia masih menjadi permasalahan tersendiri di dunia Pendidikan. Jumlah ABK yang terus meningkat belum diiringi oleh sumber daya yang memadai dalam proses penanganannya membuat penanganan ABK di Indonesia ini belum maksimal dan turut mempengaruhi efektivitas pembelajaran di dalam kelas. Kegiatan pelatihan ini bertujuan untuk membekali guru dalam menangani Anak Berkebutuhan Khusus di lingkungan sekolah. Metode: Pelatihan ini diikuti oleh tiga puluh guru Sekolah Dasar Muhammadiyah di wilayah DKI Jakarta, yang berada dibawah naungan Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah, Pimpinan Wilayah Muhamadiyah DKI Jakarta. Pelatihan yang dilakukan dalam rentang waktu 5 hari pada bulan Januari 2022 ini menggunakan metode pembelajaran orang dewasa dengan pendekatan experiential learning, dan dilakukan dengan metode online melalui platform Zoom Meeting. Hasil: Dari perbandingkan pre-test dan post-test yang diberikan kepada peserta, terlihat adanya peningkatan nilai rata-rata post-test dari nilai rata-rata pre-test. Selain itu, seluruh peserta juga sudah memiliki ketrampilan untuk membuat rancangan program pendidikan anak berkebutuhan khusus di sekolah masing-masing, sesuai dengan kompetensi yang diharapkan dari peserta pada akhir pelatihan ini. Kesimpulan: secara kognitif pelatihan ini dapat meningkatkan pengetahuan peserta setelah mengikuti kegiatan ini
Peran Memaafkan dan Sabar dalam Menciptakan Kepuasan Perkawinan Anisia Kumala; Dewi Trihandayani
Jurnal Ilmiah Penelitian Psikologi Vol 1 No 1 (2015): 2015
Publisher : Psikologi UHAMKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/jippuhamka.v1i1.9196

Abstract

Kepuasan pernikahan menjadi satu hal penting dalam hubungan pasangan. Tidak adanya kepuasan dalam perkawinan mengakibatkan perceraian dan dapat pula mempengruhi kesehatan mental seseorang secara umum. Penelitian ini melihat peran memaafkan dan sabar terhadap kepuasan perkawinan. Memaafkan diartikan sebagai penggantian emosi negatif dengan emosi yang lebih positif. Sementara sabar merupakan suatu variabel yang relatif baru dalam kajian psikologi, yang berarti respon awal yang aktif dalam menahan emosi, pikiran, perkataan dan perbuatan yang taat pada aturan untuk tujuan kebaikan yang didukung oleh optimis, pantang menyerah, semangat mencari informasi/ilmu, dan memiliki semangat terbuka terhadap solusi, konsisten serta tidak mudah mengeluh. Responden pada penelitian ini terdiri dari 70 orang laki-laki maupun perempuan yang sudah menikah. Adapun skala yang digunakan pada penelitian ini adalah CSI (Couple Satisfaction Inventory), Marital Forgiveness Inventory, dan Skala Sabar. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa memaafkan memiliki pengaruh terhadap kepuasan perkawinan dengan R sebesar 0.493, R Square 0.243 pada level signifikansi 0.000 (< 0.05). Yang artinya pengaruh memaafkan terhadap kepuasan pernikahan adalah sebesar 24,3%. Sabar memiliki pengaruh terhadap kepuasan perkawinan dengan R sebesar 0.391. R Square 0.153 pada level signifikansi 0.000 (< 0.05). Yang artinya pengaruh sabar terhadap kepuasan pernikahan adalah sebesar 15.3%. Memaafkan dan sabar secara bersama-sama mempengaruhi kepuasan pernikahan dengan R sebesar 0.566, R Square sebesar 0.320 pada level signifikansi 0.000 (< 0.05). Artinya kedua variabel, memaafkan dan sabar, saling mengontrol dan berpengaruh terhadap kepuasan pernikahan sebesar 32%
Pengaruh Islamic Parenting dan Coping Stress terhadap Motivasi Berprestasi pada Remaja Dewi Aryani; Dewi Trihandayani
Jurnal Ilmiah Penelitian Psikologi Vol 2 No 1 (2016): 2016
Publisher : Psikologi UHAMKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/jippuhamka.v2i1.9203

