Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Interaksi Sosial Antarumat Beragama di Perumahan Bumi Dalung Permai Desa Dalung, Kuta Utara, Badung Aliffiati Aliffiati
Jurnal Kajian Bali (Journal of Bali Studies) Vol 4 No 1 (2014): TEKS SEBAGAI REPRESENTASI SOSIAL BUDAYA
Publisher : Pusat Kajian Bali Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (531.528 KB)

Abstract

AbstractBumi Dalung Permai is an housing complex built in the early 1990s in Badung Regency. Accredited member of anBumi Dalung Permai public buldingt set of background,it is an the people of heterogen and multicultur, theybe possessed of different set of background etnick, joboccupation, level in society, tradition and religion. The living dynamics interfaith in Bumi Dalung Permai public bulding relatived settlement by agreement. The living dynamics Bumi Dalung Permai public bulding have two. The living dynamics intern that is the same interfaith, conflict and cooperation will it do. Conflict and cooperation proceed from different set an understating of religion. The living dynamics extern have enthusiasm united and tolerance. Conflict take palace beetween Hinduism with Muslims proceed from different set of interest. Conflict solution by medition and negotiationally so that conflictget muffied. Social interaction beetween the membersof religious community in Bumi Dalung Permai publicbulding in a general manner go well and harmonic, by means of celebration ritual ceremony and tradition, socialactivity, tradisi ngejot adaption be in possession conformitywith, symbols that is to be a means by members of religious community with the result that communication device, public area available as interaction area which is all accredited member of an association in a together manner although communitation.
Potret Adaptasi Lima Mualaf Di Denpasar Barat Celia Paramita; Aliffiati Aliffiati; I Ketut Kaler
Jurnal Syntax Admiration Vol. 2 No. 4 (2021): Jurnal Syntax Admiration
Publisher : Ridwan Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46799/jsa.v2i4.212

Abstract

Islam menjadi agama terbesar dengan penganut terbanyak di Indonesia, tidak terkecuali di Bali. Meski Bali terkenal dengan julukan “Tanah Seribu Pura”, namun bukan berarti Bali steril dari penduduk non-Hindu. Keberadaan Islam di Bali, mengundang ketertarikan peneliti terutama mengenai kehidupan mualaf. Mualaf di Bali telah tersebar tidak terkecuali di wilayah Denpasar Barat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui proses mualaf selama mereka mempelajari Islam. Karena tidak jarang dari mereka yang kerap mengalami kesulitan selama mempelajari Islam. Terkait dengan penelitian ini, jenis data yang digunakan adalah kualitatif dengan menggunakan metode observasi, wawancara, studi pustaka, dan triangulasi, diharapkan dapat memberi gambaran terkait kehidupan para mualaf, khususnya ketika memasuki dan mempelajari Islam. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, diketahui bahwa tidak semua mualaf mengalami kemudahan dalam belajar Islam. Tentu dari mereka memerlukan adaptasi. Belum lagi adanya proses penerimaan yang tidak mudah oleh pihak keluarga, kerap semakin mempersulit mualaf untuk istiqamah dalam mempelajari Islam. Oleh karena itu, mualaf tentu perlu pendampingan dalam belajar, salah satunya melalui organisasi yang mewadahi para mualaf. Selama di organisasi tersebut, para mualaf dibina dan diajarkan mengenai konsep dasar Islam hingga tata cara ibadah yang diharapkan dapat semakin memperkuat keimanan mereka.
STRUKTUR KELAS DAN OTONOMI PEREMPUAN TENGGER DESA ARGOSARI KECAMATAN SENDURO KABUPATEN LUMAJANG Aliffiati Aliffiati; I Ketut Kaler
Studi Budaya Nusantara Vol 4, No 1 (2020)
Publisher : Studi Budaya Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perempuan dalam sebuah rumahtangga turut berperan dalam menjaga kestabilan dan kebertahanan ekonomi keluarga, demikian yang dialami oleh sebagian besar perempuan di pedesaan.  Ketimpangan gender yang terjadi di masyarakat khususnya di pedesaan merupakan salah satu masalah  yang menarik untuk dikaji dengan berbagai pendekatan, salah satunya ilmu antropologi.Kajian berikut menganalisa  perempuan petani etnis Tengger di wilayah Desa Argosari Kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang Jawa Timur.  Tujuan penelitian untuk mengetahui dan mengidentifikasi tentang strafikasi sosial perempuan di masyarakat terkait dengan status dan peran perempuan di ranah domestik dan publik. Penelitian dilakukan mengggunakan metode pendekatan etnografi sebagai salah satu varian pendekatan kualitatif.Masyarakat Tengger merupakan sub etnis Jawa, yang masih teguh memegang tradisi khususnya  mempertahankan sebagian budaya jaman Majapahit, terlebih masyarakat Tengger Argosari.  Mereka meyakini keturunan Roro Anteng dan Joko Seger.  Dibalik  legenda Roro Anteng dan Joko Seger yang merupakan  folklore tentang asal usul etnis Tengger, memiliki makna sebagai  visi tentang kesetaraan gender.  Tradisi Tengger menempatkan para perempuan dalam kehidupan keluarga, masyarakat, dan ritual. Tradisi Tengger menganggap laki-laki dan perempuan mempunyai posisi yang sederajat, sama-sama berperan dalam kehidupan keluarga maupun masyarakat.
Faktor-Faktor Pendorong Masyarkat Urban Kota Denpasar Menggunakan Bumble untuk Mencari Jodoh Ferdeo Ferdeo; Aliffiati Aliffiati; I gst Putu Sudiarna
Jurnal Pendidikan dan Konseling (JPDK) Vol. 4 No. 6 (2022): Jurnal Pendidikan dan Konseling
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jpdk.v4i6.9565

