This study investigates the incorporation of Bugis-Makassar's local wisdom values into content creators’ digital communication ethics. In the contemporary era, where social media serves as a platform for expression and community building, this study sought to develop a communication ethics model grounded in local values. Values such as "sipakatau" (mutual respect), "siri' na pacce" (honor and empathy), "lempu'" (honesty), "sipakalebbi" (mutual respect), and "sipakainge" (mutual reminder) are identified as foundational to local ethics. Using a descriptive qualitative approach, this research integrates literature analysis, interviews, and observations of three prominent content creators in Makassar who are active on TikTok and YouTube. An analysis was conducted on ten pieces of content, with three selected for their strong correlations with customary genres. The study revealed variations in ethics applications among content creators and a positive correlation between local wisdom values and audience engagement. The findings indicate that applying Bugis-Makassar's local wisdom values to digital communication reinforces cultural identity and fosters community solidarity. The resulting ethical model balances individual expression with social responsibility. Content creators face challenges when balancing popularity with traditional values. This study contributes to the understanding of the revitalization of traditional values in modern technology, affirming the relevance of local wisdom in shaping responsible digital communication ethics.  Penelitian ini mengkaji integrasi nilai-nilai kearifan lokal Bugis-Makassar dalam etika komunikasi digital kreator konten. Di era media sosial sebagai sarana ekspresi ide dan membangun komunitas, penelitian bertujuan mengembangkan model etika komunikasi berbasis nilai lokal yang masih relevan untuk komunikasi bermartabat dan inklusif. Nilai-nilai seperti "sipakatau" (saling menghormati), "siri' na pacce" (kehormatan dan empati), "lempu'" (kejujuran), "sipakalebbi" (saling memuliakan), dan "sipakainge" (saling mengingatkan) diidentifikasi sebagai fondasi etika lokal yang masih sangat relevan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, mengintegrasikan analisis literatur, wawancara mendalam, dan observasi terhadap tiga kreator konten terkemuka di Makassar yang aktif di platform TikTok dan YouTube. Analisis dilakukan pada sepuluh konten dan disarikan menjadi 3 terpilih dengan korelasi kuat dengan genre adat dan perilaku sosial. Penelitian mengungkapkan variasi dalam penerapan etika di antara kreator konten dan korelasi positif antara penerapan nilai kearifan lokal dengan keterlibatan audiens. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan nilai kearifan lokal Bugis-Makassar dalam komunikasi digital tidak hanya memperkuat identitas budaya, tetapi juga membangun kepercayaan dan solidaritas komunitas dalam jaringan. Model etika yang dihasilkan menekankan keseimbangan antara ekspresi individual dan tanggung jawab sosial dalam menciptakan konten bermakna dan bernilai budaya. Kreator konten menghadapi tantangan dalam menyeimbangkan tuntutan popularitas dengan kepatuhan terhadap nilai-nilai tradisional. Penelitian ini berkontribusi pada pemahaman revitalisasi nilai-nilai tradisional dalam konteks teknologi modern, menegaskan relevansi kearifan lokal dalam membentuk etika komunikasi digital yang bertanggung jawab dan mencerminkan kekayaan budaya Indonesia.