Isvan Taufik
Dinas PUPR Provinsi Banten

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Penilaian Tingkat Keterwujudan Pola Ruang Provinsi Banten sebagai Instrumen Evaluasi RTRW Resti Meliana Sari; Isvan Taufik; Bima Setiawan; Endang Kusnadi; Abdul Hatta
Jendela Kota: Jurnal Perencanaan dan Pengembangan Wilayah dan Kota Vol. 2 No. 2 (2025): August 2025
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/jekota.v2i2.129

Abstract

ABSTRAK Penataan ruang berperan penting dalam mengarahkan pemanfaatan ruang agar selaras dengan prinsip pembangunan berkelanjutan, sehingga evaluasi keterwujudan pola ruang menjadi instrumen utama untuk menilai konsistensi antara rencana dan implementasi RTRW. Penelitian ini bertujuan menilai tingkat kesesuaian pemanfaatan ruang dan keterwujudan pola ruang Provinsi Banten berdasarkan RTRW yang telah diselaraskan dengan Undang-Undang Cipta Kerja, dengan memasukkan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (KKPR) sebagai indikator analisis. Metode yang digunakan adalah analisis spasial berbasis Sistem Informasi Geografis (GIS) melalui overlay data pola ruang, penggunaan lahan, KKPR, pertanahan, dan kehutanan, yang mencakup penilaian perwujudan kawasan lindung dan kawasan budidaya. Hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat kesesuaian pemanfaatan ruang di Provinsi Banten sangat tinggi, mencapai 96,95% dari total kawasan. Perwujudan Kawasan Lindung tergolong baik dengan capaian 87,49%, meskipun masih terdapat ketidaksesuaian pada kawasan mangrove, perlindungan setempat, dan perlindungan kawasan bawahan. Sebaliknya, perwujudan Kawasan Budidaya masih rendah, yaitu 37,70%, terutama pada kawasan transportasi, industri, dan permukiman. Temuan ini menunjukkan bahwa implementasi RTRW di Provinsi Banten lebih efektif dalam menjaga fungsi lindung dibandingkan mendorong realisasi kawasan budidaya. Oleh karena itu, direkomendasikan penguatan pengendalian dan pemulihan fungsi kawasan lindung yang bermasalah serta percepatan perwujudan kawasan budidaya strategis melalui sinkronisasi RTRW dengan rencana sektoral, optimalisasi KKPR, dan pemantauan berbasis GIS.   Kata Kunci: Kesesuaian Pemanfaatan Ruang, Perwujudan Pola Ruang, KKPR, Sistem Informasi Geografis (GIS) ABSTRACT Spatial planning plays a critical role in guiding land use in alignment with the principles of sustainable development, making the evaluation of spatial pattern implementation an essential tool for assessing the consistency between plans and the execution of Regional Spatial Plans (RTRW). This study aims to assess the level of land-use compliance and the implementation of spatial patterns in Banten Province based on the RTRW, which has been harmonized with the Omnibus Law on Job Creation, incorporating Land Use Compliance (KKPR) as an analytical indicator. The methodology employs spatial analysis using Geographic Information Systems (GIS) through overlaying data on spatial patterns, land use, KKPR, land tenure, and forestry, encompassing assessments of both protected areas and utilization zones. The analysis reveals that land-use compliance in Banten Province is very high, covering 96.95% of the total area. The implementation of Protected Areas is generally strong, achieving 87.49%, although discrepancies remain in mangrove ecosystems, local protection zones, and downstream protection areas. In contrast, the implementation of Utilization Areas remains low at 37.70%, particularly in transportation, industrial, and residential zones. These findings indicate that the RTRW in Banten Province is more effective in safeguarding protected functions than in facilitating the realization of utilization areas. Accordingly, it is recommended to strengthen the management and restoration of underperforming protected areas and accelerate the realization of strategic utilization zones through synchronization of the RTRW with sectoral plans, optimization of KKPR, and GIS-based monitoring.   Keywords: Land-Use Compliance, Spatial Pattern Implementation, Land Use Compliance Assessment (KKPR), Geographic Information Systems (GIS)
Strategi Tata Kelola Integrasi Infrastruktur Lintas Daerah Berbasis Delineasi KSP Kawasan Perbatasan WKP I Provinsi Banten Isvan Taufik; Japar; Nunuk Dwi Maryati; Resti Meliana Sari; Eneng Dayu Saidah; Fidelis Awig Atmoko
Jendela Kota: Jurnal Perencanaan dan Pengembangan Wilayah dan Kota Vol. 3 No. 1 (2026): February 2026
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/jekota.v3i1.150