Abstract

Penelitian ini membahas adanya kebutuhan memiliki pasangan hidup atau yang disebut juga dengan jodoh bagi setiap orang yang berkeinginan untuk hidup jangka panjang dengan seorang pasangan. Kini tren adalah dengan memanfaatkan teknologi digital berbasis aplikasi, yakni menggunakan aplikasi Bumble. Berkaitan dengan hal tersebut penelitian ini menggunakan teori pencarian jodoh dan teori penetrasi sosial yang sama-sama menjelaskan bahwa dalam proses mencari jodoh pasti terdapat tahapan-tahapan yang menentukan cocok atau tidaknya kedua belah pihak yang sedang mencari jodoh. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengumpulan data dengan teknik observasi partisipan, wawancara mendalam, serta studi kepustakaan dengan hasil akhir tulisan kualitatif dengan deskripsi mendalam. Hasil penelitian ini adalah ditemukannya berbagai alasan penggunaan Bumble serta mekanisme penggunaan aplikasi Bumble guna mencari jodoh secara rinci. Adapun alasan penggunaan Bumble khususnya bagi pengguna perempuan adalah karena keefektifan dan efisiensi Bumble, kesamaan tujuan antara pengguna Bumble, diperhitungkannya keberperanan perempuan, dan untuk menambah koneksi.
Mitologi sebagai Kearifan Ekologis Masyarakat Wawowae Leonarda Paula Mao; I Gusti Putu Sudiarna; Aliffiati Aliffiati
Sunari Penjor : Jurnal of Anthropology Vol 3 No 1 (2019)
Publisher : Department of Anthropology Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (579.656 KB) | DOI: 10.24843/SP.2019.v3.i01.p03

Abstract

Wawowae Village is one of the villages in Ngada Regency, East Nusa Tenggara. This village has a mythology in the forest of Watuata where everything in the forest is associated with humans, animals, names of places and plants. So that all activities undertaken by the Wawowae people in the forest, must go through a process of ritual. This research aims to identify mythology in the forest of Watuata and its meaning, community perception, and forest conservation actions undertaken by the society. The study used the ethnoecological approach and Clifford Geertz's Interpretative theory to see the mythological significance of the Watuata forest from the viewpoint of its people. This study was conducted for a month using qualitative research methods implementing ethnographic research models. The ethnography includes observation, interviews, and library studies. The supporting instruments of this research are interview guidelines, voice recording equipment, cameras, and stationery.
Penggalian dan Pengembangan Potensi Pariwisata Alam, Budaya, dan Religi di Rote Ndao, NTT A. A. Ayu Murniasih; Purwadi .; Aliffiati .
Sunari Penjor : Jurnal of Anthropology Vol 5 No 1 (2021)
Publisher : Department of Anthropology Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (715.342 KB) | DOI: 10.24843/SP.2021.v5.i01.p02

