Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Community Empowerment Through the Diversification of Rosella Products into Fermented Kombucha Ni Made Ayu Suardani Singapurwa; Aida Firdaus Muhammad Nurul Azmi; A A Made Semariyani; Luh Suriati; I Wayan Sudiarta; Ni Luh Putu Putri Setianingsih; Anak Agung Sagung Manik Chindrawati; Ni Made Defy Janurianti
Unram Journal of Community Service Vol. 7 No. 1 (2026): March
Publisher : Pascasarjana Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/ujcs.v7i1.1347

Abstract

This community service program aimed to enhance the added value of roselle (Hibiscus sabdariffa L.) through the development of kombucha as a functional beverage while empowering the GAPOKWATAN Lumbung Rasa women farmers’ group in Pitra Village, Bali. Prior to the intervention, roselle utilization was limited to dried tea production with low economic value, constrained by limited knowledge, technology, and market access. The program introduced appropriate postharvest technologies, including training in Good Manufacturing Practices (GMP) and Sanitation Standard Operating Procedures (SSOP), fermentation using Symbiotic Culture of Bacteria and Yeast (SCOBY), and product packaging and labeling. Members were also supported with fermentation and packaging equipment to standardize production. Pre- and post-program assessments revealed substantial improvements: hygienic processing increased from 30% to 80%, fermentation skills from 20% to 75%, packaging quality from 25% to 70%, technology adoption from 15% to 85%, and product diversification from 10% to 65%. Beyond technical capacity, the program fostered social empowerment, as women transitioned from supplementary laborers to key innovators and decision-makers in production and marketing. Economically, the group achieved routine production of 10–15 liters of kombucha per week, with an average selling price of IDR 20,000–25,000 per 250 ml bottle, resulting in a 40–50% increase in income compared to previous activities. Environmentally, the process is considered sustainable, as it relies on locally available raw materials without generating hazardous waste. Overall, this initiative demonstrates that roselle kombucha innovation can strengthen community empowerment, gender inclusivity, and local economic sustainability while contributing to functional food development.
Pemberdayaan Petani Alpukat di Desa Pempatan Bali melalui Inovasi Tongkat Panen Teleskopik Cerdas dan Sistem Monitoring Digital I Made Surya Kumara; Gde Wikan Pradnya Dana; Ni Luh Putu Putri Setianingsih
Journal of Community Development Vol. 6 No. 1 (2025): August
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/comdev.v6i1.1733

Abstract

Pertanian memiliki peran strategis dalam perekonomian nasional, khususnya di negara agraris seperti Indonesia. Salah satu komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi adalah alpukat, yang di Bali banyak dibudidayakan di Desa Pempatan, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem. Desa ini dikenal sebagai sentra produksi alpukat dengan hasil melimpah, namun masih menghadapi sejumlah permasalahan, seperti metode panen tradisional yang berisiko tinggi terhadap keselamatan kerja, terdapatnya tingkat kerusakan buah akibat jatuh, serta ketiadaan sistem pencatatan digital yang akurat untuk mendukung pengambilan keputusan. Program pengabdian ini dirancang untuk memberdayakan petani melalui penerapan inovasi tongkat panen teleskopik cerdas dan sistem monitoring panen berbasis web. Evaluasi efektivitas program dilakukan dengan metode pre-test dan post-test terhadap 16 kelompok tani. Hasil analisis menunjukkan adanya peningkatan pada aspek produksi, ditandai dengan percepatan waktu panen (56,2% responden menilai panen menjadi jauh lebih cepat), penurunan tingkat kesulitan (68,8% menyatakan cukup mudah dan 31,2% sangat mudah), serta berkurangnya kerusakan buah (87,5% responden melaporkan kerusakan sangat berkurang). Pada aspek manajemen, terjadi peningkatan kemampuan pencatatan digital, dengan 50% responden mulai mandiri atau dengan sedikit bantuan, serta penguatan persepsi manfaat pencatatan untuk akuntabilitas usaha tani. Temuan ini menunjukkan bahwa inovasi teknologi panen mampu meningkatkan efisiensi, kualitas hasil, dan tata kelola produksi alpukat.