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan menetapkan delineasi Kawasan Strategis Provinsi (KSP) Kawasan Perbatasan Wilayah Kerja Pembangunan (WKP) I Provinsi Banten serta merumuskan strategi tata kelola integrasi infrastruktur lintas daerah yang operasional. Pendekatan yang digunakan adalah mixed-method melalui (i) analisis isi kebijakan penataan ruang lintas level (nasional-pulau-KSN-provinsi-kabupaten/kota), (ii) analisis ekonomi regional (LQ, SSA, dan tipologi Klassen) berbasis data PDRB 2020-2024, serta (iii) penilaian multikriteria menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP) dan uji sensitivitas untuk memeringkat 29 koridor/pasangan kecamatan perbatasan sebagai alternatif prioritas. Hasil menunjukkan WKP I merupakan kontributor utama perekonomian Banten (±58,21% PDRB provinsi) dengan polarisasi fungsi yang saling melengkapi: Kabupaten Tangerang berfungsi sebagai pusat industri manufaktur, Kota Tangerang sebagai pusat logistik, dan Kota Tangerang Selatan berfungsi sebagai pusat jasa, permukiman, dan inovasi. AHP menempatkan Potensi Ekonomi sebagai penentu dominan (w=0,724), diikuti Sistem Transportasi (w=0,193) dan Fungsi Peruntukan Ruang (w=0,083). Berdasarkan pemeringkatan 29 koridor perbatasan, koridor prioritas yang memiliki nilai strategis logistik, industri, niaga, dan kawasan berbasis transit adalah Benda-Kosambi, Jatiuwung-Curug-Pasarkemis, Ciledug-Pondok Aren, dan Serpong-Pagedangan-Cisauk. Koridor-koridor tersebut konsisten pada uji sensitivitas bobot, sehingga layak menjadi fokus penahapan program. Delineasi akhir membagi kawasan menjadi empat tipologi yang membedakan Kawasan Pusat Pertumbuhan (KPP) serta Kawasan Perbatasan Lainnya sebagai sasaran paket layanan dasar minimum. Penelitian merekomendasikan percepatan penetapan Ranpergub KSP WKP I yang mengikat kelembagaan koordinasi lintas kabupaten/kota, penahapan program 2026-2036, skema pembiayaan multi-sumber, dan indikator kinerja bersama agar integrasi infrastruktur dapat diimplementasikan secara terukur.  Kata Kunci: Analytical Hierarchy Process; Integrasi Infrastruktur; Kawasan Strategis Provinsi (KSP); Kawasan Perbatasan; Ranpergub.   ABSTRACT This study aims to delineate the Provincial Strategic Area (KSP) of the WKP I Border Area in Banten Province and to formulate an operational governance strategy for cross-jurisdiction infrastructure integration. A mixed-method approach is employed through: (i) content analysis of spatial planning policies across multiple levels (national-island-national strategic metropolitan area/KSN-provincial-district/city); (ii) regional economic analysis (Location Quotient, Shift-Share Analysis, and Klassen typology) using GRDP data for 2020-2024; and (iii) multi-criteria assessment using the Analytic Hierarchy Process (AHP) with sensitivity testing to rank 29 border-corridor alternatives (pairs of adjacent subdistricts) by priority. The results indicate that WKP I is the principal contributor to Banten’s economy (≈58.21% of provincial GRDP) with complementary functional polarization: Tangerang Regency serves as a manufacturing-industrial core, Tangerang City as a logistics hub, and South Tangerang City as a center of services, residential development, and innovation. AHP identifies Economic Potential as the dominant criterion (w=0.724), followed by the Transport System (w=0.193) and Spatial Land-Use Function (w=0.083). Based on the ranking of 29 border corridors, the priority corridors with strategic roles in logistics, industry, commerce, and transit-oriented development are Benda-Kosambi, Jatiuwung-Curug-Pasarkemis, Ciledug-Pondok Aren, and Serpong-Pagedangan-Cisauk; these corridors remain consistent under weight-sensitivity scenarios, supporting their use as the focus for program phasing. The final delineation classifies the area into four typologies that distinguish Growth Center Areas (KPP) and other border areas requiring a minimum basic service package. The study recommends accelerating the enactment of a Governor Regulation for KSP WKP I to establish a binding inter-local coordination institution, a phased program framework for 2026-2036, multi-source financing schemes, and shared performance indicators to enable measurable implementation of integrated infrastructure across jurisdictions.  Keywords: Analytic Hierarchy Process; Border area; Infrastructure Integration; Governor Regulation; Provincial Strategic Area (KSP).
Penilaian Tingkat Keterwujudan Pola Ruang Provinsi Banten sebagai Instrumen Evaluasi RTRW Resti Meliana Sari; Isvan Taufik; Bima Setiawan; Endang Kusnadi; Abdul Hatta
Jendela Kota: Jurnal Perencanaan dan Pengembangan Wilayah dan Kota Vol. 2 No. 2 (2025): August 2025
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/jekota.v2i2.129

