ABSTRAKKecelakaan rumah tangga dan kondisi kegawatdaruratan merupakan risiko kesehatan yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, namun kesiapsiagaan masyarakat, khususnya komunitas migran, masih terbatas, tidak hanya pada aspek pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga pada kesiapan mental dalam pengambilan keputusan. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kesiapsiagaan melalui pendekatan entrepreneurial mindset berbasis metakognisi dan self-efficacy. Program dilaksanakan pada hari Sabtu, 11 April 2026, di PRIM Kepong, Malaysia, yang merupakan komunitas binaan PCIM dan PCIA Malaysia, dengan melibatkan 20 pekerja migran Indonesia. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan, pelatihan praktis, simulasi, serta penguatan aspek kognitif dan psikologis. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test menggunakan skala Likert untuk mengukur pengetahuan, self-efficacy, metakognisi, dan entrepreneurial mindset. Hasil menunjukkan peningkatan pada seluruh aspek, yaitu pengetahuan (2,53 menjadi 4,20), self-efficacy (2,59 menjadi 4,06), metakognisi (2,71 menjadi 4,29), dan entrepreneurial mindset (adaptive action) (2,59 menjadi 4,13). Temuan ini menunjukkan bahwa integrasi pelatihan teknis dengan penguatan aspek kognitif dan psikologis mampu menjembatani kesenjangan antara kemampuan berpikir dan kesiapan bertindak dalam situasi darurat. Model pelatihan ini menjadi pendekatan inovatif yang tidak hanya meningkatkan kompetensi praktis, tetapi juga membentuk kesiapsiagaan yang adaptif dan berkelanjutan pada komunitas rentanKata kunci: Entrepreneurial Mindset; Metakognisi; Self-Efficacy; Kesiapsiagaan; Kegawatdaruratan. ABSTRACTHousehold accidents and emergency conditions are common health risks in daily life; however, community preparedness, particularly among migrant communities, remains limited not only in terms of knowledge and practical skills but also in mental readiness for decision-making. This Community Service Program aimed to enhance emergency preparedness through an entrepreneurial mindset approach based on metacognition and self-efficacy. The program was conducted on April 11th, 2026, at PRIM Kepong, Malaysia, a community under the guidance of PCIM and PCIA Malaysia, involving 20 Indonesian migrant workers. The methods included educational sessions, practical training, simulations, and the strengthening of cognitive and psychological aspects. Evaluation was carried out through pre-test and post-test questionnaires using a Likert scale to measure knowledge, self-efficacy, metacognition, and entrepreneurial mindset. The results showed improvements in all aspects, namely knowledge (2.53 to 4.20), self-efficacy (2.59 to 4.06), metacognition (2.71 to 4.29), and entrepreneurial mindset (adaptive action) (2.59 to 4.13). These findings indicate that integrating technical training with cognitive and psychological reinforcement can bridge the gap between thinking ability and readiness to act in emergency situations. This training model offers an innovative approach that not only improves practical competencies but also promotes adaptive and sustainable preparedness among vulnerable communities.Keywords: Entrepreneurial Mindset; Metacognition; Self-Efficacy; Preparedness; Emergency.