Abstract

Remaja merupakan masa dimana mereka belum dapat dikatakan dewasa namun sudah bukan lagi anak-anak. Emosi dan tindakan remaja yang masih belum stabil membuat setiap orang tua melakukan satu hal dengan menerapkan pola asuh. Salah satunya pola asuh Islami. Pola asuh Islami adalah suatu kesatuan yang utuh dari sikap dan perlakuan orang tua kepada anak, baik dalam mendidik, membina, membiasakan, dan membimbing anak secara optimal untuk mendapatkan kasih sayang dan ketulusan orang tua sehingga tumbuh dan berkembang dengan baik. Ketika remaja sedang mempersiapkan diri untuk ujian sekolah. Remaja pasti akan mengalami stress yang menganggu motivasi berprestasi mereka di sekolah. Mereka kehilangan minat dan konsentrasi. Mereka mengatasi stress yang terjadi dengan melakukan coping stress. Teknik pengambilan sampel penelitian dengan accidental sampling. Instrument data yang digunakan yaitu skala Islamic parenting, skala Coping Stress dan skala Motivasi Berprestasi. Analisis data menggunakan teknik analisis multiple regresi. Hasil perhitungan menggunakan teknik analisis multiple regresi, diperoleh R sebesar 0,304. Hal ini berarti Islamic parenting dan Coping Stress dapat digunakan sebagai prediktor untuk memprediksi motivasi berprestasi pada remaja. Tingkat signifikansi p-value 0,001 (p<0,005) menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara Islamic parenting dan Coping Stress terhadap Motivasi Berprestasi pada remaja. Analisis data menunjukkan nilai R Square sebesar 0,092. Angka tersebut mengandung pengertian bahwa dalam penelitian ini, Islamic parenting dan Coping Stress memberikan sumbangan efektif sebesar 9,2% terhadap motivasi berprestasi pada remaja. Hal ini berarti masih terdapat 90,8% faktor lain yang mempengaruhi motivasi berprestasi pada remaja.
Hubungan Islamic Parenting, Dan Kualitas Pribadi (Religiusitas, Self Control) Terhadap Empati Remaja Dewi Trihandayani
Jurnal Ilmiah Penelitian Psikologi Vol 3 No 2 (2017): 2017
Publisher : Psikologi UHAMKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/jippuhamka.v3i2.9220

Abstract

Berkembangnya gadget dewasa ini, membuat remaja menjadi sibuk dengan dirinya sendiri. Maraknya media sosial, games dan kemudahan mengakses informasi berhasil menarik perhatian remaja untuk ikut terlibat didalamnya. Akan tetapi, hal tersebut membuat remaja tidak peka terhadap lingkungan sosialnya Remaja seringkali tidak mengetahui dan menyadari apa yang terjadi dengan anggota keluarganya yang lain. Orangtua seringkali tidak cukup kuat untuk dijadikan model bagi berkembangnya kontrol diri dan religiusitas pada remaja. Dimana kedua hal ini diduga juga mengambil peran pada kemampuan anak dalam berempati. Oleh sebab itu penelitian ini mencoba untuk menggali Hubungan Islamic Parenting, religiusitas, self control terhadap empati remaja. Penelitian ini dilakukan dengan melibatkan remaja SMK/SMA sebanyak 150 orang. Data pada penelitian ini diolah dengan metode regresi bertingkat yang dibantu dengan program SPSS versi 23. Penelitian in imenunjukkan hasil bahwa ternyata Islamic Parenting memiliki hubungan dengan kemampuan berempati dan religiusitas). Religiusitas dan self control pada penelitian ini terbukti tidak memiliki hubungan dengan empati. Masuknya Islamic Parenting bersama dengan religiusitas dan self control ternyata memberikan perubahan yang besar. Secara bersama Islamic Parenting, religiusitas dan self control memiliki pengaruh sebesar 4.5% terhadap empati. Semakin tinggi remaja mempersepsikan dirinya dibesarkan oleh orangtua dengan Islamic Parenting maka religiusitas dan self controlnya akan meningkat, dan bersama-sama mereka juga meningkatkan kemampuan empati remaja. Hal ini disebabkan karena empati dipelajari anak melalui pembelajaran, melihat, dan merasakan langsung cara orangtua berinteraksi dan mencoba memahami diri remaja tersebut.
Hubungan antara Helicopter Parenting dengan Kesepian pada Generasi Milenial di Masa Emerging Adulthood Ria Khairunnisa; Dewi Trihandayani
Jurnal Ilmiah Penelitian Psikologi Vol 4 No 1 (2018): 2018
Publisher : Psikologi UHAMKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/jippuhamka.v4i1.9226