Abstract

ABSTRAK Penataan ruang berperan penting dalam mengarahkan pemanfaatan ruang agar selaras dengan prinsip pembangunan berkelanjutan, sehingga evaluasi keterwujudan pola ruang menjadi instrumen utama untuk menilai konsistensi antara rencana dan implementasi RTRW. Penelitian ini bertujuan menilai tingkat kesesuaian pemanfaatan ruang dan keterwujudan pola ruang Provinsi Banten berdasarkan RTRW yang telah diselaraskan dengan Undang-Undang Cipta Kerja, dengan memasukkan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (KKPR) sebagai indikator analisis. Metode yang digunakan adalah analisis spasial berbasis Sistem Informasi Geografis (GIS) melalui overlay data pola ruang, penggunaan lahan, KKPR, pertanahan, dan kehutanan, yang mencakup penilaian perwujudan kawasan lindung dan kawasan budidaya. Hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat kesesuaian pemanfaatan ruang di Provinsi Banten sangat tinggi, mencapai 96,95% dari total kawasan. Perwujudan Kawasan Lindung tergolong baik dengan capaian 87,49%, meskipun masih terdapat ketidaksesuaian pada kawasan mangrove, perlindungan setempat, dan perlindungan kawasan bawahan. Sebaliknya, perwujudan Kawasan Budidaya masih rendah, yaitu 37,70%, terutama pada kawasan transportasi, industri, dan permukiman. Temuan ini menunjukkan bahwa implementasi RTRW di Provinsi Banten lebih efektif dalam menjaga fungsi lindung dibandingkan mendorong realisasi kawasan budidaya. Oleh karena itu, direkomendasikan penguatan pengendalian dan pemulihan fungsi kawasan lindung yang bermasalah serta percepatan perwujudan kawasan budidaya strategis melalui sinkronisasi RTRW dengan rencana sektoral, optimalisasi KKPR, dan pemantauan berbasis GIS.   Kata Kunci: Kesesuaian Pemanfaatan Ruang, Perwujudan Pola Ruang, KKPR, Sistem Informasi Geografis (GIS) ABSTRACT Spatial planning plays a critical role in guiding land use in alignment with the principles of sustainable development, making the evaluation of spatial pattern implementation an essential tool for assessing the consistency between plans and the execution of Regional Spatial Plans (RTRW). This study aims to assess the level of land-use compliance and the implementation of spatial patterns in Banten Province based on the RTRW, which has been harmonized with the Omnibus Law on Job Creation, incorporating Land Use Compliance (KKPR) as an analytical indicator. The methodology employs spatial analysis using Geographic Information Systems (GIS) through overlaying data on spatial patterns, land use, KKPR, land tenure, and forestry, encompassing assessments of both protected areas and utilization zones. The analysis reveals that land-use compliance in Banten Province is very high, covering 96.95% of the total area. The implementation of Protected Areas is generally strong, achieving 87.49%, although discrepancies remain in mangrove ecosystems, local protection zones, and downstream protection areas. In contrast, the implementation of Utilization Areas remains low at 37.70%, particularly in transportation, industrial, and residential zones. These findings indicate that the RTRW in Banten Province is more effective in safeguarding protected functions than in facilitating the realization of utilization areas. Accordingly, it is recommended to strengthen the management and restoration of underperforming protected areas and accelerate the realization of strategic utilization zones through synchronization of the RTRW with sectoral plans, optimization of KKPR, and GIS-based monitoring.   Keywords: Land-Use Compliance, Spatial Pattern Implementation, Land Use Compliance Assessment (KKPR), Geographic Information Systems (GIS)
Strategi Tata Kelola Integrasi Infrastruktur Lintas Daerah Berbasis Delineasi KSP Kawasan Perbatasan WKP I Provinsi Banten Isvan Taufik; Japar Japar; Nunuk Dwi Maryati; Resti Meliana Sari; Eneng Dayu Saidah; Fidelis Awig Atmoko
Jendela Kota: Jurnal Perencanaan dan Pengembangan Wilayah dan Kota Vol. 3 No. 1 (2026): February 2026
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/jekota.v3i1.150

