p-Index From 2021 - 2026
0.408
P-Index
This Author published in this journals
All Journal J-CEKI
Tiara Astyaputri
Udayana University

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Transmisi Budaya Ngawan Pada Masyarakat Pesisir Desa Seraya Kabupaten Karangasem Tiara Astyaputri; Ida Ayu Alit Laksmiwati; Aliffiati Aliffiati
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 4 No. 1: Desember 2024
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v4i1.6068

Abstract

Terjadi fenomena penurunan jumlah nelayan Desa Seraya, Kabupaten Karangasem, Bali. Desa Seraya merupakan salah satu desa yang memiliki wilayah pesisir dan terdapat masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan. Aktivitas melaut ini dikenal dengan sebutan ngawan, yang diambil dari kata awan yang artinya ikan tongkol, sehingga ngawan diartikan pula sebagai kegiatan mencari ikan tongkol. Penurunan jumlah nelayan di Desa Seraya dibuktikan pada Data Profil Desa tahun 2023, yang mencatat pada tahun 2018 terdapat masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan berjumlah 150 orang. Namun pada tahun 2023, jumlahnya menurun sampai pada angka 73 orang. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk transmisi budaya ngawan di wilayah pesisir Desa Seraya dan menjelaskan implikasi dari mekanisme proses transmisi terhadap keberlangsungan budaya ngawan di Desa Seraya. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan menggunakan metode etnografi serta studi pustaka dalam menjawab pertanyaan yang ada pada rumusan masalah. Penelitian ini menggunakan teori kebudayaan Roger Keesing dan teori transmisi budaya Meyer Fortes. Hasil penelitian ini menunjukkan para nelayan mempelajari cara alat-alat yang digunakan dan cara penggunaannya, pengetahuan lokal yang ada di dalam budaya ngawan melalui proses imitasi, identifikasi dan sosialisasi yang telah dilakukan sejak kecil melalui aktivitas sehari-hari. Namun seiring dengan perkembangan zaman, proses transmisi budaya ngawan mengalami keterhambatan dikarenakan adanya perubahan pandangan hidup para pemuda yang diharapkan menjadi penerus dari budaya ngawan. Para pemuda kini melihat budaya ngawan sebagai kegiatan mencari nafkah yang dapat digantikan dengan pekerjaan lain. Hal ini didukung dengan para nelayan yang berfokus pada pemenuhan pendidikan anak-anak mereka agar bisa mengenyam pendidikan setinggi-tingginya.