Andhita Dyorita Khoiryasdien
Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Hardiness in Student Survivors of Schizophrenia and Bipolar Disorders in Yogyakarta Arum Prawesti; Andhita Dyorita Khoiryasdien
LITERACY : International Scientific Journals of Social, Education, Humanities Vol. 4 No. 3 (2025): December : International Scientific Journals of Social, Education, Humanities
Publisher : Badan Penerbit STIEPARI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56910/literacy.v4i3.3142

Abstract

Students with mental disorders such as schizophrenia and bipolar disorder encounter significantly more complex challenges compared to individuals without such conditions, particularly when these disorders occur alongside academic demands. This study seeks to explore the resilience, or hardiness, of students in Yogyakarta who have survived schizophrenia and bipolar disorder by employing a qualitative methodology with a phenomenological approach. The participants involved one main subject living with the disorder and one significant other as an additional perspective. Data collection was carried out through in-depth interviews and subsequently analyzed thematically using Kobasa’s three dimensions of hardiness: control, commitment, and challenge. Findings indicate that the subject made efforts to regulate emotions even though self-control often fluctuated, demonstrated a consistent commitment to persistence in pursuing personal and academic objectives, and perceived difficulties as opportunities to learn and foster growth. The development of hardiness in the subject was shaped by self-awareness, the presence of supportive social networks, and accumulated life experiences that enhanced adaptability. Despite these strengths, the study revealed that the subject still faced instability in emotional management, which highlights the need for further reinforcement in maintaining stability and coping strategies. Overall, the research emphasizes that while students with schizophrenia and bipolar disorder possess the potential to develop resilience through personal and external resources, ongoing support remains crucial for sustaining their psychological well-being and academic success.
Peran Kecerdasan Emosional sebagai Mediator Hubungan antara Self-awareness dan Kesehatan Mental pada Remaja di Sleman Fitria Nurul Hidayati; Andhita Dyorita Khoiryasdien
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 2: Februari 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v5i2.13792

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana kecerdasan emosional berfungsi sebagai variabel mediator dalam menjembatani hubungan antara self-awareness dan kesehatan mental pada remaja di Kapanewon Sleman. Latar belakang penelitian berangkat dari meningkatnya kasus gangguan kesehatan mental pada remaja serta pentingnya kemampuan pengelolaan emosi dalam mencegah tekanan psikologis. Penelitian ini menerapkan pendekatan kuantitatif non-eksperimental melalui desain korelasional serta melibatkan 100 responden berusia 15–18 tahun yang diperoleh dengan menerapkan teknik random cluster sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan tiga skala psikologis, yaitu skala kesehatan mental, self-awareness, dan kecerdasan emosional. Analisis data menggunakan uji mediasi melalui SmartPLS 4.1.1.4. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa self-awareness memberikan pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kecerdasan emosional dan kesehatan mental. Kecerdasan emosional juga terbukti berpengaruh signifikan terhadap kesehatan mental. Selain itu, kecerdasan emosional berfungsi sebagai mediator yang signifikan dalam menjembatani hubungan antara self-awareness dan kesehatan mental. Temuan ini menegaskan bahwa peningkatan kesadaran diri yang disertai penguatan kecerdasan emosional akan memberikan dampak lebih optimal terhadap kesehatan mental remaja.
Loneliness dan Kecemasan Sosial sebagai Prediktor Nomophobia pada Gen-Z Pengguna Media Sosial Aktif di Yogyakarta Lilien Istiqomah; Andhita Dyorita Khoiryasdien
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 2: Februari 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v5i2.13992

Abstract

Nomophobia merupakan bentuk kecemasan ketika individu tidak dapat mengakses smartphone. Fenomena ini meningkat pada Generasi Z yang sangat intens menggunakan media sosial. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan loneliness dan kecemasan sosial terhadap nomophobia pada Gen-Z pengguna media sosial aktif di Yogyakarta. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sampel berjumlah 415 responden Gen-Z berusia 14–29 tahun yang menggunakan media sosial lebih dari lima jam per hari. Analisis regresi berganda menunjukkan bahwa loneliness dan kecemasan sosial secara simultan berhubungan signifikan dengan nomophobia (F = 27,319; p < 0,001). Secara parsial, loneliness berhubungan signifikan dengan nomophobia (r = 0,177; p < 0,001), demikian pula kecemasan sosial (r = 0,295; p < 0,001). Nilai R² sebesar 0,117 mengindikasikan bahwa kedua variabel memberikan kontribusi sebesar 11,7% terhadap nomophobia. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi loneliness dan kecemasan sosial, semakin tinggi kecenderungan individu mengalami nomophobia. Penelitian ini memberikan implikasi pada pengembangan intervensi kesehatan mental dan literasi digital pada Gen-Z.