Abstract

Tujuan jangka panjang penelitian ini adalah ”mewujudkan pengembangan pariwisata yang berorientasi pada nilai-nilai pelestarian lingkungan dan budaya, yang berbasis masyarakat setempat (community based tourism), termasuk memberi manfaat besar bagi masyarakat dalam jangka panjang“. Tujuan tersebut hendak dicapai dengan mewujudkan target khusus penelitian, yaitu merumuskan strategi dalam memecahkan masalah pengembangan pariwisata yang kompetitif dan berkelanjutan. Adapun hal-hal yang hendak diketahui dan dipahami dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: (a)Potensi alam dan budaya apa saja yang sudah dikembangkan dan akan dikembangkan di Rote-Ndao ?, (b) Bagaimana partisipasi masyarakat dalam pengembangan pariwisata ?, (c) Bagaimana problematika pengembangan pariwisata di daerah tujuan wisata ?, dan (d)Bagaimana strategi pengembangan pariwisata yang tepat bagi daerah tujuan wisata dilakukan?. Metode penelitian yang akan digunakan untuk mencapai tujuan dan target tersebut di atas adalah metode kualitatif, dan ditunjang metode kuantitatif seperlunya, berparadigma fenomenologis dan interpretatif. Langkah-langkah yang ditempuh dalam konteks ini adalah sebagai berikut: (a) pengamatan dan wawancara mendalam, dan (b) analisis data secara interpretatif dengan pendekatan fenomenologis dengan menggunakan pendekatan interpretatif.
Napak Tilas Jati Diri Orang Bali Aga Purwadi Soeriadiredja; Aliffiati .
Sunari Penjor : Jurnal of Anthropology Vol 1 No 1 (2017)
Publisher : Department of Anthropology Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.852 KB) | DOI: 10.24843/SP.2017.v1.i01.p05

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah terwujudnya keharmonisan sosial berbasis masyarakat. Fokus penelitian adalah pandangan masyarakat Bali Aga tentang keberadaan diri mereka; keterkaitan budaya antara masyarakat Wong Aga di lereng Gunung Raung dengan masyarakat Bali Aga di Pulau Bali; dan hubungan masyarakat Bali Aga dengan masyarakat di luar mereka. Metode penelitian yang digunakan bersifat kualitatif, berparadigma fenomenologis, dan interpretatif. Data diperoleh melalui pengamatan, wawancara mendalam, dan analisis data untuk memperoleh pengetahuan tentang gagasan-gagasan, pemikiran, keyakinan dalam masyarakat setempat. Temuan penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Desa Bumiharjo bukanlah keturunan Wong Aga pengikut ajaran Rsi Markhandeya. Mereka adalah pendatang baru di wilayah itu pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Sedangkan keberadaan keturunan Wong Aga di sekitar lereng Gunung Raung kini tidak diketahui lagi. Masyarakat Desa Sukawana sebagai bagian dari orang Bali Aga lebih suka disebut sebagai orang Bali Mula yang menganggap diri mereka sebagai keturunan nenek moyang pertama yang telah tinggal di wilayah itu. Masyarakat Bali Aga terkesan memiliki eksklusivitas dalam sistem keagamaan dan pemerintahan adat ulu apad di tengah keterbukaan mereka terhadap perubahan.
Sistem Perkawinan Adat Lamaholot Dalam Perspektif Antropologi Di Desa Watodiri, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur Margaretha Nice O. Poli; Aliffiati Aliffiati; Ni Made Wiasti
Sunari Penjor : Jurnal of Anthropology Vol 4 No 2 (2020)
Publisher : Department of Anthropology Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (696.472 KB) | DOI: 10.24843/SP.2020.v4.i02.p04