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan menetapkan delineasi Kawasan Strategis Provinsi (KSP) Kawasan Perbatasan Wilayah Kerja Pembangunan (WKP) I Provinsi Banten serta merumuskan strategi tata kelola integrasi infrastruktur lintas daerah yang operasional. Pendekatan yang digunakan adalah mixed-method melalui (i) analisis isi kebijakan penataan ruang lintas level (nasional-pulau-KSN-provinsi-kabupaten/kota), (ii) analisis ekonomi regional (LQ, SSA, dan tipologi Klassen) berbasis data PDRB 2020-2024, serta (iii) penilaian multikriteria menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP) dan uji sensitivitas untuk memeringkat 29 koridor/pasangan kecamatan perbatasan sebagai alternatif prioritas. Hasil menunjukkan WKP I merupakan kontributor utama perekonomian Banten (±58,21% PDRB provinsi) dengan polarisasi fungsi yang saling melengkapi: Kabupaten Tangerang berfungsi sebagai pusat industri manufaktur, Kota Tangerang sebagai pusat logistik, dan Kota Tangerang Selatan berfungsi sebagai pusat jasa, permukiman, dan inovasi. AHP menempatkan Potensi Ekonomi sebagai penentu dominan (w=0,724), diikuti Sistem Transportasi (w=0,193) dan Fungsi Peruntukan Ruang (w=0,083). Berdasarkan pemeringkatan 29 koridor perbatasan, koridor prioritas yang memiliki nilai strategis logistik, industri, niaga, dan kawasan berbasis transit adalah Benda-Kosambi, Jatiuwung-Curug-Pasarkemis, Ciledug-Pondok Aren, dan Serpong-Pagedangan-Cisauk. Koridor-koridor tersebut konsisten pada uji sensitivitas bobot, sehingga layak menjadi fokus penahapan program. Delineasi akhir membagi kawasan menjadi empat tipologi yang membedakan Kawasan Pusat Pertumbuhan (KPP) serta Kawasan Perbatasan Lainnya sebagai sasaran paket layanan dasar minimum. Penelitian merekomendasikan percepatan penetapan Ranpergub KSP WKP I yang mengikat kelembagaan koordinasi lintas kabupaten/kota, penahapan program 2026-2036, skema pembiayaan multi-sumber, dan indikator kinerja bersama agar integrasi infrastruktur dapat diimplementasikan secara terukur.  Kata Kunci: Analytical Hierarchy Process; Integrasi Infrastruktur; Kawasan Strategis Provinsi (KSP); Kawasan Perbatasan; Ranpergub.   ABSTRACT This study aims to delineate the Provincial Strategic Area (KSP) of the WKP I Border Area in Banten Province and to formulate an operational governance strategy for cross-jurisdiction infrastructure integration. A mixed-method approach is employed through: (i) content analysis of spatial planning policies across multiple levels (national-island-national strategic metropolitan area/KSN-provincial-district/city); (ii) regional economic analysis (Location Quotient, Shift-Share Analysis, and Klassen typology) using GRDP data for 2020-2024; and (iii) multi-criteria assessment using the Analytic Hierarchy Process (AHP) with sensitivity testing to rank 29 border-corridor alternatives (pairs of adjacent subdistricts) by priority. The results indicate that WKP I is the principal contributor to Banten’s economy (≈58.21% of provincial GRDP) with complementary functional polarization: Tangerang Regency serves as a manufacturing-industrial core, Tangerang City as a logistics hub, and South Tangerang City as a center of services, residential development, and innovation. AHP identifies Economic Potential as the dominant criterion (w=0.724), followed by the Transport System (w=0.193) and Spatial Land-Use Function (w=0.083). Based on the ranking of 29 border corridors, the priority corridors with strategic roles in logistics, industry, commerce, and transit-oriented development are Benda-Kosambi, Jatiuwung-Curug-Pasarkemis, Ciledug-Pondok Aren, and Serpong-Pagedangan-Cisauk; these corridors remain consistent under weight-sensitivity scenarios, supporting their use as the focus for program phasing. The final delineation classifies the area into four typologies that distinguish Growth Center Areas (KPP) and other border areas requiring a minimum basic service package. The study recommends accelerating the enactment of a Governor Regulation for KSP WKP I to establish a binding inter-local coordination institution, a phased program framework for 2026-2036, multi-source financing schemes, and shared performance indicators to enable measurable implementation of integrated infrastructure across jurisdictions.  Keywords: Analytic Hierarchy Process; Border area; Infrastructure Integration; Governor Regulation; Provincial Strategic Area (KSP).