Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Comparison of Labor Duration by Parity Among Mothers at Rizki Clinic, Medan Tembung District Ribur Sinaga; Sari Khowajan Tondang; Eva Ratna Dewi; Marliani; Ali Imran Sirait; Dyanti SR Butarbutar
Jurnal Kesehatan dan Kedokteran Vol. 5 No. 1 (2026): Februari: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran
Publisher : Asosiasi Dosen Muda Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56127/jukeke.v5i1.2599

Abstract

Prolonged labor remains an important clinical issue because it can increase maternal fatigue and the risk of complications during delivery. Parity is known to influence the progress of labor, yet stage-specific evidence comparing primiparous and multiparous mothers in primary care settings is still limited. Understanding these differences is essential to improve intrapartum monitoring and maternal support. Objective: This study aimed to compare labor duration between primiparous and multiparous mothers at Rizki Clinic, Medan Tembung District, and to identify which stages of labor contribute most to the observed differences. Method: This study employed a quantitative observational analytic approach with a cross-sectional design conducted from April to July 2024. The sample consisted of 30 mothers (15 primiparous and 15 multiparous) selected using predetermined inclusion and exclusion criteria. Data on labor duration were obtained through direct observation and medical records. Descriptive analysis and the Mann–Whitney U test were used to examine differences between groups. Findings: The overall mean labor duration was longer in primiparous mothers (10.60 hours) compared with multiparous mothers (5.13 hours). Stage-specific analysis showed a significant difference in the first stage (Kala I), with primiparous mothers averaging 10.24 hours (7–11 hours 30 minutes) and multiparous mothers 6.5 hours (4–8 hours 45 minutes) (p = .000). No statistically significant differences were found in the second stage (mean 19 vs 15 minutes; p = .065) or the third stage (mean 10 vs 7 minutes; p = .086). Implications: The findings highlight the importance of focused monitoring and supportive care during the first stage of labor, particularly for primiparous mothers, to reduce anxiety and prevent prolonged labor. The results can inform clinical practice in primary care settings to improve labor management strategies. Originality/Value: This study provides stage-based comparative evidence on labor duration using clinic-level data, offering practical insight into parity-related differences and contributing to improved intrapartum care planning.
Pemberdayaan Ibu Hamil dalam Pencegahan Kekurangan Energi Kronik (KEK) melalui Edukasi Kesehatan di BPM Deby Cintya Yun Eva Ratna Dewi; Ribur Sinaga; Nur Azizah; Ali Imran Sirait; Intan Aulia Zahra
Jurnal Masyarakat Madani Indonesia Vol. 5 No. 1 (2026): Februari
Publisher : Alesha Media Digital

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59025/s65vac84

Abstract

Ibu hamil merupakan kelompok yang rentan terhadap masalah gizi, terutama Defisiensi Energi Kronis, yang dapat berdampak buruk pada kesehatan ibu dan janin, termasuk peningkatan risiko komplikasi kehamilan, stunting, dan berat badan lahir rendah. Meskipun berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan gizi, masalah Defisiensi Energi Kronis masih kurang diteliti di BPM Deby Cyntia Yun, yang menunjukkan bahwa program pencegahan dan promosi tidak selalu efektif dalam memenuhi kebutuhan masyarakat umum. Situasi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk status sosial ekonomi keluarga, paritas, dan tingkat keparahan penyakit menular.Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan dengan pendekatan edukatif dan partisipatif yang bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran ibu hamil dalam pencegahan KEK. Sasaran kegiatan adalah 20 ibu hamil yang aktif melakukan pemeriksaan kehamilan di BPM Deby Cyntia Yun. Metode pelaksanaan meliputi tahapan identifikasi masalah, pemberian edukasi gizi dan kesehatan, serta evaluasi kegiatan. Identifikasi awal dilakukan melalui wawancara terstruktur dan kuesioner sederhana untuk menggali karakteristik dan faktor risiko KEK. Hasil evaluasi pengetahuan ibu hamil sebelum dan sesudah kegiatan edukasi di BPM Deby Cyntia Yun menunjukkan peningkatan yang signifikan. Pada pretest, mayoritas ibu hamil memiliki pengetahuan kurang (85%), sedangkan cukup 10% dan baik 5%. Setelah diberikan edukasi, jumlah ibu hamil dengan pengetahuan baik meningkat menjadi 80%, cukup 5%, dan yang kurang menurun menjadi 15%. Temuan ini menunjukkan bahwa edukasi kesehatan yang dilakukan secara partisipatif mampu meningkatkan pemahaman ibu hamil mengenai pencegahan Kekurangan Energi Kronik (KEK), sekaligus mendorong kesadaran dan kesiapan mereka dalam menerapkan perilaku gizi sehat selama kehamilan. Kegiatan ini menghasilkan pemetaan awal faktor risiko KEK yang dapat digunakan sebagai dasar tindak lanjut program kesehatan ibu secara berkelanjutan dengan melibatkan tenaga kesehatan setempat