Abstract

Marriage in general is closely related to the two foundations of community life, namelyculture and religion. Culture is a very important traditional wedding ceremony, because traditional marriage will still exist in a cultured society. The traditional marriage system of the Lamaholot ethnic group has a hereditary culture, namely the traditional marriage of belis bala. Belis bala is a sacred aspect for the Lamaholot ethnicity, where men cannot undermine a woman's dignity. This study aims to determine: (a) The perspective of the younger generation on the belis bala in the Lamaholot ethnic traditional marriage system and (b) the inculturation of the church towards the traditional Laamaholot ethnic marriage system. Supported by Marcel Mauss' theory of reciprocity in compiling this research and the research model was made with the type of qualitative research, including data collection by observation, interviews, literature study and data analysis to process research results. The results of this study indicate the perspective of the younger generation, namely, there are some of them who feel heavy belis bala and want relief, but some others consider the traditional marriage system of belis bala as a challenge for them to be able to have their idol girl. They still want to maintain this traditional belis bala marriage system. The church sees this as a tradition that must be maintained. The church follows the regulations made by the village government for the preservation of the belis bala marriage system.
Rukun Kifayah Islam (RKI) Masjid Agung Ibnu Batutah Kompleks Puja Mandala sebagai Ikatan Sosial Keagamaan Masyarakat Multikultural Jabaru Ramadhan; . Aliffiati; Ni Made Wiasti
Sunari Penjor : Jurnal of Anthropology Vol 6 No 2 (2022)
Publisher : Department of Anthropology Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (154.413 KB) | DOI: 10.24843/SP.2022.v6.i02.p01

Abstract

The people around the Puja Mandala complex are religious people who respect each other, the congregation of the Great Ibn Battuta mosque also plays an important role as a forming medium that can reflect the general public the importance of the value of harmony in pluralistic life. As a commitment to maintaining harmony and an attitude of religious tolerance, the efforts made by the Great Mosque of Ibn Battuta include maintaining personal and institutional relationships with other religious parties. This is very important because religious leaders become role models in attitude. This study uses descriptive qualitative research methods using Functionalism Theory, Multiculturalism Theory, and Organizational Theory. The results of this study reveal that the plural society in the Puja Mandala complex has good communication relations, especially between Muslims and non-Muslims who maintain harmony with each other as a form of religious harmony.
Pante Gola Sebagai Kearifan Lokal Masyarakat Dusun Lambur, Desa Pangga, Kecamatan Kuwus, Kabupaten Manggarai Barat Nusa Tenggara Timur Erni Arsi Sarina Joni; I Ketut Kaler; Aliffiati .
Sunari Penjor : Jurnal of Anthropology Vol 5 No 2 (2021)
Publisher : Department of Anthropology Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.538 KB) | DOI: 10.24843/SP.2021.v5.i02.p06

Abstract

Pante gola is a job of tapping palm mayang bunches to get sap which will be processed into brown sugar, either in the form of sticks (gola malang) or in the form of flour (gola rebok). Pante gola is also a tradition, regional identity and is also one of the main and side livelihoods for the people of Lambur, Pangga Village, Kuwus District, West Manggarai Regency, East Nusa Tenggara. Pante gola is very unique because this work has social values, culture, beliefs, myths, rituals/ceremonies and local wisdom that are people's beliefs. Pante gola also has many benefits in daily life, in addition to the sugar products that can be used as food sweeteners, drinks and herbal medicines for certain diseases, the sugar products can also be sold to increase people's income, so as to realize social welfare for the people of Lambur Hamlet. The theory used in this study is the theory of cultural value orientation from Kluchkon. The concepts used in this study are the concept of pante gola, local wisdom and influence. This study uses a qualitative method with an ethnographic research model, while the data sources are primary data sources and secondary data sources. Data collection techniques include observation, interviews and literature study. The researcher became the main research instrument assisted by interview guides, voice recording equipment, cameras and stationery.