Roswiyani
Universitas Tarumanagara

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Hubungan Kesepian dengan Parasocial Relationship pada Dewasa Awal di Jabodetabek Nabila Putri Harbowo; Roswiyani
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 4 No. 1: Desember 2024
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v4i1.6282

Abstract

Masa dewasa awal merupakan fase transisi antara masa remaja dan dewasa yang terjadi pada usia 18 hingga 25 tahun, di mana individu menghadapi berbagai tantangan hidup seperti adaptasi terhadap lingkungan baru, pengelolaan keuangan, pembinaan hubungan intim, serta perkembangan karier. Ketidakmampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan ini dapat menimbulkan masalah kesehatan mental, salah satunya adalah kesepian. Salah satu strategi untuk mengurangi kesepian adalah melalui hubungan parasosial, yaitu hubungan satu arah di mana individu merasakan ikatan emosional dengan selebritas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kesepian dan hubungan parasosial pada dewasa awal. Subjek penelitian adalah dewasa awal berusia 18 hingga 25 tahun, berdomisili di Jabodetabek, menggemari selebritas, berstatus mahasiswa atau bekerja. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis studi korelasi dan teknik purposive sampling. Data diperoleh secara online melalui Google Form, menggunakan UCLA Loneliness Scale Version 3 (UCLA-LS3) untuk mengukur kesepian dan Celebrity Attitude Scale (CAS) untuk mengukur hubungan parasosial. Berdasarkan hasil analisis terhadap 437 partisipan, mayoritas berusia 21 tahun dan berstatus mahasiswa, ditemukan bahwa 57% partisipan mengalami kesepian dalam kategori sedang dan 73,2% memiliki hubungan parasosial dalam kategori sedang. Uji korelasi menunjukkan adanya hubungan signifikan antara kesepian dan intensitas hubungan parasosial (r = 0,23, p = 0,000 < 0,05), yang mengindikasikan bahwa semakin tinggi tingkat kesepian, semakin intens hubungan parasosial yang terbentuk.
Hubungan Perceived Stress dengan Emotional Eating pada Mahasiswi Tingkat Akhir di Jakarta Rafela Anandita; Roswiyani
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 4 No. 1: Desember 2024
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v4i1.6352

Abstract

Salah satu reaksi yang paling sering terjadi pada mahasiswa perempuan ketika mengalami stres adalah adanya peningkatan nafsu makan yang membuat pola makan menjadi tidak terkontrol. Perilaku makan secara berlebihan sebagai respon terhadap emosi negatif seperti stres, depresi, dan cemas disebut dengan emotional eating. Jika dibiarkan dalam jangka panjang, perilaku ini dapat menimbulkan dampak negatif bagi tubuh dan mental. Dengan memperhitungkan dampak negatif yang dapat disebabkan oleh emotional eating, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara perceived stress dengan emotional eating pada mahasiswi tingkat akhir di Jakarta. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 200 mahasiswi tingkat akhir di perguruan tinggi negeri maupun swasta di Jakarta dengan rentang usia 21-25 tahun. Penelitian ini menggunakan Salzburg Emotional Eating Scale (SEES) dan Perceived Stress Scale (PSS-10) sebagai instrumen pengukuran. Analisis data dilakukan dengan menggunakan program SPSS versi 25 untuk Windows melalui teknik korelasi Spearman’s rho. Hasil menunjukkan adanya korelasi positif yang signifikan antara perceived stress dan perilaku emotional eating (r = .693, p=.000). Temuan ini mengindikasikan bahwa peningkatan perceived stress berhubungan dengan meningkatnya frekuensi emotional eating pada mahasiswi tingkat akhir di Jakarta. Sebanyak 158 (79%) mahasiswi mengalami tingkat perceived stress sedang, dan 145 (72.5%) mahasiswi menunjukkan tingkat emotional eating sedang.
Pengaruh Attachment Style dan Kepuasan Hubungan Romantis pada Dewasa Awal yang Mengalami Perceraian Orang Tua Endang Citra Kumala Putri; Roswiyani
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 11 No. 02 (2025): Volume 11 No. 02 Juni 2025 In Build
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v11i02.7168

Abstract

Fenomena perceraian orang tua di Indonesia yang terus meningkat memengaruhi perkembangan psikososial anak, termasuk pola keterikatan (attachment style) dan kepuasan hubungan romantis di masa dewasa awal. Permasalahan ini penting diteliti karena individu dengan pengalaman perceraian orang tua berisiko memiliki insecure attachment yang berdampak pada kualitas hubungan romantis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh attachment style terhadap kepuasan hubungan romantis pada dewasa awal yang mengalami perceraian orang tua. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan metode non-eksperimental. Populasi penelitian adalah individu dewasa awal berusia 19–40 tahun di Indonesia yang sedang menjalin hubungan pacaran atau pernikahan minimal 6 bulan dan memiliki riwayat perceraian orang tua, dengan jumlah partisipan sebanyak 216 orang yang diperoleh melalui purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan instrumen The Experience in Close Relationship-Revised (ECR-R) dan Relationship Assessment Scale (RAS) melalui survei daring, kemudian dianalisis menggunakan uji validitas, reliabilitas, normalitas, linearitas, korelasi Pearson, regresi linier sederhana, ANOVA, dan uji beda (t-test) dengan bantuan SPSS 25. Hasil penelitian menunjukkan bahwa attachment style berpengaruh signifikan terhadap kepuasan hubungan romantis dengan kontribusi sebesar 43,9%, di mana dimensi avoidant attachment memiliki pengaruh paling kuat (57,1%) dibanding anxious attachment (17,2%). Uji beda juga menunjukkan terdapat perbedaan signifikan attachment style dan kepuasan hubungan berdasarkan status hubungan (berpacaran dan menikah). Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi praktisi psikologi dalam membantu individu memahami pola keterikatan dan meningkatkan kualitas hubungan romantis meskipun memiliki latar belakang keluarga bercerai.