Bayam (Amaranthus sp.) merupakan komoditas sayuran daun yang mudah dibudidayakan dan banyak diusahakan di pekarangan maupun lahan pertanian warga Dusun IV, Desa Faodoro Lauru, Kecamatan Hiliduho, Kabupaten Nias. Penanganan pascapanen yang dilakukan masih terbatas pada penjualan dan konsumsi segar sehingga nilai ekonominya rendah, mengingat daun bayam mudah layu dalam hitungan jam setelah panen. Kegiatan pengabdian ini bertujuan mendiseminasikan teknologi pengolahan pascapanen sederhana kepada kelompok ibu rumah tangga melalui produksi keripik bayam sebagai pangan fungsional bernilai tambah. Metode pelaksanaan mengintegrasikan sosialisasi partisipatif, demonstrasi teknis, dan pendampingan berkelanjutan melalui empat tahap, yaitu persiapan, demonstrasi produksi, pendampingan pengemasan-pemasaran, dan evaluasi. Daun bayam muda dilapisi adonan tepung beras dan tepung terigu berbumbu rempah, lalu digoreng hingga renyah tanpa bahan pengawet sintetis. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan kompetensi peserta dalam sortasi dan grading bahan baku, formulasi adonan untuk tekstur renyah dan stabilitas produk, serta strategi pengemasan dan branding sederhana yang mendukung daya saing pasar. Produk keripik bayam berpotensi dikembangkan menjadi unit usaha rumah tangga yang meningkatkan pendapatan keluarga sekaligus mendorong diversifikasi konsumsi sayuran, termasuk bagi ibu hamil yang membutuhkan asupan zat besi untuk mencegah anemia defisiensi besi. Kegiatan ini dapat menjadi model pengembangan agroindustri skala rumah tangga yang berpotensi direplikasi di wilayah pedesaan lain dengan karakteristik agroekologi serupa