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara Helicopter Parenting dengan Kesepian pada Generasi Milenial yang saat ini berada di periode Emerging Adulthood. Generasi milenial, yaitu individu yang lahir sekitar tahun 1982 hingga 2001, saat ini sebagian besar sedang memasuki periode emerging adulthood. Pada periode perkembangan yang berada di usia 18-25 tahun dan ditandai dengan ketidakstabilan, perasaan in-between, eksplorasi identitas, optimisme serta fokus pada diri ini membuat individu di generasi milenal seringkali merasa kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi. Hal tersebut akhirnya menimbulkan berbagai dampak, salah satunya membuat mereka cenderung masih bergantung pada orangtuanya. Hal ini membuat orangtua dari kebanyakan generasi milenial memiliki keterlibatan yang tinggi pada kehidupan anaknya, bahkan cenderung terlalu melindungi dan memanjakan mereka. Orangtua generasi milenial tersebut seringkali diidentifikasi sebagai Helicopter Parenting. Perilaku orangtua helikopter yang terlalu terlibat, melindungi, dan mengontol anak ,meskipun mereka telah beranjak dewasa ini, telah banyak diteliti dan seringkali dihubungkan dengan berbagai dampak negatif pada perkembangan anak. Namun, saat ini belum ada penelitian mengenai Helicopter Parenting dan hubungannya dengan salah satu respons emosional negatif yang sering dikeluhkan oleh kebanyakan generasi milenial akibat dari kesulitan dan ketidakpuasaan dalam menjalin hubungan erat dengan orang lain, atau yang biasa disebut dengan kesepian. Penelitian menggunakan 70 individu generasi milenial yang berusia 18-25 tahun (Laki-laki = 12, Perempuan = 58) yang diambil dengan teknik accidental sampling. Teknik analisa data Pearson Product Moment digunakan untuk menguji hipotesis penelitian. UCLA Loneliness Scale (Version 3) dengan reliabilitas 0.890 pun digunakan untuk mengukur kesepian dan Helicopter Parenting Instrument (HPI) dengan reliabilitas 0.755 untuk mengukur perilaku orangtua yang dihubungkan dengan Helicopter Parenting. Hasil penelitian dengan uji korelasi antara Helicopter Parenting dengan Kesepian ini menunjukkan nilai koefisien korelasi sebesar 0.251 (p < 0.05). Hasil menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara Helicopter Parenting dengan Kesepian yang ditemukan pada Generasi Milenial yang berada di periode Emerging Adulthood. Hal ini nampaknya disebabkan oleh orangtua yang terlalu terlibat, melindungi, dan mengontrol anak, sehingga membuat anak menjadi lebih bergantung pada orangtua, kurang mandiri, dan terhambat kemampuan sosialnya. Akibatnya, anak menjadi kesulitan untuk menjalin atau mempertahankan hubungan sosialnya dengan orang lain, yang menyebabkan mereka menjadi tidak puas dengan hubungan sosial yang dimiliki sehingga memunculkan rasa kesepian pada mereka. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman lebih mengenai fenomena Kesepian yang dialami oleh kebanyakan Generasi Milenial serta memberikan sebuah gambaran baru mengenai Helicoter Parenting di Indonesia.