Paramitha Ayu Risky
Studi Pasca Sarjana Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik, Universitas Indonesia, Pondok Cina, Kec. Beji, Jawa Barat, Indonesia 16424

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Bullying Sebagai Bentuk Resistensi Terhadap Toxic Masculinity di Kalangan Remaja. Paramitha Ayu Risky
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 7, No 1 (2023): November
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/endogami.7.1.62-76

Abstract

Fenomena Bullying  dikalangan remaja seperti tiada habisnya. Maraknya bullying  dikalangan remaja masih bisa dilihat dari data peningkatan kasus pertahunya. Berdasarkan data KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia)  selama tahun 2022 tercatat sebanyak 3408 data meningkat  dari tahun sebelumnya pada 2021 yakninya sebanyak 2982 pengaduan kasus kekerasan pada anak (Data KPAI 2001-2022). Berdasarkan pengaduan posisi tertinggi pelaku bullying  merupakan remaja laki-laki. Hal ini tentunya tidak terlapas dari kebudayaan Indonesia yang menganggap posisi laki-laki lebih kuat sehingga terbentuknya toxic masculinity  di kalangan laki-laki. Salah satu bentuk toxic masculinity dikalangan laki-laki adalah anggapan bahwa seorang laki-laki harus kuat dan memiliki jiwa pemimpin. Hal ini sering disalah artikan dalam pergaulan para remaja laki-laki, sehingga menyebabkan banyak terjadinya tindak intimidasi sebagai salah satu bentuk bullying dikalangan remaja. Namun pada kenyataannya bullying  tidak hanya digunakan sebagai alat untuk mengintimidasi namun juga sebagai bentuk perlawanan yang dilakukan oleh para remaja untuk melawan intimidasi yang mereka terima. Untuk melihat fenomena bullying  dikalangan remaja, penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif dengan menggabungkan hasil penelitian lapangan dan studi pustaka.