Jendela Kota Jurnal Perencanaan dan Pengembangan Wilayah dan Kota
Vol. 3 No. 1 (2026): February 2026

Strategi Tata Kelola Integrasi Infrastruktur Lintas Daerah Berbasis Delineasi KSP Kawasan Perbatasan WKP I Provinsi Banten

Isvan Taufik (Dinas PUPR Provinsi Banten)
Japar Japar (Dinas PUPR Provinsi Banten)
Nunuk Dwi Maryati (Dinas PUPR Provinsi Banten)
Resti Meliana Sari (Dinas PUPR Provinsi Banten)
Eneng Dayu Saidah (Tenaga Ahli Perencanaan Wilayah dan Kota)
Fidelis Awig Atmoko (Tenaga Ahli Geografi)



Article Info

Publish Date
05 Jul 2026

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan menetapkan delineasi Kawasan Strategis Provinsi (KSP) Kawasan Perbatasan Wilayah Kerja Pembangunan (WKP) I Provinsi Banten serta merumuskan strategi tata kelola integrasi infrastruktur lintas daerah yang operasional. Pendekatan yang digunakan adalah mixed-method melalui (i) analisis isi kebijakan penataan ruang lintas level (nasional-pulau-KSN-provinsi-kabupaten/kota), (ii) analisis ekonomi regional (LQ, SSA, dan tipologi Klassen) berbasis data PDRB 2020-2024, serta (iii) penilaian multikriteria menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP) dan uji sensitivitas untuk memeringkat 29 koridor/pasangan kecamatan perbatasan sebagai alternatif prioritas. Hasil menunjukkan WKP I merupakan kontributor utama perekonomian Banten (±58,21% PDRB provinsi) dengan polarisasi fungsi yang saling melengkapi: Kabupaten Tangerang berfungsi sebagai pusat industri manufaktur, Kota Tangerang sebagai pusat logistik, dan Kota Tangerang Selatan berfungsi sebagai pusat jasa, permukiman, dan inovasi. AHP menempatkan Potensi Ekonomi sebagai penentu dominan (w=0,724), diikuti Sistem Transportasi (w=0,193) dan Fungsi Peruntukan Ruang (w=0,083). Berdasarkan pemeringkatan 29 koridor perbatasan, koridor prioritas yang memiliki nilai strategis logistik, industri, niaga, dan kawasan berbasis transit adalah Benda-Kosambi, Jatiuwung-Curug-Pasarkemis, Ciledug-Pondok Aren, dan Serpong-Pagedangan-Cisauk. Koridor-koridor tersebut konsisten pada uji sensitivitas bobot, sehingga layak menjadi fokus penahapan program. Delineasi akhir membagi kawasan menjadi empat tipologi yang membedakan Kawasan Pusat Pertumbuhan (KPP) serta Kawasan Perbatasan Lainnya sebagai sasaran paket layanan dasar minimum. Penelitian merekomendasikan percepatan penetapan Ranpergub KSP WKP I yang mengikat kelembagaan koordinasi lintas kabupaten/kota, penahapan program 2026-2036, skema pembiayaan multi-sumber, dan indikator kinerja bersama agar integrasi infrastruktur dapat diimplementasikan secara terukur.  Kata Kunci: Analytical Hierarchy Process; Integrasi Infrastruktur; Kawasan Strategis Provinsi (KSP); Kawasan Perbatasan; Ranpergub.   ABSTRACT This study aims to delineate the Provincial Strategic Area (KSP) of the WKP I Border Area in Banten Province and to formulate an operational governance strategy for cross-jurisdiction infrastructure integration. A mixed-method approach is employed through: (i) content analysis of spatial planning policies across multiple levels (national-island-national strategic metropolitan area/KSN-provincial-district/city); (ii) regional economic analysis (Location Quotient, Shift-Share Analysis, and Klassen typology) using GRDP data for 2020-2024; and (iii) multi-criteria assessment using the Analytic Hierarchy Process (AHP) with sensitivity testing to rank 29 border-corridor alternatives (pairs of adjacent subdistricts) by priority. The results indicate that WKP I is the principal contributor to Banten’s economy (≈58.21% of provincial GRDP) with complementary functional polarization: Tangerang Regency serves as a manufacturing-industrial core, Tangerang City as a logistics hub, and South Tangerang City as a center of services, residential development, and innovation. AHP identifies Economic Potential as the dominant criterion (w=0.724), followed by the Transport System (w=0.193) and Spatial Land-Use Function (w=0.083). Based on the ranking of 29 border corridors, the priority corridors with strategic roles in logistics, industry, commerce, and transit-oriented development are Benda-Kosambi, Jatiuwung-Curug-Pasarkemis, Ciledug-Pondok Aren, and Serpong-Pagedangan-Cisauk; these corridors remain consistent under weight-sensitivity scenarios, supporting their use as the focus for program phasing. The final delineation classifies the area into four typologies that distinguish Growth Center Areas (KPP) and other border areas requiring a minimum basic service package. The study recommends accelerating the enactment of a Governor Regulation for KSP WKP I to establish a binding inter-local coordination institution, a phased program framework for 2026-2036, multi-source financing schemes, and shared performance indicators to enable measurable implementation of integrated infrastructure across jurisdictions.  Keywords: Analytic Hierarchy Process; Border area; Infrastructure Integration; Governor Regulation; Provincial Strategic Area (KSP).

Copyrights © 2026






Journal Info

Abbrev

jekota

Publisher

Subject

Environmental Science Social Sciences Transportation

Description

Jurnal Jendela Kota is an academic journal that publishes scientific research in the field of regional and urban planning. The journal follows a peer-reviewed process, meaning that each submitted article undergoes evaluation by independent and qualified experts in the field. Jekota is published ...